Balitbang LHK Aek Nauli

Penelitian 2017

No Judul Penelitian Pelaksana Penelitian Abstrak/Ringkasan Penelitian
1. Jenis Dan Produktivitas Pakan Gajah Pada Hutan Dataran Tinggi DTA Danau Toba
Lihat Selengkapnya:
Sriyanti P Barus, S.Hut., MP, Cica Ali, S.Si., MT, Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc, Johannis Ginting, Eddy Julianto, S. Hut
Lihat Selengkapnya:

Kesehatan gajah jinak sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan nilai produktivitas pakan alami gajah di area pengelolaan gajah jinak di KHDTK Aek Nauli. Pengumpulan data dilaksanakan pada area penanaman rumput gajah dan hutan di KHDTK Aek Nauli. Metode penelitian produktivitas rumput gajah pada area terbuka melalui pembuatan plot pengamatan berukuran 1 m x 1 m dan pada area hutan melalui pengukuran perubahan berat pertumbuhan pada beberapa jenis tumbuhan pakan gajah. Analisis data menggunakan persamaan produktivitas, analisis descriptive statistic dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan jenis pakan alami gajah teridentifikasi sebanyak 10 jenis yaitu sitarak, cempedak hutan, manggis hutan, medang sabal, balik angin, medang kertas, hoting, rambutan hutan, jambu batu dan jambu-jambu. Produktivitas tumbuhan pakan gajah pada kawasan hutan untuk tingkat semai dan pancang adalah sebesar 1,851 gram/hari (Berat Basah/BB) atau 0,548 gram/hari (Berat Kering/BK). Rata-rata biomassa rumput gajah adalah sebesar 11.947,69 kg/ha (BB) dan 1.666,59 kg/ha (BK). Nilai produktivitas pada dominan hari hujan sebesar 72,35 kg/ha/hari (BB) atau 8,11 kg/ha/hari (BK). Nilai produktivitas pada dominan hari kemarau sebesar 7,39 kg/ha/hari (BB) atau 1,32 kg/ha/hari (BK). Berdasarkan hasil pengujian kandungan nutrisi, rumput gajah daun lebar memiliki nilai kadar air, protein, lemak dan energi yang terbesar yaitu sebesar 83,85%, 16,57%, 2,13% dan 422,66 kkal. Nilai kadar serat tertinggi terdapat pada daun hoting sebesar 86,93%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pemenuhan kebutuhan pakan gajah jinak di KHDTK Aek Nauli

2. Peningkatan Produktivitas HHBK Jenis Kapur (Drybalanops aromatica) dan Jernang (Daemonorops spp.) Melalui Pengembangan Bibit Unggul dan Teknik Silvikultur
Lihat Selengkapnya:
CUT RIZLANI KHOLIBRINA, S.Hut, M.Si, Dr. ASWANDI, SELAMAT LUMBANTOBING, EDI KUWATO, NURYANA, EDY JULIANTO, DIMPU JEKSON PANJAITAN
Lihat Selengkapnya:

Pelaksanaan penelitian berusaha untuk mendapatkan karakteristik rotan jernang, mengetahui teknik perbanyakan vegetatif kapur dan membangun demplot kapur dan jernang dengan pola agroforestry. Karakteristik rotan jernang adalah pada sisik buahnya terdapat debu/resin jernang yang jika dipegang atau sentuh dapat membuat tangan menjadi merah, jika sejumput resin jernang tersebut dimasukkan ke dalam segelas air maka air tersebut seketika dapat menjadi merah darah. Apabila dibakar maka resin tersebut langsung membeku atau mengeras dan berwarna seperti merah hati. Untuk pemanenan resin jernang yang maksimal dipilih buah yang hampir mendekati tua. Jika buah telah terlalu tua maka getah jernangnya sudah hilang terbang dibawa angin atau jatuh. Karakteristik lain rotan jernang adalah berumpun dengan tinggi rata-rata 513,5 cm, keliling rata-rata 5,5 cm, panjang buku 7-82 cm, jumlai helai 16-67 helai, jumlah buku/ruas berkisar antara 4-111 buku. Panjang rata-rata daun bawah 52,25 cm dengan lebar 2,15 cm. Rata-rata panjang daun tengah 52,12 cm dengan lebar 2,66 cm, rata-rata panjang daun atas 43,75 cm dengan lebar 7,4 cm. Rata-rata jumlah daun per rumpun 44 lembar. Pada teknik perbanyakan vegetatif kapur, media terbaik adalah media pasir dengan penambahan ZPT dengan persentasi hidup 80% dan berakar 60%, untuk jumlah akar primer terbanyak yang muncul diperoleh pada media pasir: tanah : arang sekam tanpa ZPT sebanyak 3 buah dengan akar terpanjang 8,42 cm. Jumlah akar sekunder terbanyak muncul pada media pasir : tanah dengan ZPT sebanyak 29 buah dengan akar terpanjang 5,8 cm. Hasil pengukuran awal plot agroforestry Petak 1, tinggi (T) rata-rata dan keliling (K) rata-rata berturut-turut Kapur T=50 cm K=2,5, Jernang T= 40cm K=3cm, Pala T=2,5m K=25cm, Petak 2, Kapur T=45cm, K=2cm, Jernang T=40cm, K=3cm, Pala T=3m K=30cm, Pinang T=80cm K=20cm, Petak 3 Kapur T=55cm K=2cm, Pala T=3m, K=30cm, Pinang T=80cm, K=20cm, Petak 4 Kapur T=50cm, K=3cm, Pala T=2m K=30cm, Pinang T=70cm, K=20cm.

3. Penyemaian dan Penanaman Pohon Buah Hutan Khas Batak di Aek Nauli dan Lagundi, Samosir
Lihat Selengkapnya:
Dr. ASWANDI, CUT RIZLANI KHOLIBRINA, S.Hut, M.Si, ASEP SUKMANA, SP, MSc, SELAMAT LUMBANTOBING, EDI KUWATO, NURYANA, DODO A. SUHADA, EDY JULIANTO
Lihat Selengkapnya:

Berdasarkan eksplorasi diidentifikasi enam jenis pohon buah yang potensial sebagai sumber pangan dan obat-obatan yakni Rukam (Flacourtia rukam), Biwa (Eriobotya japonica), Sotul (Sandoricum koetjape), Kapundung (Baccaurea racemosa) dan Harimunting (Rodomyrtus tomentosa). Buah-buahan hutan ini masih diperdagangkan pada pasar mingguan di desa-desa sekitar hutan. Berdasarkan pengujian perkecambahan benih dari buah yang dikumpulkan, kelima jenis tersebut relatif mudah diperbanyak secara generatif. Dalam penelitian ini telah dihasilkan lebih dari 1.500 semai dari kelima jenis. Selanjutnya material hasil perbanyakan tersebut akan ditanam pada plot konservasi jenis di arboretum Aek Nauli dan uji penanaman di DTA Danau Toba.

4. Pembangunan Kebun Benih Klon Kemenyan Toba (Styrax Sumaterana)
Lihat Selengkapnya:
CUT RIZLANI KHOLIBRINA, S.Hut, M.Si, Dr. ASWANDI, SELAMAT LUMBANTOBING, EDI KUWATO, NURYANA, DODO A. SUHADA, EDY JULIANTO, DIMPU JEKSON PANJAITAN
Lihat Selengkapnya:

Sejak awal pembangunan nasional, pengelolaan hutan alam melalui eksploitasi hasil kayu merupakan salah satu sektor penting peraih devisa. Namun, manfaat ekonomi yang diperoleh juga mengorbankan kelestariannya. Kerusakan hutan telah mengakibatnya terganggunya fungsi ekosistem dalam menyediakan hasil hutan kayu dan bukan kayu, jasa lingkungan, serta secara langsung maupun tidak langsung memiskinkan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Salah satu upaya yang dicanangkan pemerintah untuk mengatasi tingginya laju kerusakan hutan adalah dengan mengembangkan skema pengelolaan hutan yang mengoptimalkan pelibatan masyarakat dengan hasil hutan bukan kayu sebagai komoditas utamanya. Berbagai studi menunjukkan bahwa skema ini menjanjikan bagi penyediaan alternatif mata pencaharian dan pengatasan kemiskinan. Beberapa skema pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang memiliki sejarah yang panjang serta telah menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat Tapanuli adalah penyadapan getah Kemenyan. Secara historis dan ekonomis komoditas ini telah dibudidayakan sejak lama dan menjadi sumber pendapatan daerah utama di daerah Tapanuli dan sekitarnya dan menjadi salah satu sumber devisa bagi negara. Akan tetapi, adanya penurunan jumlah populasi akibat penebangan, konversi dan penurunan produktivitas tanaman mengakibatkan produksi getahkemenyan semakin menurun setiap tahunnya.Umur tanaman yang sudah tua, belum menggunakan benih/bibit tanaman yang unggul serta masih mengandalkan regenerasi alami yang rendah merupakan beberapa penyebab rendahnya produktivitas pohonkemenyan. Peningkatan produksi kemenyan saat ini merupakan suatu keniscayaan. Peningkatan ini dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dari masing-masing individu pohon yang mampu menghasilkan kuantitas dan kualitas getah yang tinggi melalui rangkaian pemuliaan. Berikutnya adalah dengan secara perlahan masyarakat mengganti pohon-pohon kemenyan yang sudah tua dan tidak produktif lagi dengan benih dan bibit kemenyan yang bermutu tinggi. Benih dan bibit bermutu genetik unggul hanya dapat diperoleh dari sumber benih yang dikelola dengan baik, yaitu menerapkan pengetahuan pemuliaan pohon dalam pengelolaannya. Benih dan bibit yang memiliki genetik unggul akan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas getah dalam satu periode panen, tahan terhadap hama serta adaptif pada berbagai kondisi tapak. Salah satu strategi pemuliaan yang dapat diterapkan untuk memperoleh sumber benih kemenyan Toba adalah melalui pembangunan Kebun Pangkas, Kebun Benih Klon (KBK) dan uji coba benih kemenyan hasil irradiasi sinar gamma. Pembangunan Kebun Pangkas dan KBK ini diharapakan dapat menjadi sumber benih yang unggul untuk nantinya dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan khususnya masyarakat Tapanuli. Untuk meningkatkan progresivitas material genetik klon-klon unggul yang telah ditemukan dilakukan irradiasi. Diharapakan mutan-mutan kemenyan toba terbaik dapat dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas HHBK getah Kemenyan Toba (Styrax sumatrana) melalui menyiapan bibit unggul serta percepatannya melalui aplikasi benih irradiasi (sinar Gamma). Kegiatan meliputi kegiatan pengumpulan material perbanyakan, penyemaian, ujicoba irradiasi dan pengamatan pertumbuhan. Seluruh material genetik kemenyan toba yang berasal dari pohon plus diperbanyak melalui perbanyakan vegetatif. Perbanyak vegetatif yang dilakukan dengan menggunakan stek pucuk dan sambung (grafting). Perbanyakan vegetatif stek dilakukan dengan hormon Rotoone f, Pemotongan stek dilakukan dengan miring dengan ukuran 10 cm-12 cm. Media yang digunakan adalah pasir yang telah disterilisasi Untuk material root stock digunakan kemenyan toba dan durame. Sedangkan scionnya adalah kemenyan toba yang berasal dari pohon plus. Seluruh material di sungkup untuk menjada kelembabannya. Bahan grafting yang digunakan diambil dari pohon plus kemenyan dengan pemotongan menggunakan gunting pemotong. Setelah itu material scion ini disambungkan dengan rootstock dengan menggunakan plastik grafting. Ukuran scion lebih kurang 7-10 cm serta daun yang ada digunting setengahnya untuk mengurangi penguapan. Dari kegiatan ini diperoleh lebih kurang 5.500 batang bibit dengan bibit yang viabel sebanyak 2.500 batang. Bibit ini selanjutnya dipelihara di persemaian serta diukur pertumbuhannya. Pada akhir tahun kegiatan sekurangnya diperoleh 1.000 batang bibit kemenyan yang memiliki pertumbuhan baik. Buah kemenyan dari provenan terbaik juga dilakukan penyinaran sinar gamma (irradiasi). Dengan dosis penyinaran 15 Gy, 30 Gy, 45Gy, 60Gy, 75Gy, dan 90 Gy. Diharapkan penyinaran ini mampu memperpendek masa perkecambahan benih kemenyan toba. Kholibrina (2013) menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu 8-9 bulan benih kemenyan toba mulai berkecambah. Dan dihasilkan mutan terbaik. Media tanam yang digunakan untuk perkecambahan adalah campuran antara tanah dan pasir 1:1. Bahan yang digunakan adalah material genetik vegetatif dari pohon plus kemenyan Toba. kantong plastik kemasan, media persemaian berupa topsoil, pasir dan bak kecambah. Peralatan yang akan diperlukan adalah GPS receiver, pita diameter, thermometer, hygrometer, lux meter, parang, polibag, cangkul dan alat-alat tulis dan sungkup plastik untuk naungan dan sebagainya. Lokasi kegiatan adalah Hutan kemenyan Humbang hasundutan N2018’7.81” E 98039’46.85”, N2018’6.82” E 98039’44.65” N2018’7.87” E 98039’16.72” Persemaian Rumah kaca silvikultur. Pengamatan dilakukan secara periodik untuk melihat kesesuaian (compatibilitas) antara rootstock dan scion. Dan kemampuan berakar stek kemenyan. Pengamatan perkecambahan benih irradiasi dilakukan secara periodik untuk melihat daya kecambah daya adaptibilitas dan keserempakan tumbuh. Hasil pengamatan stek kemenyan di persemaian, selama 1 bulan dapat tumbuh dengan baik, pada bulan ke-2 sebagian tanaman mulai terserang jamur, sebagian tumbuh dengan baik sampai pada bulan ke 6 dengan menumbuh kalus dan sampai bulan 7 dengan sisa tanaman 45 tanaman dengan jumlah berakar 1 tanaman dengan jumlah akar 2 dan panjang akar 7 cm. Hasil pengamatan bibit kemenyan grafting dipersemaian rumah kaca Aek Nauli dapat tumbuh dengan baik dengan persen tumbuh yaitu 80%. Dari hasil pengamatan bibit grafting di lokasi habitat alaminya menunjukkan persentase tumbuh adalah 88,6%. Hasil pengamatan perkecambahan benih irradiasi dengan 5 dosis penyinaran 30 Gy, 45Gy, 60Gy, 75Gy, dan 90 Gy dipersemaian rumah kaca Aek Nauli dosis 30 Gy memiliki daya kecambah tercepat yakni 8 minggu setelah di tanam dengan jumlah pekecambahan sebanyak 5% dari total yang disemaikan.

5. Pilot Project Budidaya Lebah Madu Apis cerana di KHDTK Aek Nauli
Lihat Selengkapnya:
Johansen Silalahi, S.Hut., Rospita O P Situmorang, STP., M.Eng., Aam Hasanudin, Firman, Andilo Siahaan, M.Salman Z
Lihat Selengkapnya:

Usaha budidaya lebah madu merupakan suatu bentuk pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang sangat potensial untuk dikembangkan di KHDTK Aek Nauli. Tujuan dari pengembangan budidaya lebah madu adalah sebagi berikut: (1). Mendorong pengembangan usaha ternak lebah madu di sekitar hutan KHDTK Aek Nauli melalui pemberdayaan hutan dan masyarakat petani hutan, (2). Melatih masyarakat disekitar maupun diluar hutan dalam rangka alih teknologi bidang budidaya lebah madu. Hasil yang diharapkan pada kegiatan pengembangan budidaya lebah madu adalah paket lebah budidaya sebanyak 20 (dua puluh) stub, terlatihnya masyarakat disekitar maupun diluar KHDTK Aek Nauli sebanyak 20 (dua puluh) orang untuk membudidayakan lebah madu dan paket perangkap lebah alam (glodok) sebanyak 20 buah dan alat pemanenan lebah sebanyak 1 (satu) unit. Hasil pengembangan adalah telah dilaksanakan pemberdayaan hutan dan masyarakat petani hutan melalui pengembangan usaha ternak lebah madu di sekitar hutan KHDTK Aek Nauli dan telah dilatih masyarakat disekitar maupun diluar hutan dalam rangka alih teknologi bidang budidaya lebah madu. Hasil pengembangan lainnya adalah telah tersedia dan dititipkan paket lebah budidaya sebanyak 20 (dua puluh) stub, perangkap lebah alam (glodok) sebanyak 20 (dua puluh) buah dan telah tersedia alat pemanen lebah sebanyak 1 (satu) unit disekitar maupun diluar KHDTK Aek Nauli.

6. KAJIAN PERILAKU ADAPTASI GAJAH JINAK DI KHDTK AEK NAULI
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc, Sriyanti P. Barus, S.Hut., MP, Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Erwin P. Manik
Lihat Selengkapnya:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas harian gajah jinak pada beberapa lokasi pengelolaan gajah jinak di Sumatera Utara. Metode penelitian berupa observasi dan survei lapangan dengan memfokuskan pengamatan pada aktivitas gajah pada beberapa lokasi pengelolaan gajah jinak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas harian gajah di Tangkahan sudah terjadwal karena sudah menjadi paket wisata gajah. Gajah mulai jam 08.30 dikeluarkan dari kandang, diberi makan kemudian mandi dan sampai pukul 12.00 membawa wisatawan tracking ke hutan. Siang hari gajah diberi makan kembali dan melakukan aktivitas wisata kembali sampai jam 17.00 dimasukkan ke dalam kandang. Aktivitas harian gajah di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) lebih dibiarkan melakukan aktivitas alami karena belum dikembangkan sebagai paket wisata. Gajah pada pagi hari, jam 08.00 diberi makan dan kemudian di ‘angon’ sampai sore hari, jam 17.00 kembali lagi ke kandang. Perbedaan perlakuan gajah di Tangkahan dengan di BNWS diantaranya adalah : a) pengelolaan gajah di Tangkahan lebih menekankan untuk paket wisata sedangkan di BNWS menekankan pemenuhan kesejahteraan satwa, b) aktivitas gajah di tangkahan sudah terjadwal sedangkan di BNWS lebih bebas diluar kendali mahout, c) pemenuhan pakan gajah di Tangkahan banyak membeli dari masyarakat sedang di BNWS lebih banyak gajah dibiarkan mencari makan sendiri dan d) gajah masih ditunggangi ‘ditunggangi’ sebagai paket wisata sedangkan di BNWS mahout maupun pengunjung tidak boleh menunggang gajah.

7. RESTORASI KORIDOR GAJAH UNTUK MENGURANGI KONFLIK SATWA SEKITAR TN. GUNUNG LEUSER
Lihat Selengkapnya:
Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Pidin Mudiana, Marjono
Lihat Selengkapnya:

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan awal tanaman pada plot uji coba restorasi koridor seluas 1,5 ha dan menganalisis pengaruh dan kepentingan stakeholders terhadap restorasi koridor dan konservasi gajah sekitar TN. Gunung Leuser. Tanaman uji coba akan difokuskan pada klasifikasi pohon sebanyak 7 jenis. Penanaman dilakukan dengan pola tanam acak dan blok dengan jarak tanam 4 x 4 m dengan rancangan acak blok lengkap (RABL). Pengumpulan data pengaruh stakeholder akan dilakukan melalui wawancara terstruktur dan penyebaran kuisioner. Analisis data menggunakan persamaan pertumbuhan tanaman, analisis ANOVA dan stakeholders grid. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada awal penanaman untuk plot lahan terbuka rata-rata diameter tanaman antara 0,15-0,49 cm dan tinggi tanaman rata-rata 15,45-42,12 cm. Jenis tanaman yang memiliki diamater tertinggi pada setiap pola tanam adalah durian dan yang terendah adalah bayur dan jengkol. Pada plot hutan sekunder rata-rata diameter tanaman antara 0,17-0,78 cm dan tinggi tanaman rata-rata 17,36-51,39 cm. Jenis tanaman yang memiliki diamater tertinggi durian sedangkan untuk tinggi tanaman pada jenis rambutan. Pada umur tanaman enam persen hidup pada lahan terbuka yang paling tinggi adalah jenis medang, baik pada pola tanam jalur maupun pola tanam acak sebesar 66,7%. Pada hutan sekunder baik pola tanam jalur maupun pola tanam acak adalah medang sebesar 54,1% dan 51,5%. Perlakuan pola tanam dan blok (tutupan lahan) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan diamater tanaman namun blok berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan persen hidup tanaman. Pertumbuhan tinggi dan persen hidup tanaman lebih tinggi pada plot lahan terbuka. Hasil pemetaan terhadap kepentingan dan pengaruh stakeholders menunjukan bahwa lembaga yang menepati posisi sebagai Key players (pemain kunci) adalah LSM YOSL-OIC dan Balai Besar TNGL, Subject adalah Pemeritah Daerah, terutama pada tingkat Kecamatan dan Desa dan Perguruan Tinggi, seperti Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara serta sebagai posisi context setter dalam program restorasi koridor gajah di TNGL adalah perusahaan perkebunan sawit seperti PT. Putri Hijau

8. PENINGKATAN HABITAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI KPH KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH
Lihat Selengkapnya:
Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Ahmad D. Sunandar, S.Hut M.Si, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Erwin P. Manik, Pidin Mudiana
Lihat Selengkapnya:

Penelitian dan Pengembangan ini bertujuan untuk membangun demplot seluas 2 ha untuk peningkatan habitat dan mengurangi konflik atau keluarnya orangutan dari kawasan TNBT. Prosedur aspek teknik pembuatan dempot menggunakan pola tanam yang sederhana, yaitu pola tanam acak dan jalur. Demplot akan dibangun seluas 2 ha di hutan sekunder muda dan area semak belukar dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Analisis data menggunakan persamaan pertumbuhan tinggi, persentasi tumbuh dan ANOVA dalam RAKL menggunakan progran SPSS 21. Pembangunan demplot melibatkan lembaga masyarakat dan bekerjasama dengan Balai TNBT. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada plot lahan terbuka tanaman yang memiliki diamater dan tinggi paling besar adalah balam dan medang sedangkan yang terendah adalah jengkol dan petai. Pada hutan sekunder, tanaman yang memiliki rata-rata diamater dan tinggi yang paling besar adalah balam dan medang dan durian serta yang rendah adalah jengkol dan salam. Karakteristik tanaman berumur enam bulan mengalami pertambahan diameter maupun pertumbuhan tinggi yang tidak berbeda jauh. Pertumbuhan tanaman pada lahan terbuka jauh lebih tinggi dibandingkan pada hutan sekunder. Persen hidup tanaman pada lahan terbuka lebih baik dibandingkan dengan hutan sekunder, terutama pada pola tanam jalur. Hasil analisis ANOVA pada tanaman umur enam bulan menunjukan bahwa perbedaan tutupan lahan (Sig.0,05) sangat berpengaruh terhadap penambahan diamater dan pertumbuhan tinggi tanaman sedangkan pengaruh perlakuan pola tanam hanya signifikan pada persen hidup tanaman.

9. Pembangunan Demplot Taxus dan Pembuatan Teh Herbal Pirdot
Lihat Selengkapnya:
AHMAD DANY SUNANDAR, ROSPITA ODORLINA SITUMORANG, FIRMAN, SELAMAT LUMBAN TOBING
Lihat Selengkapnya:

Pemanenan pirdot masih banyak mengandalkan produksi dari alam dan masih belum menyentuh upaya budidaya. Tujuan penelitian pada tahun ini mencakup dua aspek utama kegiatan yaitu aspek silvikultur (perbanyakan vegetatif dan pembangunan plot) dan aspek sosial ekonomi (preferensi masyarakat akan pemanfaatan pirdot) dengan aspek pendukung yaitu analisis kuantitatif senyawa aktif dan pengolahan sederhana. Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan berbagai hormon dan lama perendaman. Plot dibangun di kebun percobaan Sipiso piso dengan perlakuan asal bahan tanaman dan tinggi awal. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur (menggunakan panduan tertulis) dan wawancara mendalam untuk mengetahui pemanfaatan dan preferensi masyarakat terhadap tanaman pirdot. Hasil penelitian untuk aspek kegiatan silvikultur, perbanyakan melalui stek masih mengalami kendala cuaca dan akan diulang pada akhir Desember 2016. Persen hidup pirdot satu bulan setelah tanam adalah 95% dengan tinggi rata-rata awal antara 8 – 73 cm untuk masing-masing subplot dengan jumlah daun antara 4 – 8 helai. Tingkat preferensi pemanfaatan pirdot untuk ketergori pengobatan penyakit tergolong tinggi, namun untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan ekonomi tergolong sedang. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun, bunga dan buah pirdot sangat kompleks. Terdapat 20 jenis senyawa kimia penting dalam daun, 10 senyawa kimia dalam bunga, dan 20 senyawa dalam buah. Pengolahan syrup pirdot dengan 4 metode pengolahan, memberikan hasil yang berbeda terhadap penampilan, aroma, dan rasa syrup. Selanjutnya pemberian konsentrasi pengawet yang berbeda memberikan pengaruh yang linier terhadap parameter aroma, TSS, tingkat kemasaman (pH), dan gula reduksi. Namun untuk parameter total asam, warna dan rasa tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada seluruh perlakuan.