Balitbang LHK Aek Nauli

Teknik Pengendalian Hama Bajing Pada Buah Makadamia

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Mei 2019)_Makadamia (Macadamia integrifolia) adalah tanaman yang berbuah sepanjang tahun dan mampu tumbuh di lahan kritis seperti di kawasan sekitar Danau Toba. Buah makadamia sangat lezat, makanya terkadang sebelum dapat dipanen buah yang sehat nan lezat ini sudah dimakan lebih dulu oleh hama seperti bajing. Begitulah kondisi tanaman makadamia yang ada di Kebun Percobaan Sipisopiso sekarang. Makadamia yang ada di Kebun Percobaan Sipisopiso ditanam pada bulan Nopember 2009 oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli. Sejak tahun 2015 tanaman tersebut telah mulai berbuah sepanjang tahun. Pada masa berbuah adakalanya jumlah yang diperoleh sedikit tapi tidak jarang pula produksi buah mencapai lebih dari 10 kg dalam satu periode berbuah.

Buah makadamia merupakan biji bernilai ekonomi tinggi, dimana dapat menghasilkan produk makanan, apikultur, bahan bakar, tanin, dan minyak atsiri. Berdasarkan beberapa sumber, biji makadamia mempunyai kadar lemak yang tinggi. Selain itu, makadamia menghasilkan biji yang paling mahal diantara berbagai jenis biji kacang kacangan seperti biji jambu mete, almond, kacang tanah, dan lain-lainnya. Lebih lanjut, biji ini juga kaya akan nutrisi dan unsur unsur penting seperti kalsium, besi, fosfor, magnesium dan potassium, hingga zat antioksidan.

Dari segi ekonomi, harga biji yang sudah dikupas dapat mencapai Rp. 800.000 per kg. Dari sisi ekologinya, tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada lahan kritis sehingga menjadi sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, khususnya di daerah Sumatera Utara dalam rangka merehabilitasi Danau Toba, memperindah pinggiran Danau Toba, baik dengan pengembangan sistim agroforestry, maupun dengan penyediaan benih untuk keperluan lainnya. Penanaman makadamia dilereng gunung Sipisopiso menunjukan bahwa jenis ini sangat berpotensi untuk dijadikan salah satu tanaman rehabilitasi dan penghasil buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Makadamia ini dapat dibudidayakan dengan dua cara, yaitu generatif dan vegetatif. Secara generatif tidaklah menjadi hal yang sulit. Hanya dengan cara mengunduh/mengumpulkan buah dari pohon induk baik dengan cara perontokan maupuan cara pemanjatan/memetik buah. Adapun ciri-ciri buah matang adalah buah berwarna kecoklatan dan buah mudah jatuh. Biji yang baik adalah biji yang berasal dari buah segar yang baru dibuka dari kulitnya serta dari pohon yang subur untuk kemudian dijemur dengan sinar matahari selama 2 hari selajutnya ditanam. Adapun persen tumbuh dapat mencapai ≥ 95 %. Sedangkan pembiakan secara vegetatif dengan menggunakan stek pucuk masih belum banyak dilakukan dengan pertimbangan pertumbuhan lambat.

Walaupun tanaman Makadamia ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun belum dapat dibudidayakan secara luas. Hal ini disebabkan belum banyaknya sosialisasi terhadap masyarakat, serta belum adanya ketersediaan bibit atau benih yang memadai. Selain dari pada itu makadamia juga mempunyai persyaratan tempat tumbuh spesifik yaitu pada ketinggian 900 – 1700 m dpl dengan curah hujan tinggi.

Tegakan yang dibangun akhir 2009 dapat tumbuh dengan baik dengan diameter 15 -20 cm dan tingggi dapat mencapai 12 meter. Dalam jangka waktu 6 tahun tanaman ini telah berbuah. Setiap pohon menghasilkan 2 hingga 5 kg pada setiap panen atau 10 hingga 20 kg biji kacang setahun. Terjadi peningkatan jumlah buah setiap tahun.  Pada tahun 2015 jumlah pohon berbuar berkisar 5 pohon, 2016 meningkat menjadi 10 pohon dan 2017 berkisar 30 – 40 pohon. Sebelum terjadi serangan bajing, buah sangat bagus dan utuh, dimana satu pohon bisa memperoleh 0,5 – 1 kg dalam satu periode panen, sedangkan sekarang dengan jumlah pohon yang bebuah lebih dari 40 pohon, biji yang didapatkan tidak ada sama sekali.

Lokasi Kebun Percobaan Makadamia berada diantara lahan pertanian dan hutan. Lahan pertanian pada umumnya ditanami kopi, kentang, kol, kubis, jipang, dan lainnya oleh masyarakat. Pada lahan hutan terdapat Eucalyptus, Kaliandra, Pinus, serta semak belukar. Lahan hutan Gunung Sipisopiso sering pula terjadi kebakaran. Dengan terjadinya kebakaran hutan maka sumber pakan semakin berkurang sedangkan populasi bajing bertambah. Dengan populasi yang banyak serta dengan adanya jenis pakan baru yang lezat dan gurih, buah Makadamia ini menjadi sasaran yang paling disukai bajing. Dari buah muda sampai buah tua habis dimakan oleh bajing.

Pengendalian hama bajing telah dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan memasang lem tikus, perangkap tikus sampai ke racun posfit dengan menempatkan racun pada tempurung kelapa yang telah diisi air kemudian ditempatkan pada pohon Makadamia, Namun dari berbagai perlakuan tersebut belum berhasil mengusir serangan bajing.

Menurut pengalaman dan informasi petani kelapa, bahwa pada pohon kelapa telah dicoba dengan memakai seng plat yaitu dengan memasang seng plat yang dililitkan pada batang yang berbuah, hal ini berhasil mengurangi hama bajing pada pohon kelapa. Bajing yang berusaha memanjat tanaman kelapa tidak dapat melewati rintangan seng plat yang licin.

Dengan kata lain bajing tidak mampu mencengkram batang yang dilapisi seng plat. Berdasarkan hal tersebut, pemanfaatan metode seng plat berpotensi untuk dapat dilakukan pada tanaman makadamia. Karena kebun makadamia ini jaraknya berdekatan satu pohon dengan pohon lainnya serta bajing itu pandai melompat maka disarankan untuk memasang seluruh pohon yang berdekatan.***DAS

Bagikan ini di:

1057total visits,12visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *