Balitbang LHK Aek Nauli

Semerbak Sereh Wangi (Cymbopogon nardus)

Oleh: Ruth Lumbantobing, S.Hut

Sereh wangi merupakan salah satu komoditi atsiri yang sangat prospektif dan kaya akan manfaat. Kandungan yang terdapat dalam tumbuhan ini dapat digunakan pada industri parfum, makanan, kosmetik, obat-obatan, dan aroma terapi. Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan sembilan jenis minyak atsiri yaitu: minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar wangi, minyak pala, minyak kayu putih, dan minyak sereh wangi. Dari sembilan jenis minyak atsiri ini terdapat enam jenis minyak yang paling menonjol di Indonesia yaitu: minyak pala, minyak nilam, minyak cengkeh, dan minyak sereh wangi.

Minyak sereh merupakan komoditi di sektor agribisnis yang memiliki pasaran bagus dan berdaya saing kuat di pasaran luar negeri. Tetapi tanaman sereh ini tampaknya masih belum banyak digarap untuk siap diinvestasikan. Sebagai contoh sereh wangi yang dalam perdagangan dikenal dengan nama “citronella oil“, masih asing bagi sebagian orang, sebab hampir sepuluh tahun lebih sereh wangi luput dari perbincangan dan perhatian orang.

Pengembangan tanaman sereh wangi tidak hanya berkontribusi pada pengembangan pertanian, namun juga turut meningkatkan perekonomian masyarakat. Pengembangan pengolahan minyak sereh wangi di pedesaan merupakan salah satu langkah strategis dalam memacu pertumbuhan perekonomian daerah, selain dapat meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta pendapatan petani tanaman penghasil minyak atsiri.

Di Indonesia secara umum tanaman sereh dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu: Sereh lemon atau Sereh bumbu (Cymbopogon citratus) dan Sereh wangi atau Sereh sitronella (Cymbopogon nardus). Umumnya kita tidak membedakan nama Sereh wangi dan Sereh lemon, meskipun kedua jenis ini mudah dibedakan. Sereh wangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu jenis mahapengiri dan jenis lenabatu. Mahapengiri dapat dikenal dari bentuk daunnya lebih pendek dan lebih luas dari pada daun yang lenabatu. Dengan destilasi, jenis ini memberikan hasil minyak yang lebih tinggi dari pada lenabatu, juga kualitasnya lebih baik, artinya kandungan geraniol dan sitronellal lebih tinggi daripada lenabatu. Demikian pula, mahapengiri memerlukan tanah yang lebih subur, hujan yang lebih banyak, pemeliharaan yang lebih baik dari pada lenabatu.

Di Sumatera Utara, tanaman Sereh wangi ini masih belum membudaya, akan tetapi sebagian kecil petani mengusahakan tanaman ini sebagai usaha sambilan tanpa disertai pengolahannya atau penyulingannya. Perusahaan yang melakukan penyulingan secara sederhana akan menurunkan kualitas minyak yang dihasilkan. Hal ini disebabkan cara penyulingannya ataupun lama penyulingannya tidak memenuhi standar.

Tahun 2015, Bupati Mandailing Natal, Drs. Dahlan Hasan Nasution telah meresmikan penyulingan Sereh wangi Kelompok Tani Mandailing Atsiri di Komplek Sigiring-giring Kecamatan Pakantan. Banyaknya lahan kosong yang dapat ditanami adalah salah satu faktor yang menyebabkan Kecamatan Pakantan dijadikan sentra lokasi perkebunan Sereh wangi terluas, selain Pakpak Bharat dan Lampung. Kualitas tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya, hanya diperlukan bibit yang bagus. Kualitas Sereh wangi Kecamatan Pakantan memiliki mutu yang baik, apalagi dibanding dengan di Jawa. Dalam 100 kilogram daun Sereh wangi basah akan menghasilkan lebih kurang 10 kilogram minyak. Penyulingan dilaksanakan secara bersama sehingga tidak mengurangi kualitas.

Pemerintah Kota Binjai juga segera mengembangkan produksi tanaman Sereh wangi di lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN-2 di kecamatan Binjai Timur. Pemkot Binjai akan mengundang pengusaha Sereh wangi dan Permatani (Perserikatan Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia) guna berkoordinasi untuk segera melakukan pengembangan tanaman ini. Walikota Binjai, Muhammad Idaham menjelaskan sebelum melakukan pengembangan Sereh wangi, para petani akan mendapatkan pelatihan dan bimbingan teknis dari Permatani tentang cara membudidayakan tumbuhan ini. Menurut M. Idaham, minyak dari sulingan Sereh wangi tidak hanya mujarab untuk dijadikan obat namun juga untuk bahan parfum atau pewangi lainnya. Nilai ekonomis Sereh wangi ini sangat menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan petani.

 

Referensi

Antara. 2015. Bupati Madina resmikan penyulingan kebun serai wangi. Media Online ANTARA. Diakses tanggal 15 Agustus 2018.

Damanik, S. 2007. Analisis ekonomi usahatani serai wangi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bul. Littro. Vol. XVIII No. 2, 2007, 203-221.

Ginting, S. 2004. Pengaruh lama penyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak atsiri daun sereh wangi. e-USU Repository. Universitas Sumatera Utara.

http://tropical.theferns.info/image.php?id=Cymbopogon+nardus

Nugraha, dkk. 2017. Pengembangan teknologi tepat guna untuk industri penyulingan minyak sereh wangi skala kecil dan menengah. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM. Vol.7, No. 2.

Start News. 2016. Serai wangi madina diminati di pasaran eropa. Media Online Start news. Diakses tanggal 15 Agustus 2018.

Bagikan ini di:

2 Comments

  1. Mas ali

    Apakah ada sampel minyak sereh di aek nauli??

    Reply
    1. admin BP2LHK Aek Nauli

      Yth. Mas Ali,
      Terimakasih telah mengunjungi website BP2LHK Aek Nauli.
      Kita saat ini belum punya sampel minyak sereh, akan tetapi kita telah memiliki alat suling skala laboratorium sehingga dalam waktu dekat akan disuling berbagai macam potensi minyak atsiri yang ada di kawasan Aek Nauli. Demikian, semoga bermanfaat.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *