Balitbang LHK Aek Nauli

Sharing Pengelolaan Wisata, BP2LHK Aek Nauli Kunjungi BP2LHK Manado dan BTN Bunaken

BP2LHK Aek Nauli (Manado, Januari 2020)_Selama dua hari (25-26/1/2020), Seksi Data, Informasi, dan Kerjasama (DIK) Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli mendapatkan kesempatan untuk berkunjung, berdiskusi, dan sharing informasi terkait pengelolaan wisata ke Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado dan Balai Taman Nasional (BTN) Bunaken.

 

Kolaborasi Pengelolaan Anoa Breeding Centre (ABC) dengan Berbagai Pihak

Pada hari pertama, Kepala Seksi DIK BP2LHK Aek Nauli, Ismed Syahbani, S.Hut dan tiga orang staf mengunjungi BP2LHK Manado dan ditemui langsung oleh Kepala BP2LHK Manado, Mochlis, S.Hut.T, MP yang didampingi oleh Kasi DIK, Lulus Turbianti, S.Hut.

Seperti yang telah diketahui, BP2LHK Manado memiliki Anoa Breeding Centre (ABC) sebagai penangkaran Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi) yang merupakan satwa endemik Sulawesi. ABC sudah menjadi ikon BP2LHK Manado yang kiprahnya sudah diakui oleh berbagai pihak. Saat ini ABC di BP2LHK Manado telah memiliki 10 ekor Anoa, yaitu 3 jantan dan 7 betina.

Dalam pengantarnya, Ismed menyampaikan bahwa saat ini selain terdapat wisata ilmiah seperti panen mandu, panen kemenyan, dan panen pinus, di BP2LHK Aek Nauli juga terdapat demplot litbang Rusa Sambar (Rusa unicolor). Karena itu perlu sharing informasi dari BP2LHK Manado yang sudah berpengalaman menangkarkan Anoa, terutama terkait kolaborasi pengelolaan dan juga peningkatan fasilitas dan sarana prasarananya.

Menanggapi hal tersebut, Mochlis menjelaskan bahwa selain kegiatan penelitian dan pengembangan, salah satu program ABC adalah menyebarluaskan informasi konservasi Anoa kepada masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat dapat turut serta melestarikan dengan menjaga kawasan hutan yang menjadi habitat Anoa.

“Anoa yang ditangkarkan di ABC memang merupakan satwa langka yang menjadi prioritas dan perhatian banyak orang. Anoa masuk kategori satwa terancam punah (endangered) dalam IUCN Red List dan Appendices I CITES. Sehingga dalam pengelolaannya banyak pihak yang peduli dan bersedia berkolaborasi atau bekerjsasama,” kata Mochlis.

Senada dengan hal tersebut, Lulus menjelaskan bahwa pengelolaan anoa merupakan kerjasama berbagai pihak, terutama dengan perusahaan swasta yang berada di provinsi Sulawesi Utara.

“Kalau mengandalkan dana Balai, agak sulit untuk mengelola ABC ini, karena butuh biaya yang tidak sedikit, baik untuk pakan, dokter hewan, dan juga fasilitas kandangnya. Namun semua itu bisa diatasi melalui kerjasama dengan beberapa perusahaan yang punya kepedulian,” kata Lulus.

Kemudian Mochlis kembali menyampaikan bahwa untuk wisatanya, ABC memang belum dikelola maksimal, apalagi untuk setoran PNBP seperti di BP2LHK Aek Nauli.

“Tahun lalu walaupun sudah banyak yang berkunjung, tapi kita belum pungut PNBP-nya, karena masih perlu sedikit penyempurnaan untuk paket wisata ilmiah. Insyaallah tahun ini sudah bisa kita launching dan laksanakan,” pungkas Mochlis.

Kemudian tim DIK BP2LHK Aek Nauli diajak melihat langsung kandang dan klinik ABC yang dipandu oleh staf seksi DIK BP2LHK Manado, Muhammad Farid. Menurut Farid sebagian fasilitas dan sarana prasarana ABC merupakan donasi dari perusahaan,  diantaranya dari PT. Cargill Indonesia, PT. J Reources Boolang Mongondow, PT. MSM dan TTN. Perusahaan tersebut membantu menyediakan fasilitas atau sarana prasarana, sedangkan balai yang mengelolanya.

Lebih lanjut Farid menjelaskan bahwa untuk pengamatan dan tindakan medisnya, di ABC juga sudah dilengkapi dengan Kamera CCTV, sehingga memudahkan dokter hewan dan juga peneliti dalam mengamati dan mengumpulkan data perilaku dan kondisi keseharian dari anoa yang ada, seperti saat makan, berkubang, birahi, bunting, maupun akan melahirkan.

CCTV ini terkoneksi dengan internet, sehingga selain bisa diamati menggunakan PC di ruangan dokter hewan, juga bisa diamati dimanapun menggunakan smartphone,” kata Farid.

 

 

Pelibatan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Pengelolaan TN Bunaken

Pada Hari kedua, Tim DIK BP2LHK Aek Nauli mengunjungi Balai Taman Nasional (BTN) Bunaken. Sambil langsung melihat dan merasakan snorkeling di Pulau Bunaken, Tim DIK BP2LHK Aek Nauli berkesempatan berdiskusi dengan Kepala SPTN Wilayah I BTN Bunaken, Gatot Santoso, S.Pi, MA.

Menurut Gatot, pengelolaan konservasi dan wisata di TN Bunaken awalnya bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak halangan dan tentangan dari masyarakat yang merasa pendapatan dan perekonomian mereka akan terancam. Namun seiring waktu, melalui sosialisasi dan promosi yang rutin, serta juga dukungan dari pemda setempat, masyarakat akhirnya menyadari sendiri bahwa ternyata dengan menjaga kawasan, justru akan meningkatkan perekonomian mereka dengan semakin banyak wisatawan yang berkunjung dan bertumbuhnya peluang usaha wisata di daerah mereka.

“Awalnya masyarakat bandel, mereka tetap saja melakukan aktifitas mencari ikan di kawasan yang dilindungi di TN Bunaken, tapi dengan semakin berkembangnya wisata, akhirnya mereka sadar sendiri” kata Gatot. “Mereka sadar kalau ikannya sudah habis dan terumbu karangnya rusak, sudah tentu tidak ada lagi yang mau berkunjung. Jadi mereka sendiri yang akhirnya menjaga kawasan tersebut,” tambah Gatot.

Lebih lanjut, Gatot menyampaikan bahwa untuk peningkatan PNBP dari wisata, BTN Bunaken selalu berusaha bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti dengan pemda dan juga dengan agen travel untuk meningkatkan jumlah kunjungan. Selain itu patroli rutin juga dilakukan oleh mencegah hilangnya potensi PNBP akibat ada beberapa pihak yang membawa wisatawan tapi tidak melapor atau membayar tiket masuk ke BTN Bunaken.

“Tahun lalu Alhamdulillah PNBP kita mencapai sekitar 3 M. Hal tersebut tercapai karena mulai tahun lalu sudah ada penerbangan langsung dari China ke Manado. Melalui kerjasama promosi dengan pihak agen travel, hampir tiap hari ada banyak wisatawan dari China berkunjung ke TN Bunaken,” kata Gatot. “Selain itu kegiatan patroli rutin juga kita tingkatkan, sehingga kedatangan pengunjung yang tidak lapor atau tidak membayar bisa kita minimalkan,” pungkas Gatot.

 

Tiga Hal Pendukung Keberhasilan Pengelolaan Wisata

Dari kunjungan, diskusi, dan sharing yang dilakukan, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu dilakukan dalam pengelolaan wisata, dan hal tersebut juga bisa diterapkan oleh BP2LHK Aek Nauli untuk kemajuan wisata ilmiahnya. Yang pertama adalah kolaborasi atau kerjasama dengan berbagai pihak, terkait peningkatan fasilitas dan sarana prasarana; kedua pelibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata dan peningkatan kesadaran masyarakat akan penting menjaga kawasan; dan yang ketiga adalah promosi yang tepat dan kontinyu.***NNN/MB

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *