Balitbang LHK Aek Nauli

Halau Stres dengan Healing Forest Aek Nauli

Penulis : Parlin Hotmartua Putra Pasaribu (Peneliti Pada Balai Litbang LHK Aek Nauli)
Kesehatan merupakan suatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Terlebih pada masa pandemik seperti sekarang ini. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia dalam meningkatkan kesehatan fisik dan jiwanya. Salah satunya yaitu dengan melakukan kegiatan Healing Forest. Dilansir dari buletin Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur edisi 2020, Healing forest merupakan salah satu kegiatan pemanfaatan hutan untuk pemulihan kesehatan. Healing forest awalnya dikenal dengan istilah Shinrin Yoku yang dicetus pertama kali oleh Badan Kehutanan Jepang.  Kemudian istilah Shinrin Yoku tersebut disebarluaskan oleh Qing Li. Qing Li merupakan Presiden Kelompok Pengobatan dari Hutan di Tokyo. Beliau mempopulerkan istilah forest bathing atau disebut juga Shinrin Yoku dalam bahasa Jepang dalam bukunya yang berjudul “The Art and Science of Forest Bathing”.

Pengertian Healing Forest

Healing Forest merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dalam memanfaatkan hutan khususnya tegakan pohon untuk mendapatkan kesembuhan atau peningkatan kesehatan. Healing forest sering disebut sebagai terapi hutan dengan metode menyatu dengan hutan itu sendiri. Terapi hutan yang umum dilakukan yaitu seperti menghirup udara atau aroma segar hutan, berjalan sambil memandang areal hutan, berdiam diri atau melakukan yoga di bawah tegakan hutan dan lain sebagainya.

Penel­itian Healing Forest di Indonesia

Dilansir dari takaitu.id penelitian perihal healing forest di indonesia masih terbilang baru yaitu sekitar beberapa tahun terakhir. Salah satu peneliti yang mengkaji hal tersebut adalah Hikmat Ramdan. Beliau merupakan Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung dan Alumni Fakultas Kehutanan IPB Angkatan 1990. Beliau melakukan pengujian saat acara Forest Camp para alumni Fakultas Kehutanan IPB pada 27 Oktober 2019 di Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa level tingkat stres para peserta mengalami penurunan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Natasha Virginia Leuwol  dan Rona Patricia Sibarani, mahasiswi Universitas Victory Sorong mendapati bahwa terjadi penurunan level tingkat stres terhadap 6 (enam) orang responden bahkan mencapai 20 level penurunan.

Penelitian Healing Forest di Dunia

Penelitian tentang healing forest pernah di lakukan di Negara Taiwan oleh 3 (tiga) orang akademisi yaitu Tsun Chen Huan, Pin Yu Chia dan Yun Lee Hsiao dengan judul penelitian “The Effects of Forest Bathing on Stress Recovery : Evidence from Middle-Aged Females of Taiwan”. Mereka melakukan pengujian terhadap kelompok wanita paruh baya. Setelah melakukan pengujian selama 2 (dua) hari hasilnya menunjukkan bahwa terjadi penurunan suasana hati negatif seperti kecemasan, kemarahan, ketegangan, kebingungan, dan permusuhan setelah mengunjungi hutan dan sebaliknya terjadi peningkatan suasana hati positif (kekuatan). Hasil penelitian ini juga menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik yang cukup signifikan. Intinya, program terapi hutan ini sangat bermanfaat dalam kesembuhan mental dan fisik.

Penelitian lain terkait healing forest juga dilakukan oleh Won Kim Han, Sop Shin won, dan Soon Jang Cheoul yang merupakan alumni Chungbuk National University, Korea Selatan. Penelitian ini berjudul “Effects of Forest Healing Program on Cultural Adaptation Stress and Psychological Wellbeing of Foreign Workers”. Penelitian ini menggunakan responden sebanyak 40 (empat puluh) pekerja asing yang terdiri dari 24 laki-laki dan 16 perempuan. Setelah  melakukan program healing forest selama 3 hari 2 malam didapatlah bahwa terdapat peningkatan kekebalan tubuh dan pemulihan kesehatan fisik bahkan stres terkait adaptasi budaya kerja menurun secara drastis.

Manfaat Healing Forest

Dilansir dari artikel Remark Asia yang berjudul “Shinrin Yoku” menyimpulkan bahwa berdasarkan beberapa penelitian yang dikutip banyak data yang membuktikan bahwa shinrin-yoku dapat:

  • Mengurangi tekanan darah
  • Menurunkan stres
  • Meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan metabolisme
  • Menurunkan kadar gula darah
  • Meningkatkan konsentrasi dan daya ingat
  • Menghilangkan depresi
  • Memperbaiki rasa nyeri
  • Meningkatkan energi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan peningkatan jumlah sel pembunuh alami atau natural killers tubuh
  • Meningkatkan produksi protein anti kanker
  • Membantu Anda menurunkan berat badan

Lokasi Healing Forest di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli

Balitbang LHK Aek Nauli memiliki Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang cukup luas yaitu 2.412,36 ha yang berada pada daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.000 – 1.750 meter dari permukaan laut. Lokasi yang sejuk dengan ditutupi tegakan pohon yang lebat, lingkungan lestari, dan disertai kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang baik menjadikan tempat ini layak sebagai lokasi healing forest. Secara administratif Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli terletak di desa Sibaganding Kecamatan Girsang Sipanganbolon dan Desa Dolok Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun yang relatif dekat dengan Danau Toba. Adapun titik lokasi healing forest sendiri berada di areal arboretum blok G Balitbang Aek Nauli seluas 2 ha.

Panduan Kegiatan Healing Forest di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli

Dikutip dari artikel penelitian healing forest di Balitbang LHK Aek Nauli oleh M. Hadi Saputra, seorang peneliti di Balitbang LHK Aek Nauli menyebutkan bahwa kegiatan healing forest dapat dilakukan dengan durasi 1-2 jam dan dibagi kedalam 4 (empat) tahapan. Kegiatan healing forest tersebut anatara lain sebagai berikut, yaitu:

  1. Jalan santai (tidak jalan cepat atau jogging).

Jalan santai ini berlangsung sekitar 15-20 menit. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berjalan ringan atau santai di dalam areal hutan. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok. Jika dilakukan secara berkelompok harus dengan menjaga jarak sekitar 1 meter antar tiap peserta. Dalam kegiatan ini juga peserta dilarang untuk bersuara atau mengobrol. Peserta hanya mendengar arahan dari instruktur atau guide.

  1. Olah pernapasan ringan.

Kegaiatan olah pernapasan ini dapat berlangsung sekitar 10-20 menit. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali yaitu setelah jalan santai dan yang kedua setelah melakukan aktivitas berdiam diri. Gerakan olah pernapasan ini dipandu oleh guide selama kurang lebih 5-10 menit.

  1. Berdiam diri

Kegiatan berdiam diri ini dapat berlangsung sekitar 30 – 45 menit. Kegiatan ini dapat dilakukan pada 3 titik/lokasi. Jika kegiatan ini dilakukan dengan banyak orang dapat dibentuk 3 kelompok dengan jumlah peserta untuk tiap titiknya yaitu 2-3 orang. Kegiatan ini dilakukan dengan cara masing-masing orang duduk dengan nyaman pada matras seraya melakukan meditasi menikmati suasa hutan. Saat melakukan kegiatan ini dihimbau kepada peserta untuk tidak melakukan kontak antara seorang dengan yang lain. Setelah selesai, para peserta diarahkan untuk melakukan olah pernapasan yang kedua.

  1. Melihat Pemandangan

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan berdiam diri. Dengan posisi berdiam diri peserta diminta untuk menikmati pemandangan sekitar areal hutan.  Usahakan untuk fokus agar proses pembauran dengan alam dapat tercapai.

Perlu diketahui juga bahwa sebelum dan sesudah kegiatan program healing forest akan dilakukan pengecekkan respon kesehatan pengunjung seperti parameter detak jantung Beats Per Minute (BPM), saturasi oksigen, ketegangan otot, kadar gula, dan lain-lain (aspek biofisik), stres (aspek biopsikologi). Adapun pengecekkan respon tersebut dilakukan di Rumah Singgah Peduli Kanker Balitbang LHK Aek Nauli yang berada persis di dekat arboretum blok G. Rumah Singgah tersebut juga dapat diperuntukkan bagi penderita kanker yang ingin melakukan proses pemulihan kesehatan. Nah, tunggu apalagi Ayo ke Aek Nauli dan nikmati manfaat program Healing Forestnya.

***
REFERENSI

Cantigunung. 2020. “Forest Healing, Potensi Hutan untuk Menyembuhkan”. https://takaitu.id/forest-healing-potensi-hutan-untuk-menyembuhkan/ diakses pada 6 juli 2021 pukul 08.00 WIB

Han, W.K., Won, S.S., dan Cheoul, S.J. 2019. Effects of Forest Healing Program on Cultural Adaptation Stress and Psychological Wellbeing of Foreign Workers. Jurnal JPPE 22 (5), 505

Huan,T.C., Chia, P.Y dan Hsiao, Y.L. 2018. The Effects of Forest Bathing on Stress Recovery : Evidence from Middle-Aged Females of Taiwan. Jurnal Forests 403 (9), 1

Kurniawan, anis. 2021. “Forest Healing, Energi Menyembuhkan dari Belantara Hutan”. https://klikhijau.com/read/mengenal-sumber-daya-alam-yang-dapat-diperbaharui-dan-tidak-dapat-diperbaharui/ diakses pada 5 Juni 2021 pukul 08.00 WIB

Leuwol, N.V., Sibarani, R.P. 2020. Kajian Pengembangan Ekowisata Sebagai Pendekatan Terapi Hutan Di Kawasan Wisata Hutan Mangrove Kota Sorong. Jurnal Noken 6 (1), 4.

Muhtaman, dwi R. 2020. Shinrin Yoku. Bogor : Remark Asia

Saputra, M.H . 2020. Healing Forest Aek Nauli “Terapi Kesehatan di Masa Pandemi”. Artikel

Syahrawi, Nur Fadhila. 2020. Can Forest Healing People?. Surabaya : Buletin Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *