Balitbang LHK Aek Nauli

Wisata Ilmiah Panen Madu di Acara Peresmian ANECC

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli)_Kamis, 07/12/2017 Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) diresmikan di Aek Nauli. Peresmian acara ini dihadiri oleh beberapa tamu penting di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seperti Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc; Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Agus Justianto; Tenaga Ahli Menteri Bidang Dukungan Kerja Pengembangan Danau Toba, Gideon Ketaren; Sekretaris BLI,  Dr. Ir. Sylvana Ratina, M.Si; Kepala Puslitbang Hasil Hutan, Dr. Ir. Dwi Sudharto, M.Si; Kepala-Kepala UPT Kementerian LHK di Prov. Sumatera Utara, dan juga dari instansi lain seperti Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Kapolres Simalungun, Dandim Simalungun, serta pejabat dan masyarakat daerah setempat.

Disela-sela peresmian ANECC, BP2LHK Aek Nauli tidak lupa mengenalkan produk hasil litbang Aek Nauli yaitu madu. BP2LHK Aek Nauli telah lama memiliki wisata ilmiah panen madu yang dapat dimanfaatkan wisatawan yang berkunjung sebagai sarana pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, bahkan budidaya untuk menambah penghasilan tambahan bagi para wisatawan yang berminat.

Didampingi Pratiara S.Hut., M.Si (Kepala BP2LHK Aek Nauli), salah seorang Teknisi Litkayasa, yaitu Aam Hasanudin, S.Hut mengenalkan wisata ilmiah panen madu kepada para tamu undangan, terkhususnya kepada Dirjen KSDAE dan Kepala BLI yang sudah siap dengan topi pelindung dari serangan lebah madu. Pada saat pengenalan lebah madu, tamu VVIP terlihat sangat antusias terhadap penjelasan yang dipaparkan oleh Aam Hasanudin terlebih lagi saat dilakukan proses pemanenan lebah madu. Banyak pertanyaan yang dilontarkan para tamu undangan. Aam menjelaskan mulai dari cara pembudidayaan, alat-alat yang digunakan dalam budidaya, usia panen madu, pakan lebah hingga pada teknik pemanenan.

Aam menjelaskan pakan madu yang ada disekitaran lokasi pemanenan Aek Nauli adalah kaliandra. Selain itu, Aam juga menunjukkan teknik pemanenan madu dengan menggunakan alat ekstraktor. “Ekstraktor ini telah banyak digunakan oleh pemerintah daerah setempat,” kata Aam.

Hasil pemanenan madu ini langsung dapat dicicipi para peserta tamu undangan yang berada tepat pada lokasi pemanenan madu. Selain Dirjen KSDAE dan Kepala BLI, Kapus Litbang Haslil Hutan serta para tamu undangan lain yang menyaksikan juga sangat antusias pada saat mencicipi potongan-potongan madu Aek Nauli. “Madu sehat,” kata Wiratno disela-sela mencicipi potongan madu. “Mantap, mantap,” sambung Agus Justianto setelah selesai mendengarkan penjelasan dan mencicipi madu. Kata ‘mantap’ juga dilontarkan para tamu lainnya sambil tetap mencicipi dan mengambil potongan-potongan madu Aek Nauli.

Banyak tamu menanyakan harga dari madu asli Aek Nauli. “Kita juga menampung hasil madu dari masyarakat, binaan kita. Harga dari madu sarang yang kita tampung sekitar Rp200.000-250.000 per kilo,” pungkas Aam.

***

Kontributor artikel liputan: Donna C. Pandiangan, S.Hut.

Kontributor foto: Alharis Muslim dan Hery Susanto

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *