Wisata Budaya Danau Toba: Sianjur Mula-Mula, Disini Segalanya Bermula

Gunung Pusuk Buhit

Selain panoramanya yang indah, Danau Toba juga memiliki banyak situs-situs budaya yang menarik. Banyak peninggalan bersejarah tersebut memiliki posisi penting dan disakralkan oleh masyarakat setempat. Salah satunya adalah daerah yang bernama Sianjur Mula-mula, sebuah daerah yang dipercaya oleh masyarakat batak sebagai lokasi asal-muasal peradaban suku Batak di Danau Toba. Di daerah ini terdapat sebuah daerah bernama “Pusuk Buhit”, sebuah gunung dengan ketinggian 1.500 mdpl di sebelah Barat Danau Toba, yang dipercaya sebagai lokasi turunnya manusia pertama suku Batak di muka bumi.

Dikisahkan bahwa pada awal mula penciptaan bumi, terdapat seorang gadis bernama Si Boru Deak Parujar, putri Dewata Batara Guru. Suatu hari, sang putri turun dari langit karena tidak berkenan dijodohkan orangtuanya dengan seorang pria keturunan dewa bernama Siraja Odap-odap. Dalam persembunyian di benua bawah (Bumi), Si Boru Deak Parujar meminta bantuan seekor burung yaitu, Sileang-leang Mandi untuk menyampaikan pesannya kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa), agar berkenan mengirimkan segenggam tanah untuk ditempa menjadi Bumi tempatnya berpijak.

Kemudian, tanah tersebut diberikan oleh Debata Mulajadi Nabolon. Tanah yang ditempa Si Boru Deak Parujar tersebut berkembang secara ajaib hingga ujungnya tidak kelihatan. Lalu, tanah itu diberi nama Pulau Morsa (Pulau Tersamar). Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar digunjang gempa akibat ulah seorang raksasa buruk rupa bernama Naga Padoha Niaji yang juga tertarik akan pesona kecantikan sang putri. Seiring berjalannya waktu, sang raksasa kelelahan mengganggu Si Boru Deak Parujar.

Karena sendirian di Bumi, Si Boru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk berbicara. Tidak lama kemudian, putri bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan kemudian menikah dan menjadi suami-istri. Dari hasil pernikahan mereka, lahirlah Si Raja Batak yang kemudian menjadi leluhurnya masyarakat suku Batak Toba.

Situs Budaya Aek Sipitu Dai

Di kaki gunung Pusuk Buhit terdapat Aek Sipitu Dai (berarti Air Pancuran Tujuh Rasa). Pancuran yang berasal dari tujuh sumber air ini disakralkan. Masing-masing pancuran memiliki rasa yang berbeda, mulai dari rasa manis, rasa asam, hingga rasa yang tidak dapat diketahui. Namun, tidak ada airnya yang berasa tawar. Setiap pancuran melambangkan status masyarakat yaitu (1) Pancuran ni Dakdanak (tempat mandi bayi yang belum ada giginya), (2) Pancuran ni Sibaso (tempat mandi para ibu yang telah tua), (3) Pansuran ni Ina-ina (tempat mandi para ibu yang masih dapat melahirkan), (4) Pansur ni Namarbaju (tempat mandi gadis-gadis), (5) Pansur ni Pangulu (tempat mandi para raja), (6) Pansur ni Doli (tempat mandi para lelaki), dan (7) Pansur ni Hela (tempat mandi para menantu laki-laki, yaitu semua marga yang mengawini putri marga Limbong). Menurut kepercayaan masyarakat Batak, mata air Aek Sipitu Dai dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Situs budaya dipercaya merupakan peninggalan sejarah dari Siraja Batak dan merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sehari-hari bagi Siraja Batak dan keluarganya.

Batu Hobon

Di kawasan Gunung Pusuk Buhit juga terdapat Batu Hobon. Batu ini menurut legenda masyarakat Batak, merupakan hadiah Raja Uti, cucu dari Si Raja Batak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda pusakanya orang Batak dan Kitab yang berisi ajaran-ajaran dari para leluhur. Layaknya sebuah tempat sakral untuk menyembah, penduduk setempat menghiasi Batu Hobon dengan hiasan-hiasan berupa bunga.

Dengan beragamnya wisata budaya yang terdapat di Danau Toba, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli yang terletak di sekitar wilayah Danau Toba juga ikut berkomitmen dan berpartisipasi dalam melestarikan dan mendukung budaya dan kesejahteraan masyarakat sekitar Danau Toba melalui berbagai penelitian dan pengembangan yang langsung menyentuh kepada masyarakat Batak Toba. Antara lain melalui penelitian kemenyan, pemberdayaan masyarakat melalui budidaya lebah madu dan lain sebagainya. Diharapkan dengan penelitian dan pengembangan yang telah dan sedang dilakukan ini dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar Danau Toba sehingga kondisi alam dan budaya setempat tetap terjaga dengan baik.

Kontributor Artikel dan Foto: Maskulino

Bagikan ini di:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *