Balitbang LHK Aek Nauli

Stek Pucuk : Solusi Mengatasi Tingginya Permintaan Bibit Makadamia

Oleh: Dodo A. Suhada (Teknisi Litkayasa Penyelia) dan Cut Rizlani Kholibrina (Peneliti Muda)

Macadamia integrifolia telah ditanam dan tumbuh baik pada Hutan Penelitian Sipiso-piso (1.200 mdpl). Tegakan seluas 2 (dua) hektar yang dibangun pada akhir tahun 2009 untuk sumber benih, saat ini memiliki diameter batang 15-25 cm dan tinggi 10-15 cm dengan pembungaan dan buah yang masif. Kemampuan hidup pada lahan kritis, terbuka dan rentan kebakaran, menunjukkan bahwa jenis ini cocok di tanam di sekitar Danau Toba.

Sejak diperkenalkan tahun 2017 kepada masyarakat, tercatat animo masyarakat yang tinggi untuk menanamnya. Namun, permintaan jauh lebih tinggi dibandingkan ketersediaan bibitnya. Karena bersifat trade off antara produksi kacang Makadamia dengan penyediaan bibit dari benih (generatif), perbanyakan secara vegetatif menjadi solusi pengadaan bibit yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan pertimbangan ini, Cut Rizlani Kholibrina, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli bersama Akademisi USU Dr. Arida Susilowati dan mahasiswa Fahutan USU, Mutia Kana Purba mencoba pengembangbiakan makadamia dengan teknik stek pucuk.

Selain memiliki keunggulan dalam sumber material yang melimpah, Aziz (2012) menyebutkan bahwa keunggulan lain melalui stek adalah tanaman yang dipilih dapat dipertahankan sifat-sifatnya yang unggul sesuai dengan keinginan di dalam usaha budidayanya.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbanyakan stek pucuk makadamia menghasilkan persentase hidup yang cukup besar mencapai 86,66% bahkan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh. Hal ini memungkinkan masyarakat lebih mudah mengadopsi teknik stek dan tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk membeli zat pengatur tumbuh yang relatif mahal untuk menghasilkan bibit yang berkualitas dalam jumlah cukup.

 

Pustaka :

Aziz, S.A. 2012. Pelatihan Pembibitan Tanaman Obat Tahap I: Perkembangbiakan Dengan Stek. Southeast Asian Food And Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center. Researchand Community Service Institution Bogor Agricultural University.

Dokumentasi: Cut Rizlani Kholibrina dan Mutia Kana

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *