Balitbang LHK Aek Nauli

Sekilas Tentang Getah Kopal

Foto By Wibowo Djatmiko (Wie146) (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia CommonsKopal adalah hasil olahan getah (resin) yang disadap dari batang damar (Agathis dammara [sin. A. alba] dan beberapa Agathis lainnya) serta batang dari batang pohon anggota suku Burseraceae (Bursera, Protium). Kopal merupakan bahan dasar bagi cairan pelapis kertas supaya tinta tidak menyebar. Bahan ini juga dipakai sebagai campuran lak dan vernis. Agathis dammara menghasilkan kopal yang dikenal sebagai “Manila copal”. A. australis menghasilkan “Kauri copal”. Getah kopal digunakan untuk berbagai industri seperti cat, vernis, lak merah, tinta, bahan sizing, bahan pelapis untuk tekstil, bahan kosmetik, dan bahan perekat.

Kandungan kopal adalah asam-asam resinol, resin, dan minyak atsiri. Penggunaannya adalah sebagai bahan perekat pada penambal gigi dan plester. Minyak kopal diperoleh dari penyulingan dan digunakan sebagai campuran parfum. Kopal sering dianggap sebagai atau dijadikan pengganti batu damar, dan dijadikan mata cincin. Pemasaran kopal disalurkan ke industri pengolah kopal untuk dijadikan bahan baku. Dalam kegiatan pemasaran kopal terbagi dalam kategori katogori standard mutu, yaitu: Mutu A, Mutu B, Mutu C.

Penyadapan sistem ini terdiri dari beberapa langkah. Pertama, Pemberian Nomer Pohon, Pohon-pohon Agathis dalam satu blok yang telah berumur sepuluh tahun keatas supaya di beri nomor urut dan di ukur diameter setinggi dada, kemudian dibuat daftar menurut kelas diameter, dengan interval 10 cm (10-19 cm, 20-29 cm). Gunanya adalah: Untuk menaksir produksi getah dan memudahkan pengawasan terutama jumlah quare perpohon; Untuk menetapkan jumlah pohon bagi masing-masing penyadap; Mempermudah monitoring terhadap keamanan, penjarangan, bencana alam, dan intensitas terhadap penyadapan.

Kemudian pada ketinggian 190 cm di pohon di gantung plat seng berukuran 5 x 5 cm dengan di tulis nomor dan diameter pohon. Kedua, Pembagian Areal. Areal sadapan terlebih dahulu dibagi dalam blok-blok sadapan seluas antara 2-5 ha sesuai dengan kemampuan penyadap. Masing-masing blok sadapan kemudian ditetapkan penyadapannya sebagai wilayah sadapannya.

Setiap kurang lebih 50 ha areal sadapan diawasi oleh seorang mandor sadap yang bertugas memberikan petunjuk, bimbingan, pengawasan, dan bertanggung jawab atas keamanan wilayah sadapannya. Ketiga, Pembersihan Lapangan Sadapan. Sebelum diadakan penyadapan, lapangan sadapan harus dibersihkan dari perdu dan semak-semak, agar sinar matahari dapat langsung menyinari pohon Agathis serta memudahkan para pekerja dan petugas untuk mengadakan pengawasan.

Untuk pengangkutan getah diperlukan juga pembuatan jalan setapak. Keempat, Pembersihan Kulit Pohon. Bagian batang yang akan disadap kulitnya dibersihkan/di kerok setebal 3 mm, lebar 20 cm, panjang 70 cm di atas tanah tanpa melukai kayunya. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pembuatan quare. Kelima, Alat Dan Perlengkapan. Alat yang harus disiapkan adalah: petel sadap, parang, kotak kayu/kaleng pemungut getah, batu pengasah, alat ukur dalam dan luar quare, serta alat pembuat bahan rencana quare. Keenam, Pembuatan Rencana Quare. Pada pembuatan rencana quare, bagian/jalur dengan lebar 10 cm dibuat tepat di tengah-tengah pohon yang telah dibersihkan.

Sebaiknya diusahakan alat khusus untuk membuat bagan rencana quare berbentuk garpu melengkung dengan dua gigi tajam dengan jarak 10 cm. Pembuatan bagan quare diatur sedemikian rupa sehingga menghadap ke arah yang sama (menghadap ke arah jalan pemeriksaan). Ketujuh, Pelaksanaan Penyadapan. Penyadapan permulaan adalah pembuatan quare permulaan setinggi 20 cm. Setelah persiapan selesai, maka dibuatlah quare permulaan pada bagian pohon yang berukuran 10 x 10 cm dengan petel sadap. Dalam quare 2 cm tidak termasuk tebal kulit dan lebar quare 10 cm. Pembuatan quare lebih dalam dari 2 cm tidak akan menambah hasil getah, bahkan akan merusak pohon.

Kedelapan, Pembaharuan Quare. Pembaharuan quare (luka sadapan) dilakukan setiap 3 hari sekali diatas luka yang telah ada dengan perpanjangan quare 3-5 mm. Dengan demikian luka sadapan dalam satu bulan terdapat 5 cm. Dan dalam satu tahun 60 cm, dan dalam 3 tahun setinggi 190 cm. Petel sadap harus dijaga agar tetap tajam dan siap pakai, karea itu penyadap harus membawa satu asahan dan yang terakhir Pemungutan Kopal. Setiap 10 hari sekali kopal di pungut dengan mempergunakan alat keruk dan selanjutnya di kumpulkan dalam kotak kayu atau kaleng untuk di pikul ke Tempat Pengumpulan (TP) Kopal. Di TP Kopal disediakan bak penampungan kopal terpisah menurut kualitas getah terbuat dari kayu, dari sini diangkut dengan drum bekas ke tempat pengumpulan kopal.

***

Artikel by: Dr. A.Dany Sunandar

Foto by: Wibowo Djatmiko (Wie146) (Own work) [GFDL or CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons

**

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *