Balitbang LHK Aek Nauli

Sekilas Tentang Kemenyan

Kemenyan merupakan produk hasil hutan non kayu yang identik dengan Provinsi Sumatera Utara, karena memang produksi terbesar kemenyan di Indonesia dihasilkan dari provinsi ini. Kemenyan adalah sejenis getah yang dihasilkan dari tumbuhan Styrax spp. Di Sumatera Utara, Styrax spp. termasuk tanaman andalan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Kemenyan memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena berbagai manfaatnya, antara lain sebagai bahan baku kosmetika dan bahan pengikat parfum agar keharumannya tidak cepat hilang, bahan baku rokok, bahan pengawet, dan bahan baku farmasi/obat-obatan serta sebagai bahan campuran dalam pembuatan keramik agar lebih kuat dan tidak mudah pecah. Bahkan di negara-negara Eropa, kemenyan digunakan sebagai bahan campuran pada pemanas ruangan. Negara-negara tujuan ekspor kemenyan saat ini antara lain India, Singapura, Hongkong, dan Malaysia. Manfaat tanaman kemenyan selain sebagai penghasil getah bernilai tinggi, juga dapat dikembangkan sebagai tanaman reboisasi, penghara pabrik pulp, rehabilitasi lahan, sekat bakar, dan pohon ornamen.

Kemenyan merupakan hasil sekresi dari pohon kemenyan yang timbul karena adanya luka pada batang pohon tersebut. Pada kondisi alaminya, tanpa dilakukan penyadapan pun sering dijumpai adanya getah yang keluar dari kulit pohon yang terluka. Getah ini diduga timbul sebagai reaksi dari pohon untuk menutup luka yang ada di tubuhnya. Penyadapan kemenyan di Sumatera Utara berbeda dengan penyadapan jenis pohon lain yang juga menghasilkan getah seperti pinus atau karet. Penyadapan yang dilakukan secara tradisional oleh petani kemenyan adalah dengan menggunakan beberapa alat, yaitu alat pembersih kulit, alat pencungkil (untuk melukai bagian kulit), dan tali sebagai alat panjat terutama untuk menyadap bagian pohon yang lebih tinggi.

Pohon kemenyan mulai disadap setelah berumur 6-7 tahun, bergantung pada pertumbuhan dan diameter pohonnya. Penyadapan dilakukan sekali dalam setahun pada saat pohon kemenyan mulai berbunga dan daunnya mulai berubah warnanya menjadi sedikit kecoklatan atau lebih tua warnanya. Menurut petani, hal ini dilakukan karena pada saat itu, kulit kemenyan akan lebih mudah dilukai dan getah yang dihasilkan juga lebih banyak. Tahapan penyadapan diawali dengan pembersihan bagian luar kulit dari kotoran seperti lumut atau kotoran lain dengan alat pembersih kulit di sekitar bagian yang akan dilukai. Setelah itu dilakukan pelukaan dengan alat khusus hingga menembus bagian kayu dan sedikit diputar lalu bagian tersebut dirapatkan lagi dengan diketok menggunakan alat yang sama (bagian pangkalnya). Pada umumnya, jumlah lubang sadapan dari atas ke bawah dalam satu pohon sebanyak delapan lubang (sesuai dengan tinggi rata-rata petani kemenyan). Jumlah sadapan per pohon akan berbeda tergantung dari ukuran diameter pohon yang disadap. Semakin besar pohon maka jumlah sadapan akan semakin banyak.

Pemanenan getah akan dilakukan 3-4 bulan setelah penyadapan, menunggu sampai getah mengeras. Bagian yang disadap ditunjukkan dengan adanya penggembungan dimana di dalamnya terisi dengan getah yang telah mengeras. Pemanenan dilakukan dengan menyayat kulit pohon yang berisi getah sehingga akan meninggalkan lubang-lubang pada pohon yang disadap. Getah kemudian dibersihkan dari kulitnya dan kotoran-kotoran lain dan siap untuk dijual.

***

Kontributor Artikel: Dr. A. Dany Sunandar

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *