Balitbang LHK Aek Nauli

Sikkam (Bischofia javanica blume) Sebagai Obat Tradisional

Tegakan Sikkam di Arboretum BP2LHK Aek Nauli

Indonesia merupakan Negara berkembang yang kaya akan aneka  tumbuh-tumbuhan. Hutan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki banyak tanaman yang berkhasiat sebagai tanaman bahan material obat, yang telah digunakan secara turun temurun. Salah satu penyakit yang umumnya diderita oleh masyarakat adalah diare, mag, dan asam lambung. Penggunaan obat tradisional ini didukung oleh sumber bahan obat nabati yang banyak tumbuh di hutan Indonesia. Keuntungan penggunaan obat tradisional antara lain karena bahan bakunya mudah didapat dan juga harganya relatif murah. Selain itu, 80 % penduduk Indonesia hidup di pedesaan, keadaan ini membuat sulit dijangkau oleh obat modern dan tenaga medis karena masalah distribusi, transportasi, dan komunikasi serta daya beli yang relatif rendah, menyebabkan masyarakat pedesaan kurang mampu mengeluarkan biaya untuk pengobatan secara modern, sehingga mereka cenderung memilih pengobatan secara tradisional (Pudjarwanto, Simanjuntak dan Nur, 1992).

Arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, tidak saja merupakan kebun koleksi jenis-jenis tanaman hutan akan tetapi merupakan salah satu tempat wisata ilmiah yang potensial untuk sebagai tempat penelitian dan sarana belajar. Pada Arboretum BP2LHK Aek Nauli terdapat plot Sikkam yang ditanam pada tahun 1995. Selain itu juga terdapat beberapa jenis tanaman obat yang berpotensi ekonomis, antara lain Taxus sumatrana, Pirdot, Rukam, Jambe, dan Sikkam.

Daun Sikkam

Sikkam (Bischofia javanika Blume) termasuk pohon dari suku Euphorbiaceae, dengan nama daerah Singkam, Cingkam (Batak); Tingkem (Gayo, Aceh); Gadog, Ginting Keranjing (Jawa); di negara-negara lain disebut Jintang (Malaysia); Tuai (Sabah, Filipina); Toem, Pradu-Som (Thailand); Khom fat (Laos); dan Nhoi (Vietnam). Sedangkan kayunya dalam perdagangan dikenal dengan nama Bischop wood atau Java cedar (Rojbongshi, et. Al, 2014). Hampir seluruh bagian dari pohon Sikkam ini mempunyai manfaat dari bagian akar sampai daun.

Batang Sikkam

Sikkam merupakan salah satu jenis komersial yang dapat dipergunakan sebagai bahan rumah tangga seperti, mebel, jembatan, tiang, interior, alat pertanian, ukiran dengan persyaratan bahwa kayu ini harus terlindung dari sinar matahari secara langsung. Selain dari itu, dapat juga dijadikan bahan baku berupa pulp dan kertas. Manfaat lainnya yang jauh lebih penting adalah sebagai salah satu zat pewarna alami yang telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat secara turun menurun jauh sebelum mengenal zat pewarna sintesis yaitu untuk mewarnai pakaian, jala, dan anyaman bambu (Bachheri, et. Al 2013). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji manfaat Sikkam antara lain dapat digunakan sebagai anti leukemia, anti inflamasa (Sutarson, et. al. 2004), anti mikroba dan anti alergi (Rajbongshi et, al. 2014), serta mengobati luka bakar dan merangsang pertumbuhan rambut (Pradan dan Badola, 2008).

Daun Sikkam dapat dimanfaatkan untuk menghalau hama penyakit pada tanaman jagung dan padi. Kulit kayunya oleh masyarakat Sumatera Utara secara turun menurun digunakan sebagai ramuan untuk memasak daging yang disebut dengan Holat, dapat mengobati luka, diare, mag dan asam lambung, dan juga digunakan sebagai obat kumur.

Bibit/Anakan Sikkam

Adapun kandungan kimia yang terdapat dalam pohon Sikkam adalah Protein (18,69%); Karbohidrat (18,91%); Tanin (16,00%) (Ajib dan Khan, 2012), Flavonoid, Lenersetin, Sitosterol, Asam stearat (3,89%); Asam limolenat (56,76%); Asam palminat (12,28%); Serat (5,32%) terdapat juga Kalsium, Kalium dan Magnesium (Bachheti, et. Al 2013); serta menurut Rajbongshi, et. Al 2014 terdapat Vitamin C dan asam elagit ( 8-10%).

Dalam budidaya/pengembangan/perbanyakan anakan tergolong mudah yaitu dapat dilakukan dari biji, stek batang, stek pucuk bahkan dengan stek akar. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik dari dataran rendah sampai kedataran tinggi yaitu dari 400-1700 mdpl.***DAS

 

Pustaka

Sari Kus Angraini. 2017. Uji aktivitas anti bakteri dan ekstrak etanol kulit batang sikkam dan dalam kesediaan obat kumur. Skripsi Program Ektensi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.

Ajaib, M. dan Khan. Z. U, Rajbongshi 2012. Bischofia javanica, A new record to the flora of Pakistan Biologia (Pakistan) 58. (1.2) : 179-183.

Tjitro Soepomo, G. 2005. Taksonomi tumbuhan obat-obatan. Cetakan ke 2. UGM Press. Yogyakarta. Halaman 1-13 dan 113-181.

Bernatal Saragih. 2001. Potensi anti mikroba ekstak kulit kayu sikkam (Bischofia javanica Blume) terhadap bakteri patogen dan perusak makanan. Tesis Program Pasca Sarjana, IPB.

Bagikan ini di:

891total visits,3visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *