Balitbang LHK Aek Nauli

Penelitian 2019

No Judul Penelitian Pelaksana Penelitian Abstrak/Ringkasan Penelitian
1. Palatabilitas Pakan Rusa Di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Sriyanti P Barus, S. Hut., MP, Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Pidin Mudiana, A.Md, Erwin P Manik
Lihat Selengkapnya:

Rusa sambar (Rusa unicolor) merupakan salah satu rusa asli Indonesia yang memerlukan upaya konservasi secara ex-situ agar populasinya tetap lestari. Dalam rangka mendukung upaya konservasi rusa sambar melalui penangkaran maka perlu dilakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk mengetahui tingkat kesukaan/palatabilitas rusa sambar terhadap pakan yang diberikan. Kegiatan pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui palatabilitas rusa sambar terhadap pakan yang diberikan. Lokasi pengembangan dilaksanakan di KHDTK Aek Nauli. Jenis pakan yang diujicobakan sebanyak 5 jenis dengan berat masing-masing jenis sebesar 1,5 kg. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah cafetaria feeding. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Legetan dan Kaliandra dan yang terendah adalah Omak-omak dan Humbil. Pada rusa jantan Jonggi jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Kaliandra (17,02%) dan yang terendah adalah Omak-omak (12,89%). Pada rusa Nauli jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Legetan (17,00%) dan yang terendah adalah Humbil (13,23%). Pada rusa Jambi betina jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Legetan (20,00%) dan yang terendah adalah Omak-omak (13,56%). Pada rusa Jambi jantan jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Legetan (20,00%) dan yang terendah adalah Omak-omak (13,56%) dan pada rusa Jambi anak jenis yang memiliki palatabilitas tertinggi adalah Legetan (19,20%) dan yang terendah adalah Humbil (8,89%). Tingkat konsumsi pakan rusa berkisar antara 4,85-6,36 kg/ekor/hari.

2. Penerapan Iptek Pengembangan Ekowisata Kawasan Hutan Aek Nauli dan Kawasan Danau Toba. Sub judul : Pengembangan HHBK Berbasis Ekowisata di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Dr. Aswandi, S.Hut, M.Si, Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, M. Hadi Saputra, Aam Hasanuddin, Nuryana, Edi Kuwato
Lihat Selengkapnya:

Satu unit Galeri lebah telah dibangun di Aek Nauli untuk mendukung konsep Aek Nauli Beecosystem. Pada galeri ini terdapat sarana pemutaran film tentang lebah, ruang pameran peralatan, informasi biologi lebah dan tumbuhan pakan, serta lahan budidaya (bee farming) beserta tanaman bunga sumber pakannya serta hasil-hasil riset lainnya yang mendukung konsep edutainment di KHDTK Aek Nauli. Pembangunan taman etnobotani berupa kegiatan pengumpulan bahan-bahan perbanyakan dari jenis-jenis tumbuhan endemik dan memiliki keterkaitan sejarah terhadap perkembangan peradaban suku Batak di Tapanuli maupun jenis-jenis langka lainnya. Beberapa jenis tanaman etnobotani yang dikumpulkan diantaranya rukam/ruham, kayu kapur (Dryobalanops aromatica), Kapur China (Cinnamomum camphora), berbagai jenis bambu, pohon-pohon penghasil buah dan berbagai jenis langka seperti miracle fruit dan banyak lainnya.

3. Peningkatan Produktivitas Hasil Hutan Bukan Kayu Jenis Kapur (dryobalanops arimatica), dan Kemenyan (Styrax sumaterana) Melalui Pengembangan Bibit Uggul
Lihat Selengkapnya:
Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, Dr. Aswandi, Nuryana, Edi Kuwato
Lihat Selengkapnya:

Penelitian tahun 2019 ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan Kapur (D. aromatica) pada kebun pangkas dan plot penanaman serta pertumbuhan Kemenyan (Styrax spp) unggul pada kebun pangkas. Pada umur 3 tahun setelah tanam tinggi tanaman Kapur mencapai 140 hingga 220 cm dengan diameter batang 15 hingga 31 mm. Sedangkan tinggi tanaman mencapai 140 hingga 220 cm. Tanaman jernang pada umur tanam yang sama mencapai tinggi 180 sampai 220 cm dengan diameter batang 25 hingga 32 mm. Rata-rata diameter tanaman Kapur dan Jernang yang diintegrasikan pada agroforestry kopi 2 tahun setelah tanam mencapai 5,6 mm dengan diameter terbesar mencapai 9.5 mm. Sedangkan rata-rata tinggi mencapai 61 cm dengan tanaman terbesar memiliki tinggi 93 cm. Rata-rata riap tahunan berjalan diameter batang tanaman berdasarkan pengukuran selama periode tersebut mencapai 0.9 mm/7 bulan atau 1,54 mm/tahun. Sedangkan rata-rata riap tahunan berjalan tinggi tanaman mencapai 12,6 mm/7 bulan atau 21 cm/tahun. Riap rata-rata diameter batang Jernang yang ditanam dengan pola agroforestry mencapai 0,82 cm/tahun sedangkan tinggi mencapai 26 cm/tahun. Selanjutnya rata-rata riap pertumbuhan (MAI) Diameter dari kelima provenan selama tiga tahun mencapai 4.2 mm/tahun. Riap rata-rata tahunan tertinggi ditunjukkan tanaman Kapur dari provenan Barus sebesar 4,7 mm/tahun. Rata-rata riap pertumbuhan (MAI) tinggi kelima provenan mencapai 46,1 cm/tahun. Riap rata-rata tahunan tertinggi ditunjukkan tanaman Kapur dari provenan Barus sebesar 51,7 cm/tahun diikuti provenan Sultan Daulat sebesar 50,4 cm/tahun.

4. PENELITIAN DAMPAK, PENGELOLAAN LIMBAH DAN PENATAAN AREA EKOWISATA GAJAH DI KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut. M.Sc, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut. MP, Asep Sukmana, S.P M.Sc, Dr. Endang Karlina, M.Si, Pidin Mudiana, Erwin P. Manik, Firman
Lihat Selengkapnya:

Pengelolaan limbah gajah dan penataan area ngangon perlu segera ditangani agar tidak mencemari lingkungan dan mengurangi kenyamanan bagi pengunjung. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi potensi vegetasi, dampak ngangon gajah, pengembangan dan pengemasan produk limbah gajah, pemeliharaan demplot sumber pakan rumput gajah, penataan area ngangon dan rekomendasi rekomendasi model pengelolaan limbah bekas pakan gajah serta pengadaan peralatan pendukung penelitian. Hasil penelitian pada area ngangon di hutan sekunder sedikitnya ditemukan 54 jenis tumbuhan dan lahan dominan pinus sebanyak 65 jenis tumbuhan. Prosentase pakan gajah pada hutan sekunder lebih rendah dibandingkan pada lahan dominan pinus sehingga area dominan pinus akan lebih sesuai dijadikan lokasi ngangon bagi gajah. Dampak kerusakan dari aktivitas gajah pada area ngangon dalam dua hari pada area seluas 0,25 ha adalah untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah mencapai 95-100%, kemudian tingkat pancang antara 70-80% dan tingkat tiang 40-50%. Kategori tingkat kerusakan termasuk sedang untuk tingkat tiang dan berat untuk tingkat pancang, semai dan tumbuhan bawah. Pemanfaatan limbah gajah yang dikembangkan adalah memproduksi dan pengemasan menjadi produk yang lebih menarik, baik pada kompos, asap cuka, kertas serta pembuatan kerajinan dari lidi sawit. Produk kertas yang banyak disukai adalah dijadikan note book dan kemasan kompos dalam ukuran 1 kg dan 3 kg. Pemeliharan demplot pakan gajah pada tahun ini difokuskan pada dua lokasi seluas 2 ha. Proses pemeliharaan yang dilakukan berupa pembersihan tanaman pengganggu, pemupukan, dan penanaman ulang pada area yang sudah tidak produktif. Jumlah tanaman rumput gajah baru pada dua lokasi mencapai 10.000 batang. Strategi pengelolaan area ngangon dan produk limbah gajah yang direkomendasikan adalah 1) Pengaturan rotasi lokasi pakan gajah pada area ngangon dengan alokasi 0,25 ha untuk setiap gajah dalam 1-2 hari; 2) mengalokasikan area untuk ngangon gajah dengan menerapkan sistem rotasi/pindah tempat pada area seluas 60 ha pada lahan dominan pinus; 3) pengkayaan pada area bekas nganon untuk membantu regenerasi pakan gajah; 4) mengembangkan area ngangon sebagai paket ekowisata khusus bagi pengunjung; 5) pengembangan promosi dan pemasaran produk turunan gajah melalui Koperasi Sylva Aek Nauli; 6) mengalokasikan petugas/pengawai khusus untuk mengembangkan produk turunan terutama dalam proses pembuatan sampai pengemasan; dan 7) mengemas proses pembuatan produk limbah menjadi paket wisata edukatif seperti pada anak sekolah.

5. PENELITIAN SEBARAN HABITAT, POPULASI SIAMANG DAN PENGEMBANGAN EKOWISATA TAMAN PRIMATA SIBAGANDING PADA KHDTK AEK NAULI, DANAU TOBA
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut. M.Sc, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut. MP, Asep Sukmana, S.P M.Sc, Pidin Mudiana, Erwin P. Manik, Firman
Lihat Selengkapnya:

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi sebaran populasi dan potensi habitat primata, jenis pakan siamang, persepsi pengunjung dan stakeholders terkait dan membangun demplot pengkayaan tanaman pakan siamang pada Taman Ekowisata Primata Sibaganding, KHDTK Aek Nauli seluas 1 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan KHDTK Aek Nauli sedikitnya telah ditemukan 10 kelompok siamang dengan total 36 siamang yang meliputi 10 dewasa jantan, 10 dewasa betina, 3 hampir dewasa, 7 remaja, 4 anak dan 2 bayi. Kepadatan siamang di KHDTK Aek Nauli sekitar 6,0-6,5 individu/km² dengan kepadatan kelompok 1,74 kelompok/km². Pada habitat siamang di 9 lokasi penelitian teridentifikasi 93 jenis tumbuhan dari 32 jenis famili. Tumbuhan yang dominan berdasarkan INP berbeda untuk setiap lokasi. Nilai keragaman jenis tumbuhan tergolong rendah sampai sedang. Jenis tumbuhan pakan siamang di KHDTK Aek Nauli teridentifikasi sebanyak 65 jenis dengan persentasi jenis tumbuhan pakan pada tingkat pohon dan tiang berdasarkan nilai INP adalah antara 50,49-100%. Pada habitat lainnya di Hutan Batangtoru berdasarkan hasil pengamatan dan studi literatur lainnya diidentifikasi sebanyak 89 jenis pakan siamang. Jenis yang banyak dijumpai adalah hoteng, hau dolok, aren dan torop. Pengunjung yang datang ke Taman Primata dan Kawasan KHDTK Aek Nauli memiliki tingkat persepsi dengan nilai skor rata-rata 84,7% yang berarti termasuk dalam kriteria Sangat Setuju apabila ada pengembangan wisata ilmiah siamang di KHDTK Aek Nauli, khususnya di Taman Primata. Pembangunan demplot pengkayaan pakan siamang dilakukan di sekitar Taman Primata seluas 1 ha, yaitu 0,4 ha di hutan muda dan 0,6 ha di semak belukar. Penanaman tahap pertama adalah 624 tanaman dengan 8 jenis tanaman pakan siamang. Hasil pengamatan persen hidup tanaman pada saat berumur 4 bulan setelah penanaman menunjukan bahka persentasi hidup sebesar 55,52% pada hutan muda dan 43,20% pada lahan semak belukan. Rendahnya persen hidup tanaman dapat diakibatkan karena kurang unsur hara bagi tanaman dan dirusak oleh primata lainnya yaitu beruk dan monyet ekor panjang. Pemberian pakan tambahan bagi siamang dilakukan scara terus menerus hampr setiap hari. Jenis pakan tambahan setiap hari adalah kombinasi pisang, jagung, ubi singkong, kacang, mangga dan tebu. Dampak dari pemberian pakan adalah meningkatnya jumlah primata yang datang ke Taman Primata terutama beruk dan monyet ekor panjang yang saat ini mencapai 297 individu primata. Promosi lokasi wisata ilmiah siamang dan primata lainnya telah dilakukan pada berbagai media promosi, seperti pameran, tulisan dan media sosial. Untuk menambah bahan promosi pada pengunjung KHDTK maka dibuat leaflet dan stiker yang disebarkan pada pengunjung. Strategi prioritas untuk mengembangkan wisata ilmiah siamang di KHDTK Aek Nauli adalah 1) membangun jalur wisata di dalam kawasan KHDTK Aek Nauli, direkomendasikan dua jalur yang berupa route pendek sejauh 2-3 km dan route panjang sejauh 4-5 km yang juga menjadi penghubung bagi lokasi wisata lainnya; 2) menata dan mengembangkan fasilitas pengunjung dan edukasi pada Taman Primata Sibaganding; dan 3) mengembangkan strategi lainnya seperti mengoptimalkan SDM untuk mengelola wisata siamang, pembinaan habitat pada jalur wisata dan pelibatan masyarakat.

6. MODEL PENGAYAAN PLOT POHON PAKAN GAJAH PADA AREAL PENGGEMBALAAN GAJAH DI AREAL EKOWISATA GAJAH DI KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Ahmad Dany Sunandar, Wanda Kuswanda, Muhammad Hadi Saputra, Selamat Lumban Tobing, Dodo A. Suhada, Pidin Mudiana
Lihat Selengkapnya:

KHDTK Aek Nauli telah dimanfaatkan sebagai lokasi untuk perkembangbiakan gajah sumatera jinak dalam populasi yang kecil. Untuk mendukung KHDTK Aek Nauli menjadi habitat alami gajah maka perlu upaya pengayaan pohon pakan karena lokasi ini bukan habitat alami gajah sumatera. Kegiatan pembangunan plot pengayaan pohon pakan gajah telah dilakukan pada tahun 2018 dengna luas 7 hektar. Pada tahun 2019, kegiatan ini difokuskan pada kegiatan pemeliharaan plot yang telah dibangun dan pengukuran pertumbuhan dari jenis-jenis pohon pakan gajah yang merupakan jenis introduksi. Pemeliharaan dilakukan setiap 3 bulan dengan melakukan penyulaman, pembabatan gulma dan rumput dan pembuatan piringan. Selain itu akan dilakukan juga pemberian pupuk untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan dosis yang sama untuk setiap tanaman. Pengukuran dilakukan pada umur 12 bulan setelah tanam. Untuk menunjang pengayaan juga dilakukan analisis pakan terhadap pohon yang telah ditanam. Pemeliharaan yang telah dilakukan adalah pembersihan sisa-sisa kayu yang ada di dalam plot, pembabatan gulma, pembuatan piringan, pemupukan dan penyulaman. Persen hidup tanaman secara total adalah 50% dan tergolong rendah karena banyaknya gangguan terhadap tanaman yang ada. Pertumbuhan yang baik ditunjukkan oleh jenis sengon, balik angina, marak tampu dan petai cina. Balik angin juga merupakan jenis yang ideal sebagai pakan gajah dengan hasil analisis pakan yang paling baik dibanding jenis lainnya.

7. Penerapan IPTEK Agroforestry Sepanjang Daur untuk Mendukung Ekowisata di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Dr. Ir. Darwo, M.Si, Dra. Lincah Andadari, M.Si, Ir. Rina Bogidarmanti, M.Si, Rosita Dewi, S.Hut., M.Sc, Dr. Ahmad Dany Sunandar, S.Hut., M.Sc, Neo Indra Lelana
Lihat Selengkapnya:

Danau Toba merupakan salah satu dari 10 destinasi wisata yang dicanangkan pemerintah sehingga diperlukan dukungan berbagai bidang termasuk IPTEK agroforestry secara berkelanjutan. Kegiatan pengembangan ini bertujuan untuk mengimplementasikan hasil IPTEK model agroforestry secara berkelanjutan guna mendukung kelestarian hutan dan ekowisata di sekitar Danau Toba. Adapun sasarannya adalah menerapkan agroforestry sepanjang daur di KHDTK Aek Nauli untuk mendukung ekowisata di Danau Toba. Metode yang digunakan yaitu (1) membangun demplot agroforestry dan usaha budidaya ulat sutera alam; (2) transfer teknologi usaha budidaya murbei dan ulat sutera serta memperkenalkan produk-produk turunannya; dan (3) sosialisasi dan penggalian data persepsi dan minat masyarakat terhadap kegiatan agroforestry. Agroforestry dengan menanam tanaman pokok unggulan lokal (suren/ingul, taxus, makadamia dan andaliman) dengan tanaman kopi ateng dan tanaman murbei sebagai tanaman sela berfungsi sebagai teknik konservasi tanah dan air secara vegetatif dan sekaligus sebagai sumber pendapatan masyarakat yang bisa memberikan penghasilan secara terus menerus sepanjang tahun. persuteraan alam berpotensial untuk dikembangkan di sekitar Danau Toba dan bisa dijadikan obyek wisata bernilai ekonomi melalui serangkaian pengenalan jenis murbei, pemeliharaan ulat sutera, produksi kokon, benang dan diversifikasi produk yang berasal dari tanaman murbei dan kokon. Pola agroforestry sepanjang daur akan mampu memperbaiki kondisi lingkungan dan perekonomian serta mendukung pengembangan pariwisata di sekitar Danau Toba. hasil agroforestry sepanjang daur bisa berdampak positif terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah melalui sektor pariwisata dan tumbuhnya perekonomian.

8. Penerapan Teknologi Arang Terpadu dan Bambu untuk Mendukung Wisata Ilmiah di Kawasan Danau Toba
Lihat Selengkapnya:
Prof. (R) Dr. Gustan Pari, M.Si, Dr. Saptadi Darmawan, Dr. Ratih Damayanti, Gunawan Pasaribu, M.Si, Ir. Totok K. Waluyo, M.Si, Dra. Gusmailina, M.Si, Dra. Sri Komarayati, Abdurahman, MT, Heru S. Wibisono, S.Hut, N. Adi Saputra, S.Hut., M.Sc, Djeni Hendra, M.Si, Lisna Efiyanti, S.Si., M.Sc, Dr. Ahmad Dani S., Dr. Aswandi, Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut., M.Si.
Lihat Selengkapnya:

Pengembangan ‘Rumah Singgah Peduli Kanker’ di BP2LHK Aek Nauli dilatarbelakangi dengan kondisi bahwa penyakit kanker merupakan masalah Kesehatan masyarakat Indonesia yang utama. Tingkat kematian akibat kanker di Indonesia mencapai rata-rata 50% dengan beban biaya pengobatan kanker terus meningkat dimana pada tahun 2017 dana BPJS mencapai sebesar 3,1 Triliun rupiah. Devisa negara sebesar 28 Triliun per tahun berpindah karena masyarakat mampu memilih berobat ke luar negeri. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi bisa diperoleh dari hutan yaitu menggunakan material bambu dan teknologi arang. Rencana pengembangan lima tahun ke depan (2019-2023) ‘Grand Design Penerapan Teknologi Arang Terpadu dan Bambu’ sudah disusun. Dalam rangka mendukung wisata ilmiah di Kawasan Danau Toba, P3HH membangun tungku kubah dengan kapasitas 2,5 m yang berfungsi ganda selain untuk wisata ilmiah juga sebagai tempat pembuatan arang bambu. Selain itu, dibuat demplot penanaman bambu dan tumbuhan obat dengan memanfaatkan arang kompos bioaktif. Tujuan utama jangka panjang adalah mewujudkan ‘Carbon Bamboo Cancer Care Center’ di Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Berbagai produk kesehatan fungsional olahan bambu hasil penelitian unggulan dari bambu terbaik yang tumbuh di Aek Nauli yaitu bambu mayan (Gigantochloa cf. robusta Kurz.) telah dihasilkan berupa arang celup, asap cair bambu, arang kosmetik, arang kapsul, perban arang, dan kaos karbon yang dipadukan dengan rompi terapi kanker. Produk-produk tersebut dapat diperoleh di Rumah Singgah Peduli Kanker yang dilengkapi dengan berbagai mebel, flooring, dan papan lamina dari bambu.

9. Pengembangan Model Kolaborasi Eco-Eduwisata di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Dr. Ir. Subarudi, M. Wood.Sc., Dr. Tuti Herawati, S.Hut., M.Si., Ir. Choirul Ahmad, M.Sc., Nurul Silva Lestari, S.Hut., M.Env., Suriati, S.Hut., M.Si, Nugraha Firdaus, S.Hut., M.Sc.
Lihat Selengkapnya:

Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli merupakan satu dari 25 KHDTK Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Peraturan Menteri LHK No. P.15/Menlhk/Setjen/Kum.1/5/2018 tentang KHDTK membuka peluang kerjasama antara pemangku KHDTK dengan berbagai pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat lokal. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, letak yang strategis di pintu masuk kawasan Danau Toba serta dipadukan dengan ketersediaan informasi ilmiah serta produk riset, KHDTK Aek Nauli memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi salah satu kawasan eco-eduwisata unggulan. Namun demikian, koordinasi antar 3 pihak masih belum optimal sehingga dapat berpengaruh terhadap upaya konservasi gajah sumatra di ANECC. Mengingat luasnya lingkup pekerjaan untuk mengembangkan program eco-eduwisata dan masih terbatasnya sumberdaya yang dimiliki oleh Balai Litbang LHK Aek Nauli, diperlukan model kolaborasi antara BLI sebagai pemangku KHDTK dengan para pihak khususnya dalam rangka mewujudkan KHDTK Aek Nauli sebagai sarana eco-eduwisata yang menggabungkan unsur wisata alam, pendidikan, dan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah 1) Merancang scenario pengembangan KHDTK Aek Nauli sebagai kawasan eduwisata yang dikelola melalui skema kerjasama antar pihak, 2) Merancang rencana aksi untuk mewujudkan scenario yang diharapkan, 3) Melaksanakan konsultasi publik terkait rencana aksi yang dirancang dan disepakati para pihak. Proses penyusunan rancangan pengelolaan menggunakan metode Participatory Prospective Analysis (PPA) untuk menghasilkan skenario-skenario pengelolaan berbasis variable- variable kunci. Workshop PPA diikuti oleh perwakilan 17 pemangku kepentingan. Telah teridentifikasi 25 variabel yang berpengaruh dalam pengelolaan eco-eduwisata di KHDTK Aek Nauli dan 5 diantaranya merupakan variabel kunci. Kelima variabel kunci tersebut adalah jumlah pengunjung, manajemen pengelolaan KHDTK, status KHDTK, atraksi wisata, dan partisipasi masyarakat. Berdasarkan kondisi yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, dari kelima variabel kunci tersebut, selanjutnya disusun 3 skenario yaitu skenario optimis, skenario moderat, dan skenario pesimis. Skenario optimis yang berjudul “KHDTK Aek Nauli: Destinasi Wisata Ilmiah Pengungkit Restorasi Wisata Danau Toba”, menggambarkan kondisi ideal yang ingin dicapai dalam pengelolaan eco-eduwisata pada masa 5 tahun mendatang. Skenario moderat yang berjudul “Sebuah Asa untuk Eco- eduwisata di KHDTK Aek Nauli”, menggambarkan kondisi yang terjadi dengan pengelolaan wisata KHDTK Aek Nauli yang bersifat business as usual. Sementara itu, skenario pesimis yang berjudul “Wisata yang Terlupakan di Kawasan Danau Toba”, menggambarkan kondisi paling buruk yang mungkin terjadi pada kegiatan wisata di KHDTK Aek Nauli. Masing- masing skenario kemudian disusun rencana aksinya. Skenario dan rencana aksi yang telah disusun diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di KHDTK lainnya untuk meningkatkan pemanfaatan hutan pada areal KHDTK dengan basis wisata alam.

10. Pembuatan Pilot Project Peningkatan Kualitas Air Baku untuk Mendukung Wisata Ilmiah di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
M. Yusup Hidayat, S.Hut., M.Si, Edy Junaidi, SP., M.Sc, Alfonsus H. Harianja, SP., M.Sc, Grace S. Saragih., S.Hut., M.Sc, Ridwan Fauzi, S.Hut., M.S.E, Melania Hanny Aryantie, S.Hut., M.T, Budi Purwanto, ST, Efadeswarni, S.Si, Dini Ayudia, S.Si., M.Si, Dr. Fitri Yola Amandita, S.Hut., M.Sc, Sri Unon Purwati, S.Si, M. Hadi Saputra, S.Hut., M.Sc., M.P.W.K, Firman, Sutrisno
Lihat Selengkapnya:

Pengembangan wisata ilmiah di KHDTK Aek Nauli merupakan salah satu alternatif destinasi wisata yang dapat berperan dalam peningkatan pariwisata alternatif destinasi wisata yang dapat berperan dalam peningkatan pariwisata Danau Toba. Sebagai areal wisata ilmiah, salah satu permasalahan utama dalam pengembangan KHDTK Aek Nauli adalah kuantitas dan kualitas air yang tidak mencukupi, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal maupun kebutuhan wisatawan. KHDTK Aek Nauli harus dapat memenuhi kebutuhan air bersih (air baku), tidak hanya untuk kepentingan penduduk yang tinggal di dalam dan sekitar KHDTK, namun juga untuk kepentingan wisatawan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air baku di KHDTK Aek Nauli. Hasil pengujian kualitas air dari Filtrasi air di KHDTK Aek Nauli diperoleh 2 (dua) parameter Kimia Anorganik COD dan Pospat sebagai P yang belum memenuhi baku mutu kelas I. Kapasitas produksi filtrasi air sebesar 90 LPM/6 m kubik per jam. Efisiensi penyisihan kadar pencemar berkisar antara 13,64%-96,72%. Nilai ekonomi pemanfaatan air dari aktifitas wisata sebesar Rp.300.000.000,-. Nilai ekonomi pemanfaatan sumberdaya air oleh masyarakat sekitar kawasan KHDTK sebesar Rp.317.963.328,- setiap tahun. Produksi air bersih di KHDTK Aek Nauli baru dipergunakan sebesar 6,95% untuk penggunaan flushing dan urinal. Untuk penggunaan keseluruhan air per orang/hari, produksi air bersih di KHDTK Aek Nauli baru dipergunakan sebesar 17,38%.

11. Kajian Daya Dukung Ekowisata di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Prof. Dr. Raden Garsetiasih, M.P, Prof. Hendra Gunawan, M.Si, Dr. Endang Karlina, M.Si, Dr. Rozza Tri Kwatrina, M.Si, Ir. Reny Sawitri, M.Sc, Ir. Mariana Takandjandji, M.Si, Anita Rianti, S.Pt, Vivin Silvaliandra Sihombing, S.Kel.
Lihat Selengkapnya:

Berdasarkan data dari pengelola KHDTK dan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) tahun 2019 kunjungan wisatawan ke KHDTK Aek Nauli pada tahun 2012 mencapai 2.116, orang pada tahun 2018 mencapai 102.723 orang. Penilaian daya dukung kawasan ekowisata merupakan salah satu dari beberapa tindakan terpenting guna mendukung pariwisata berkelanjutan. Pengelolaan dengan memperhatikan daya dukung dapat membantu menekan dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan ekowisata. Tujuan dari kegiatan kajian daya dukung ekowisata di KHDTK Aek Nauli adalah: (1) Menganalisis daya dukung kawasan (fisik, riil dan efektif) ekowisata di KHDTK Aek Nauli, (2) menganalisis persepsi dan harapan pengunjung terhadap kawasan ekowisata KHDTK Aek Nauli dan (3) Mendesain strategi pengembangan ekowisata berbasis pengunjung dan ODTWA. Metode yang digunakan adalah survei fisik dan biofisik kawasan, wawancara dan FGD dengan para pengunjung dan stakeholder terkait. Dari hasil pengumpulan data dilapangan dilakukan tabulasi data kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Metode analisis data yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian, meliputi : (1) Analisis kriteria potensi obyek daya tarik wisata alam menggunakan sistem nilai skoring dan pembobotan berdasarkan modifikasi dari pedoman analisis ADO-ODTWA yang ditetapkan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam tahun 2003. Skor yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan skor total suatu kriteria berdasarkan unsur atau subunsur yang telah ditentukan. Menurut Karlina (2015) setelah dilakukan perbandingan, maka akan diperoleh indeks kelayakan dalam persen. Indeks kelayakan suatu kawasan ekowisata adalah: • Tingkat kelayakan 80% - 95% = sangat layak dikembangkan • Tingkat kelayakan 66 % - 79,99% = layak dikembangkan • Tingkat kelayakan 50% - ,65,99% = cukup layak dikembangkan • Tingkat kelayakan kecil dari 49,99% = tidak layak dikembangkan (2) Analisis persepsi wisatawan terhadap fasilitas ekowisata bertujuan untuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap kondisi fisik, kepuasan dan kenyamanan wisatawan. Analisis data dilakukan dengan: 1. Tabulasi, yaitu pengelompokkan data untuk mempermudah proses analisis. 2. Skala Likert. Analisis daya dukung efektif menggunakan metode analisis Cifuentes (1992). Daya dukung fisik area wisata yang didasarkan dari karakteristik kawasan yang telah diterapkan pada PCC (Sayan dan Atik, 2011). Daya dukung fisik (Physical Carrying Capacity/ PCC) merupakan jumlah maksimum wisatawan yang secara fisik tercukupi oleh ruang yang disediakan pada waktu tertentu (Sayan dan Atik, 2011).

12. Penyusunan Model IPTEK Konservasi Tanah dan Air DTA Danau Toba untuk Memperbaiki Kualitas Air dalam rangka Mendukung Destinasi Wisata Danau Toba
Lihat Selengkapnya:
Dr. Irfan Budi Pramono, M.Sc, Dr. Endang Savitri, M.Sc, Dr. Ir. Tyas Mutiara Basuki, M.Sc, Dr. Ir. Dewi Retna Indrawati, MP, Pamungkas Buana Putra, S.Hut., M.Si, Drs. Rahardyan Nugroho Adi, M.Si, Asep Sukmana, SP., M.Si, Pidin Mudiana, A.Md, Dody Yuliantoro, SP.
Lihat Selengkapnya:

Danau Toba merupakan danau yang paling luas di Indonesia. Danau Toba merupakan salah satu tujuan wisata di Sumatera Utara. Saat ini keadaan Danau Toba sangat memprihatinkan karena tingginya sedimentasi dan pencemaran di dalam danau. Karena kawasan Danau Toba adalah Kawasan Strategis Nasional, maka untuk memperbaiki keadaan DTA Danau Toba, dikeluarkan Perpres No 81 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan sekitarnya. Dalam Perpres 81/2014 disebutkan Kebijakan penataan ruang Kawasan Danau Toba salah satunya adalah “Mempertahankan kestabilan kuantitas dan pengendalian kualitas air Danau Toba”. Sedangkan strategi untuk mencapainya melalui: (1) mengembangkan jenis vegetasi yang dapat mengurangi pencemaran air danau di sepanjang pantai danau; (2) mengembangkan prasarana sistem biofilterasi untuk mengurangi kekeruhan air, eutrofikasi, dan tingkat racun pada air sungai yang mengalir ke danau; (3) mengembangkan prasarana sediment trap pada sungai-sungai yang berpotensi membawa endapan ke dalam air Danau Toba. Untuk mendukung Perpres no 81 tahun 2014 tersebut maka dilakukan kegiatan Penyusunan model IPTEK konservasi tanah dan air DTA Danau Toba untuk memperbaiki kualitas air dalam rangka mendukung destinasi wisata Danau Toba. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi pencemaran yang berasal dari lahan pertanian melalui pembuatan demplot pada sempadan sungai dan wetlandyang mengalami pencemaran, serta membangun kesepahaman antar para pihak yang terlibat. Metoda yang digunakan adalah membuat demplot yang letaknya ditentukan dari lahan yang menjadi sumber pencemar. Tanaman yang digunakan adalah tanaman-tanaman yang selain dapat mengurangi pencemaran juga dapat mendukung wisata danau Toba.Penentuan jenis tanaman serta kegiatan konservasi tanah dan air akan dilakukan bersama dengan para pihak yang terkait, yaitu masyarakat setempat, Pemda Kabupaten, UPT Kementerian LHK di Sumatera Utara, Dinas Pertanian, PU, perguruan tinggi dan Forum DAS. Pada akhir kegiatan diharapkan masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat dari tanaman yang ditanam dan tidak melakukan kegiatan yang menyebabkan degradasi lahan.