Balitbang LHK Aek Nauli

Penelitian 2018

No Judul Penelitian Pelaksana Penelitian Abstrak/Ringkasan Penelitian
1. Restorasi Koridor Gajah Untuk Mengurangi Konflik Satwa Sekitar TN. Gunung Leuser
Lihat Selengkapnya:
Sriyanti P Barus, S. Hut., MP, Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Pidin Mudiana, A. Md, Erwin P Manik
Lihat Selengkapnya:

Fragmentasi hutan yang terjadi di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser telah menyebabkan satwa semakin terisolasi dan terjadi konflik dengan manusia. Pada kondisi ini maka pembangunan koridor untuk menjadi penghubung antar habitat menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan tanaman umur 1-2 tahun pada plot uji coba restorasi koridor seluas 1,5 ha. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Bukit Mas, Resort Besitang. Tanaman uji coba difokuskan pada klasifikasi pohon sebanyak 7 jenis. Penanaman dilakukan dengan pola tanam acak dan blok dengan jarak tanam 4 m x 4 m dengan rancangan acak blok lengkap (RABL). Analisis data menggunakan persamaan pertumbuhan tanaman dan analisis ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tutupan lahan terbuka umur 12 bulan, jenis tanaman yang memiliki diameter terbesar adalah durian sebesar 0,57 cm/12 bulan dan jenis yang memiliki penambahan tinggi tercepat adalah medang sebesar 56,06 cm/12 bulan. Pada pola tanam acak jenis yang memiliki penambahan diameter terbesar adalah petai sebesar 0,90 cm/12 bulan dan jenis yang paling tinggi adalah medang sekitar 61,21 cm/12 bulan. Pada tutupan lahan hutan sekunder pola tanam jalur umur 12 bulan, jenis tanaman yang memiliki diameter terbesar adalah durian sebesar 1,04 cm/12 bulan dan jenis tanaman yang memiliki penambahan tinggi terbesar adalah petai sekitar 81,08 cm/12 bulan. Pada pola tanam acak, jenis yang memiliki penambahan diameter dan tinggi terbesar adalah petai dengan diameter sebesar 0,89 cm/12 bulan dan tinggi sekitar 63 cm/12 bulan. Pada lahan terbuka dengan pola tanam jalur umur 16 bulan, jenis tanaman yang memiliki diameter terbesar adalah durian sebesar 0,96 cm/16 bulan dan jenis tanaman yang memiliki penambahan tinggi tanaman yang paling besar adalah medang dengan tinggi sekitar 68,71 cm/16 bulan. Pada pola tanam acak, jenis yang memiliki penambahan diameter terbesar adalah durian sebesar 0,83 cm/16 bulan sedangkan jenis yang memiliki penambahan diameter terkecil adalah rambutan hutan sebesar 0,63 cm/16 penambahan tinggi tanaman terbesar adalah mayang sekitar 52,62 cm/16 bulan. Pada tutupan lahan hutan sekunder umur 16 bulan, jenis tanaman yang memiliki diameter terbesar adalah durian, baik pada pola tanaman jalur maupun acak dengan rata-rata diameter sebesar 1,06 cm/16 bulan. Untuk tinggi tanaman, jenis tanaman yang memiliki penambahan tinggi terbesar adalah adalah durian dengan tinggi sekitar 77,05 cm/16 bulan. Pada pola tanam acak, jenis tanaman yang memiliki penambahan tinggi paling besar adalah petai dengan tinggi sekitar 74,02 cm/16 bulan. Pada lahan terbuka pola tanam jalur jenis yang memiliki persentase hidup yang paling tinggi adalah bayur sebesar 23,64%, sedangkan untuk pola tanam acak jenis yang memiliki persentase hidup paling tinggi adalah jengkol sebesar 21,05%. Pada hutan sekunder baik pola tanam jalur dan acak, jenis tumbuhan yang memiliki persen hidup yang paling tinggi adalah petai masing-masing sebesar 21,05% dan 21,57%. Berdasarkan hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakukan perbedaan pola tanam, baik acak maupun jalur berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sedangkan perbedaan tutupan lahan tidak berpengaruh terhadap penambahan diameter, pertumbuhan tinggi dan persen hidup tanaman.

2. Peningkatan Produktivitas HHBK Jenis Kapur (Drybalanops aromatica) dan Jernang (Daemonorops spp.) Melalui Pengembangan Bibit Unggul dan Teknik Silvikultur dan Kemenyan Unggul untuk Hutan Masyarakat
Lihat Selengkapnya:
Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, Dr. Aswandi, Nuryana, Edi Kuwato
Lihat Selengkapnya:

Pelaksanaan penelitian tahun keempat (2018) berusaha untuk mendapatkan data pertumbuhan Kapur dan Jernang dengan pola agroforestry dan data pertumbuhan kemenyan hasil irradiasi. . Rata-rata pertumbuhan Kapur pola agroforestry berupa pala, pinang dan nilam mencapai 100 hingga 130 cm dengan diameter batang 7 hingga 11 cm. Sedangkan tanaman rotan jernang mencapai tinggi 80 hingga 120 cm dengan diameter batang 2,5 hingga 3,1 cm. Selanjutnya dari 148 individu semai Dryobalanops aromatica yang ditanam dengan pola agroforestry Jernang dan Kopi di Aek Nauli, riap diameter rata-rata tanaman Jernang yang ditanam pada integrasi Kapur dan Kopi mencapai 1,9 cm/tahun. Sedangkan riap rata-rata tinggi sebesar 49,4 cm/tahun. Selanjutnya jumlah daun dihitung bertambah 3,7 pelepah daun setiap tahunnya. Perkecambahan kemenyan dosis 10Gy memerlukan waktu 47-122 Hari Setelah Tanam (Hst) dengan persentase kecambah 90% dan T50 pada hari ke 73, kemenyan 20Gy selama 48-96 Hst dengan persentase kecambah 100% dan T50 pada hari ke 62, kemenyan 30Gy selama 55-86 Hst dengan persentase kecambah 5%, kemenyan 40Gy selama 53-86 Hst dengan persentase kecambah 25%, kemenyan 50Gy pada hari 90 dengan persentase kecambah 5% sedangkan untuk dosis 60Gy tidak ada yang berkecambah. Sedangkan benih tanpa irradiasi (kontrol) membutuhkan waktu yang lebih lama yakni 224 hari dengan persentase kecambah 85%. Tidak adanya benih kemenyan dosis 60Gy yang berkecambah diduga akibat tingginya dosis irradiasi mempengaruhi dan menghambat metabolism sel.

3. Domestika Pohon Buah Hutan Khas Batak dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Pangan Obat-obatan, Konservasi dan Pengembangan Pariwisata di Danau Toba
Lihat Selengkapnya:
Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, Dr. Aswandi, Nuryana, Edi Kuwato
Lihat Selengkapnya:

Pohon buah hutan merupakan salah satu sumber pangan alternatif, dan penyedia bahan baku obat bagi kesehatan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendomestikasi pohon buah khas batak dalam rangka peningkatan ketahanan pangan, obat-obatan serta konservasi jenis dan pengembangan pariwisata di Danau Toba. Setelah teridentifikasi 5 (lima) pohon buah hutan khas suku Batak serta memperbanyak tanaman tersebut secara generatif maupun vegetatif pada tahun pertama (2017), kegiatan pada tahun kedua (2018) dilanjutkan dengan pembangunan plot dan pemeliharaan tanaman, pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kandungan gizi dari buah-buahan tersebut. Berdasarkan eksplorasi diidentifikasi jenis-jenis pohon buah yang potensial sebagai sumber pangan dan obat-obatan yakni Rukam (Flacourtia rukam), Biwa (Eriobotya japonica), Sotul (Sandoricum koetjape), Kapundung (Baccaurea racemosa), Tungir-tungir dan Harimunting (Rodomyrtus tomentosa). Berdasarkan pengujian perkecambahan benih dari buah yang dikumpulkan, kelima jenis tersebut relatif mudah diperbanyak secara generatif. Dalam penelitian ini telah dihasilkan lebih dari 1.500 semai dari jenis yang diujikan. Selanjutnya material hasil perbanyakan tersebut ditanam pada plot konservasi jenis di arboretum Aek Nauli. Tinggi permudaan terbesar pada saat pengukuran pertama pada bulan Agustus terdapat pada jenis Sotul diikuti Tungir-tungir dan Biwah yakni 40,9 cm, 34,3 cm dan 31,1 cm. Pada pengukuran kedua terdapat perubahan tinggi tanaman terbesar yakni Sotul diikuti Tungir-tungir dan Rukam sebesar 43,9 cm, 37,7 cm dan 32,9 cm. Riap periodic Tinggi terbesar terdapat pada jenis Tungir-tungir sebesar 3,4 cm. Sedangkan riap periodic Diameter terdapat pada jenis Rukam dan Tungir-tungir sebesar 0,3 cm. Selanjutnya riap rata-rata tahunan Diameter tertinggi terdapat pada jenis Tungir-tungir yakni sebesar 1,2 cm/tahun, diikuti jenis Rukam sebesar 1,1 cm/tahun. Sedangkan riap rata-rata tinggi terbesar terdapat pada jenis Tungir-tungir sebesar 13,6 cm/tahun diikuti jenis Sotul sebesar 12,3 cm/tahun. Penambahan jumlah daun rata-data tertinggi terdapat pada jenis Tungir-tungir yakni sebesar 17 helai pertahun, dan tertinggi pada jenis Rukam sebanyak 4 helai per tahun. Pertambahan jumlah daun ini juga selaras dengan riap diameter dan tinggi tanaman yang diujikan.

4. Kegiatan Pengkajian dan Pengembangan Ekowisata KHDTK Aek Nauli, Sub Judul Pengembangan HHBK berbasis Ekowisata di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Dr. Aswandi, S.Hut, M.Si, Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, M. Hadi Saputra, Nuryana, Edi Kuwato, Aam Hasanuddin
Lihat Selengkapnya:

Peningkatan produktivitas lahan yang dapat mengembangkan sumber pendapatan alternatif masyarakat perlu diidentifikasi terutama dalam mendukung pengembangan Danau Toba sebagai kawasan prioritas pembangunan pariwisata nasional. Budidaya lebah untuk peningkatan kesejahteraan dan peningkatan produktivitas lahan telah dipraktikkan sejak lama. Namun, di DTA Danau Toba budidaya lebah belum banyak dikenal sehingga manfaatnya belum banyak memberikan manfaat bagi perekonomian dan ekologi kawasan. Potensi sumber pakan yang melimpah, teknik budidaya tidak rumit, harga jual dan permintaan tinggi merupakan beberapa kekuatan dan peluang bagi pengembangan budidaya lebah madu dan propolis di DTA Danau Toba. Sebuah peluang besar bagi upaya pengentasan kemiskinan masyarakat serta mendukung pengembangan pariwisata Danau Toba melalui atraksi budidaya lebah madu dan HHBK. Berbagai tamanan penghasil nektar dan tanaman etnobotani yang ditanam selain menyediakan pakan bagi lebah juga menjadi atraksi ekowisata dan edukasi yang menarik, terutama yang berkaitan dengan sejarah peradaban suku-suku di Nusantara. Atraksi-atraksi ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk wisatawan sebelum ke Danau Toba sehingga akan memperlama lama kunjungannya. Dalam rangka mewujudkan pengembangan HHBK jenis-jenis langka dan endemik berbasis ekowisata di KHDTK Aek Nauli dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata Danau Toba terdapat skema yang dikembangkan yakni pengembangan model IAAS yang diselaraskan dengan teater (galeri) lebah madu dan taman bunga sumber pakan lebah, serta pengembangan taman etnobotani endemic, bersejarah dan terkait dengan perkembangan peradaban suku di Nusantara. Galeri ini merupakan ruang pameran yang menampilkan semua informasi yang berkaitan dengan budidaya lebah madu dan Trigona penghasil propolis, bee farming beserta tanaman sumber pakannya serta HHBK lainnya.

5. PENELITIAN PAKAN, PERILAKU, PENGKAYAAN AREA RUMPUT GAJAH DAN APLIKASI TEKNIK PENGEMBANGAN REPRODUKSI GAJAH PADA AREA KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Teknisi Kelti PSDA
Lihat Selengkapnya:

Keberlangsungan hidup gajah sumatera jinak sangat bergantung dari upaya konservasi yang dilakukan. Guna mendukung suksesnya program pengembangan gajah jinak di KHDTK Aek Nauli, maka perlu dilakukan berbagai penelitian untuk mendapatkan berbagai informasi yang dapat menjadi acuan untuk pengembangannya di waktu mendatang. Kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan meliputi penelitian pakan dan kandungan nutrisi, penelitian perilaku, pemeriksaan kesehatan dan hormon reproduksi gajah, pembangunan demplot pakan gajah dan pembuatan jalur tracking. Analisis data yang digunakan adalah analisis kandungan nutrisi, biomassa dan produktivitas hijauan pakan, analisis perilaku dan adaptasi gajah dan analisis kesehatan gajah. Hasil penenitian menunjukan bahwa pada area penggembalaan ‘ngangon’ gajah di KHDTK Aek Nauli sedikitnya telah teridentifikasi 41 jenis. Jenis yang memiliki tingkat palatabilitas yang tinggi adalah jenis rumput Ottochloa nodosa dan Rhodamnia cinerea. Kombinasi pakan tambahan/suplemen yang sering dikonsumsi paling awal oleh gajah adalah kombinasi dominan dari beras ketan, kacang hijau dan jagung serta ditambah campuran gula merah. Perilaku gajah dengan frekuensi tertinggi adalah bergerak sedangkan perilaku dengan alokasi penggunaan waktu (durasi) terlama adalah makan. Perilaku sosial yang paling sering dilakukan adalah oleh Figo, Vini dan Ester. Pada malam hari, intensitas terjadinya perilaku yang tertinggi adalah perilaku bergerak dan gajah menggunakan sebagian besar waktunya untuk istirahat/tidur. Proses adaptasi gajah yang dilakukan di KHDTK Aek Nauli diantaranya adalah waktu untuk bergerak dan makan hampir sama untuk mengeluarkan energi panas dari tubuh dan waktu berteduh pada siang hari relatif sedikit. Pada gajah Vini terindikasi adanya kista pada uterus dengan diameter yang kecil. Hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) organ reproduksi pada ketiga gajah tersebut memperlihatkan gambaran kondisi kandungan yang kurang subur. Hasil analisis kortison menunjukan bahwa gajah di KHDTK Aek Nauli memiliki kadar kortisol yang normal dan menunjukan kemungkinan tidak adanya stress pada gajah. Hasil pemeriksaan parasit dari 4 ekor gajah ditemukan 2 ekor positif terinfestasi nematoda, 2 ekor terinfestasi trematoda, 1 ekor terinfestasi eimeria, sedangkan 1 ekor gajah lainnya tidak ditemukan parasit. Pengkayaan dan pemeliharaan areal rumput gajah dilakukan secara rutin melalui pemupukan dan pembersihan tanaman penggagu terutama pada area 2 ha yang ditanam tahun 2016, penggantian tanaman tebu dan nenas sekitar 0,5 ha dan pembangunan demplot baru 1 ha. Pengembangan jalur tracking dibuat sekitar 3 km dimana panjang 1 km dari Area Gajah menuju Air Terjun “Dumasari Nauli” dan 2 km meter dari air terjun menuju Panorama Danau Toba

6. PENGUATAN KELEMBAGAAN, DESAIN PRODUK PENDUKUNG DAN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN EKOWISATA GAJAH DI KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut. M.Sc, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut. MP, Pindi Patana, S.Hut M.Sc, Dr. Nurdin Sulistiyono, Pidin Mudiana, Erwin P. Manik, Marjono
Lihat Selengkapnya:

Salah satu destinasi wisata ilmiah yang terdapat di KHDTK Aek Nauli adalah wisata ilmiah gajah yang dikenal dengan sebutan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Keberadaan ANECC diharapkan mampu mendorong perekonomian lokal karena melalui pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan wisata ilmiah. Untuk itu, dalam peningkatan pengelolaan ANECC perlu dirumuskan model pengelolaan yang tepat. Kegiatan yang akan dilakukan meliputi kegiatan penelitian kelembagaan, pembuatan produk turunan gajah, pembuatan papan informasi, film, penyusunan policy brief dan buku. Analisis data yang akan digunakan yaitu analisis SWOT, AHP dan analisis deskriptif. Ekowisata gajah di KHDTK Aek Nauli (ANECC) memiliki potensi yang besar untuk menjadi objek wisata unggulan di Sumatera Utara Pengunjung mengetahui ANECC umumnya dari temen dan media sosial dan tujuan mereka berkunjung sebanyak 67,6%% untuk melihat gajah dan 19,0% untuk melihat wisata lainnya. Pengunjung berharap fasilitas prasarana dan edukasi kedepannya di ANECC dapat lebih dikembangkan. Masyarakat pengunjung ke ANECC umumnya masih berasal dari Sumatera Utara terutama Kota Pematangsiantar. Persespsi sebanyak 65,33% pengunjung mendapatkan kesan dan pengalaman yang baru setelah berkunjung ke KHDTK Aek Nauli. Hasil analisis SWOT pengelolaan ANECC berada pada kuadran III yang mengharuskan para pihak memikirkan strategi untuk menyelesaikan kelemahan dan hambatan yang ada sehingga potensi besar ANECC dapat dikembangkan dengan baik dan bermanfaat secara ekologi, ekonomi dan sosial. Strategi untuk mengembangkan kelembagaan ANECC diantaranya membuat paket wisata edukasi yang unik, menarik dan terjangkau oleh berbagai segmen wisatawan, kerjasama dengan penyedia layanan jasa wisata (tour operator), ,menyiapkan paket wisata gajah sesuai kaidah konservasi, merancang kelembagaan ANECC dengan semangat kebersamaan dan prinsip keadilan para pihak demi kesinambungan organisasi dan pembentukan tim pelaksana program yang melibatkan para pihak dan disyahkan dengan surat keputusan yang ditandatangani para pihak. Model kelembagaan ANECC yang terbaik berdasarkan AHP dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial. adalah bentuk Badan Layanan Umum (32,8%) dan koperasi (25,8%). Produk turunan yang dihasilkan dari kegiatan pengembangan berupa a) cendramata/souvenir meliputi sebagai bahan kenang-kenangan maupun promosi meliputi baju, boneka, topi, tas, gelas, pin, gantungan kunci dan pulpen, b) kertas kotoran gajah dan pelepah sawit serta c) kompos dari kotoran gajah. Fasilitas pendukung untuk penyampaian informasi, sarana promosi serta paket wisata gajah berupa dua leaflet, 8 papan informasi dan petunjung, 1 peta lokasi wisata, 1 policy brief dan 1 buku, 2 film ekowisata gajah dan KHDTK Aek Nauli serta pengembangan 1 gedung Aek Nauli Information Center.. Strategi yang dikembangkan dalam pengelolaan ANECC sebagai lokasi konservasi dan ekowisata gajah adalah a) mengembangkan program mewujudkan kesejahteraan gajah (area ngangon, pakan alami, pakan tambahan, pemeliharaan dan kesehatan gajah, b) membuka peluang kerjasama dan partispasi pihak lainnya (masyarakat sekitar dan perkebunan), c) meningkatkan peluang keterlibatan pelaku usaha pariwisata, d) pelibatan Pemda, e) pengembangan destinasi, f) pengemasan paket wisata, g) pengembangan media pemasaran dan h) pembentukan kelambagaan yang disepakati para pihak

7. ANALISIS PAKAN DAN PENGEMBANGAN PENANGKARAN SEMI ALAMI RUSA UNTUK MENDUKUNG EKOWISATA GAJAH DI KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Teknisi Kelti PSDA
Lihat Selengkapnya:

Peluang budidaya rusa (Rusa sp.) untuk tujuan konservasi maupun pemanfaatan sebagai obyek wisata ilmiah saat ini sangat besar. Sebagai satwa yang telah dilindungi, permintaan daging rusa juda sangat tinggi karena kandungan kolesterol yang rendah. Satwa ini juga menarik untuk dijadikan obyek ekowisata. Penelitian dan Pengembangan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi jenis pakan alternatif dan kandungan nutrisi pakan rusa, membangun area sumber pakan rusa seluas 0,4 ha dan area penangkaran rusa. Penelitian dilakukan dengan pembangunan demplot pengembangan pakan dengan perlakuan 6 jenis tanaman pakan, wawancara dengan berbagai lembaga terkait, survai lapangan dan pengadaan barang dan jasa. Analisis produktivitas pakan merujuk persamaan dalam Alikodra (1990) dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan alternatif yang dapat menjadi pilihan dalam pemeliharaan rusa di sekitar KHDTK Aek Nauli adalah sintrong/Crassocephalum crepidioides dan kiputihan/ Chromolaena odorata, omak-omak/Cyrtococcum patens, rumput manisan/ Paspalum sp. dan rumput humbil/Panicum brevifolium. Demplot ujicoba pakan rusa tersebut telah dibangun seluas 0,4 Rata-rata nilai produktivitas pada dominan hari kemarau sebesar 14.361,46 kg/ha/tahun (BK) dan pada dominan hari hujan sebesar 15.414,98 kg/ha/tahun (BK). Nilai produktivitas rumput dan tumbuhan bawah di KHDTK Aek Nauli lebih tinggi disbanding lokasi lainnya sekitar Danau Toba. Kandungan nutrisi pakan rusa sangat bervariasi, untuk kadar air 56,3-66,0%, protein 0,037-0,156%, kadar abu 5,891-7,199%, kadar lemak 1,751-10,089% dan korbohidrat antara 21,597-33,932%. Jenis pakan supplement yang harus diberikan adalah yang banyak mengandung protein agar memenuhi kebutuhan nutrisi rusa. Area peruntukan lokasi pemeliharaan rusa yang sebelumnya akan ditetapkan sebagai lokasi penangkaran dirubah menjadi Demplot Litbang Rusa yang secara legalitas telah ditetapkan oleh Kepala BP2LHK Aek Nauli. Proses pencarian bibit rusa membutuhnya proses yang panjang dan ditetapkan bahwa sumber bibit rusa akan diambil dari PT. Pupuk Iskandar Muda, Aceh

8. PENINGKATAN HABITAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI KPH KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Ahmad D. Sunandar, S.Hut M.Si, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Erwin P. Manik, Pidin Mudiana
Lihat Selengkapnya:

Pengembangan pada tahun 2018 bertujuan untuk memelihara demplot seluas 2 ha dan menghasilkan informasi pertumbuhan tanaman pada 16 bulan setelah penanaman. Prosedur aspek teknik pembuatan dempot menggunakan pola tanam yang sederhana, yaitu pola tanam acak dan jalur. Demplot dibangun seluas 2 ha di hutan sekunder muda dan area semak belukar dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Pengukuran tanaman meliputi diameter, tinggi dan persen hidup tanaman. Analisis data menggunakan persamaan pertumbuhan tinggi, persentasi tumbuh dan ANOVA dalam RAKL menggunakan progran SPSS 21. Pada lahan terbuka rata-rata diameter tanaman hidup pada umur 16 bulan sangat bervariasi, antara 0,64-1,73 cm dengan tanaman yang memiliki rata-rata diameter pada pola tanam jalur medang sedangkan pola tanam acak durian. Tinggi tanaman juga sangat bervariasi antara 56,75-137,25 cm dengan rata-rata tinggi terbesar adalah jengkol pada pola tanam jalur dan balam pada pola tanam acak. Pada hutan sekunder rata-rata diameter dan tinggi tanaman lebih rendah dibanding pada lahan terbuka. Diameter tertinggi ditemukan pada durian sebesar 1,06 cm dan tinggi terbesar pada meranti 105,67 cm. Rata-rata pertumbuhan diameter dan tinggi tanamn pada lahan terbuka jauh lebih tinggi dibandingkan hutan sekunder. Jenis yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah jengkol pada lahan terbuka dan meranti pada hutan sekunder. Persen hidup tertinggi pada lahan terbuka ditemukan pada jenis cempedak pada pola jalur dan pada hutan sekunder jenis petai dan durian. Hasil analisis ANOVA pada tanaman umur 16 bulan menunjukan bahwa perbedaan tutupan lahan (Sig.0,05) sangat berpengaruh terhadap penambahan diamater dan pertumbuhan tinggi tanaman sedangkan untuk persen hidup dipengaruhi oleh keduanya (tutupan lahan dan pola tanam). Berdasarkan hasil analisis lanjutan dengan menggunakan nilai rata-rata maka penambahan diameter, pertumbuhan tinggi dan persen hidup tanaman lebih sesuai pada lahan terbuka dibandingkan pada hutan sekunder dengan pola tanam jalur.

9. Pengaruh Berbagai Perlakuan Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pirdot dan Taxus di Kebun Percobaan Sipisopiso
Lihat Selengkapnya:
Ahmad Dany Sunandar, Dodo Ahmad Suhada, Selamat Lumban Tobing
Lihat Selengkapnya:

Pemanfaatan tumbuhan obat yang berasal dari hutan seringkali tidak diiringi dengan pengetahuan mengenai budidayanya sehingga dapat mengancam keberadaan berbagai tanaman obat di habitat alaminya. Dua jenis tumbuhan obat yang berasal dari dataran tinggi adalah taxus (Taxus sumatrana Miq. de Laub) dan pirdot (Saurauia bracteosa DC). Keduanya telah banyak dimanfaatkan namun belum diketahui teknik budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman pirdot dan taxus yang sudah ditanam di kebun percobaan Sipisopiso. Perlakuan untuk tanaman pirdot dilakukan untuk mendapatkan teknik yang optimal dalam memproduksi daun yaitu dengan cara pemangkasan, perundukan dan teknik pemanenan daunnya. Untuk taxus, perlakuan yang diberikan adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan perlakuan lanjutan yaitu pemberian berbagai dosisi pupuk. Pengamatan dilakukan setiap 6 bulan dan hasil pengukuran akan dianalisis secara statisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman taxus namun berpengaruh terhadap pertumbuhan lebar tajuk dan tunas. Kegiatan perlakuan untuk tanaman pirdot tidak dapat dilakukan karena factor keamanan plot yang kurang terjamin dan akan diulang pada tahun 2019. Pemeliharaan plot masih belum optimal karena keterbatasan dana pemeliharaan

10. Pembangunan Demplot Pengayaan Pohon Pakan Gajah Pada Areal Penggembalaan Gajah Di Areal Ekowisata Gajah Di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Ahmad Dany Sunandar, Wanda Kuswanda, Dodo Ahmad Suhada, Selamat Lumban Tobing, Pidin Mudiana, Erwin P Manik
Lihat Selengkapnya:

KHDTK Aek Nauli telah dimanfaatkan sebagai lokasi untuk perkembangbiakan gajah sumatera jinak dalam populasi yang kecil. Untuk mendukung KHDTK Aek Nauli menjadi habitat alami gajah maka perlu upaya pengayaan pohon pakan karena lokasi ini bukan habitat alami gajah sumatera. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun plot pengayaan pohon pakan gajah di areal penggembalaan seluas 7 hektar. Eksplorasi pohon pakan gajah dilakukan untuk mengumpulkan jenis-jenis pohon pakan gajah kemudian dipelihara di persemaian BP2LHK Aek Nauli. Persiapan lahan dilakukan dengan penjarangan jumlah pohon yang ada di lokasi calon plot yang bertujuan untuk memberikan ruang dan cahaya yang cukup. Lahan dibersihkan dan dibuat alur tanam dengan sistem jalur dan blok. Pengamatan dilakukan terhadap persentase bibit yang tumbuh dan pertambahan tingginya