Balitbang LHK Aek Nauli

Sekilas Potensi Burung di KHDTK Aek Nauli (Bagian 1)

Oleh : Muhammad Salman Zuhri, S.Hut. (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Burung madu sriganti

Burung adalah salah satu sumber daya alam yang bernilai tinggi, baik ekologis, ilmu pengetahuan, ekonomis, rekreasi dan budaya. Keberadaan dan keragaman jenis burung pada habitatnya juga menjadi salah satu penyeimbang ekosistem dimana burung membantu dalam penyebaran biji, buah, membantu pembungaan dan penyerbukan, juga pengontrol serangga di alam. Potensi jenis burung juga dapat dijadikan penarik wisata, baik wisata ilmiah maupun wisata relaksasi.

Mengamati jenis burung merupakan hal yang sangat menyenangkan, karena selain menambah ilmu pengetahuan, juga sebagai sarana wisata relaksasi dimana kicauan burung, pesona warna, tingkah laku, dan komunitasnya mampu menghipnotis kita pada saat mengamatinya. Dalam mengenal jenis burung hal yang paling utama yang perlu diamati adalah kombinasi dari beberapa ciri khas, termasuk penampakan umum, suara dan tingkah laku serta sifat yang paling mencolok. Selanjutnya jika melakukan identifikasi jenis burung bahagian umum yang diamati secara umum adalah bahagian kepala, badan dan sayap. Adapun gambaran tofografi burung secara terperinci dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Tofografi burung (MacKinnon, et al.,1992)

Salah satu habitat sebaran jenis burung yang masih terjaga adalah kawasan hutan dataran tinggi, yaitu Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli dimana keberadaan dan fungsinya sangat dimungkinkan tetap terjaga dan dilindungi dalam menjaga stabilitas ekosistem. Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, ditunjuk sebagai pengelola KHDTK Aek Nauli berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 39/Menhut-II/2005, tanggal 07 Februari 2005 seluas + 1900 Ha.

Zuhri (2005), menyebutkan bahwa wilayah Komplek Kehutanan Terpadu (KKT) Aek Nauli, yang merupakan kesatuan Kawasan Hutan Lindung (KHDTK Aek Nauli) pada ketinggian 1200 mdpl, ditemukan sedikitnya 31 jenis burung dimana dua diantaranya merupakan burung endemik Sumatera yaitu Tangkar Uli Sumatra (Dendrocitta occipitalis) dan Takur Api (Psilopogon pyrolophus).

Seksi Pelayanan Sarana Prasarana tahun 2010, melaporkan data hasil identifikasi jenis burung (berdasarkan penemuan langsung, suara dan wawancara dengan masyarakat) sedikitnya teridentifikasi sebanyak 51 jenis yang penyebarannya sampai pada ketinggian 1.500 meter dpl. Sanjaya (2013), menemukan sedikitnya 75 spesies dengan 28 famili dan mengklasifikasi potensi unggulan sebanyak 20 jenis burung, berdasarkan hasil skoring yang kriterianya mengacu pada Redlist IUCN, peraturan perundangan (Perlindungan Binatang Liar (PPBL) 1931 No. 266 dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1999.

Tabel berikut ini menampilkan 20 jenis burung dari beragam potensi jenis burung yang ada di KHDTK Aek Nauli yang dapat diamati pada zona administrasi dan zona pemanfaatan jasa lingkungan KHDTK.

Tabel 1. Daftar 20 jenis burung potensial yang terdapat di KHDTK Aek Nauli

No Nama burung lokal Nama latin Suku Keterangan
No LG W
1 Burun madu sriganti Nectarinia Jugularis (Linnaeus,1766) Nectariinidae 761 83
2 Burung madu sepah raja Aethopyga siparaja (Raffles,1822) Nectariinidae 763 83  –
3 Cica daun sumatera Chloropsis venusta (Bonaparte, 1850) Chloropseidae 499 57 E
4 Cucak mutiara Pycnonotus tympanistrigus (S.Muller, 1836) Pycnonotidae 502 59 E
5 Ekek geling/jobing Cissa thalassina (Temminck,1826) Corvidae 544 63
6 Kacamata enggano Zosterops salvadorii (A. B. Meyer & Wiglesworth, 1894) Zosteropidae 791 86 E
7 Luntur kepala merah Harpactesery throcephalus (Gould, 1834) Trogonidae 376 43 S
8 Murai besi Heterophasia picaoides (Hodgson, 1839) Timaliidae 612 68 S
9 Ciung mungkal/wayang Cochoa beccari (Salvadori,1879) Turdidae 631 71 E
10 Tangkaruli sumatera Dendrocitta occipitalis (Muller, 1836) Corvidae 546 63 E
11 Pelatuk kuduk kuning Picus flavinucha (Gould, 1833) Picidae 431 51 S
12 Punai Treron capellei (Temminck, 1823) Columbidae 259 32
13 Prenjak gunung Prinia atrogularis (Moore, 1854) Silviidae 669 75 S
14 Pelatuk jambul kuning Picus chlorolophus (Vieillot, 1818) Picidae 431 51 S
15 Pijantung tasmak Arachnothera flavigaster (Eyton, 1839) Nectariinidae 761 84
16 Seruling laut Niltava grandis (Blyth, 1842) Muscicapidae 701 78 S
17 Takur api Psilopogon pyrolophus (S.Muller, 1835) Capitonidae 409 48 S
18 Takur bukit Megalaima oorti (S.Muller, 1835) Capitonidae 416 48 S
19 Tepus lurik Stachyris striolata (S.Muller, 1836) Timaliidae 590 67 S
20 Tepus emas Stachyris chrysaea (Blyth, 1844) Timaliidae 586 67 S
Keterangan: Nama latin: DBI. No. 2 (Sukmantoro, et al., 2007), No dan LG : nomor jenis dan lembar gambar (MacKinnon, et al., 1992)

W : wilayah sebaran, E : endemik, S : di Indonesia hanya terdapat di Sumatera

Deskripsi 10 jenis dari burung-burung tersebut adalah sebagai berikut :

Burung madu sriganti

1. Burung madu sriganti (Nectarinia jugularis)

Burung ini berukuran kecil (10 cm) berperut kuning terang, jantan dagu dan dada hitam-ungu metalik, punggung hijau-zaitun. Betina : tanpa warna hitam, tubuh bagian atas hijau zaitun, bahagian bawah kuning, alis biasanya kuning muda. Iiris coklat tua, paruh dan kaki hitam. Suara burung ini berbunyi kekikan musikal: “ciip, ciip, chii wiit” dan suatu melodi pendek yang diakhiri dengan getaran nyaring. Jenis ini paling umum didataran rendah sampai di ketinggian 1700 mdpl. Kebiasaan burung ini ribut dalam kelompok kecil, berpindah-pindah, berkejaran mondar-mandir dengan galak (MacKinnon et al., 1992).

2. Burung madu sepah raja (Aethopyga siparaja)

Burung ini berukuran sedang (13 cm termasuk ekornya yang panjang), jantan berwarna merah terang, dahi dan ekor yang pendek ungu, perut abu-abu gelap, betina hijau zaitun tua buram, tanpa sapuan merah pada sayap atau ekor. Suaranya lembut “siisiiip-sisiiip”. Jelajah burung ini dari ketinggian 900-1300 mdpl, umumnya sendiri dan berpasangan sring berada pada pinggiran hutan atau tumbuhan berbunga (MacKinnon et al., 1992).

3. Burung cica daun Sumatera (Chloropsis venusta)

Jenis ini masuk kedalam suku Chloropseidae, jenis ini endemik Sumatera berukuran kecil (14 cm), cantik, berwarna hijau terang, jantan mempunyai dahi dan sisi kepala biru khas, setrip malar ungu, bercak hitam pada tenggorokan, dada bahagian atas keemasan, bercak-bercak biru pada bahu dan ekor biru. Betina berwarna lebih terang dengan tenggorokan dan sisi kepala biru khas, ekor hijau kebiruan. Iris coklat gelap, paruh hitam, ekor hitam. Jenis ini sering berada pada ketinggian 600-1.500 mdpl,  kebiasaan hidup pada puncak-puncak pohon yang tinggi baik pada hutan primer maupun sekunder pada tajuk berdaun lebat sering ditemukan sendirian atau berpasangan, kadang-kadang pada kelompok campuran (MacKinnon et al., 1992).

4. Burung cucak mutiara (Pycnonotus tympanistrigus)

Ukuran burung ini kecil (16 cm), tanpa jambul berwarna coklat zaitun, mahkota coklat zaitun gelap. Tungging, sayap dan ekor kehijauan; kekang dan ekor keputih-putihan. Kulit disekitar mata hitam, penutup telinga kuning. Tubuh bagian bawah berbintik coklat dan putih dengan garis-garis kuning zaitun pada penutup ekor bawah. Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat. Jenis ini lebih menyukai huan sekunder dan lapisan bawah hutan (MacKinnon et al.,1992).

5. Burung jobing (Cissa thalassina)

Ukuran burung ini sedang (32 cm) berwarna hijau dan setrip mata hitam, paruh merah, dan sayap berwarna coklat berangan. Bulu tersier sayap pucat, paruh merah terang dan kaki merah. Suara burung ini berteriak menusuk keras “tii-tii-tii-tir” atau “e-kek-ge-ling” dengan tiga nada pertama cepat dan dalam nada yang sama, sedangkan nada keempat memanjang dan menurun. Daya jelajah jenis ini dari ketinggian 900-2.400 mdpl (MacKinnon, et al., 1992).

Burung kacamata enggano

6. Burung kacamata enggano

MacKinnon et al., (1992) mengatakan bahwa jenis ini masuk kedalam suku Zosteropidae, dimana kebanyakan anggotanya mempunyai lingkar bulu keperakan disekitar mata sehingga terlihat seperti kacamata. Kacamata biasa ini berukuran kecil (10 cm), punggung berwarna zaitun dan dada kuning, sisi abu-abu muda, dan paruh putih krem. Iris coklat, paruh, dan kaki hitam.

7. Burung luntur kepala merah (Harpactes erythrocephalus)

Berukuran besar (30 cm), berkepala merah (ciri khusus jantan). Tidak punya kalung, tetapi ada bentuk sabit putih yang sempit pada dada yang merah. Betina berbeda dengan betina jenis lain karena perut merah dan bentuk sabit putih pada dada. Jantan berbeda dengan jenis lain karena kepala jantan berwarna coklat muda. Iris coklat, kulit sekitar mata biru, paruh kebiruan, kaki kemerahjambuan. Suara jenis ini mersu berulang “ tiaup” dan nada yang bergetar “ tewirr”, hobi jenis ini berburu mangsa dari ranting rendah di hutan (MacKinnon et al., 1992).

8. Burung murai besi (Heterophasia picaoides)

Berukuran besar (32 cm), berwarna abu-abu dan putih. Hidup diatas pohon, ekor membulat sangat panjang. Bulu abu-abu buram dengan mahkota lebih gelap, tungging keputih-putihan. Sewaktu terbang, bercak putih pada sayap terlihat mencolok. Ujung bulu ekor abu-abu pucat. Iris coklat, paruh, dan kaki hitam. Suara ribut, lengkingan “tsip-tsip-tsip-tsip” terus menerus. Umum pada hutan pegunungan tinggi antara 600-3000 mdpl. Hidup dalam kelompok kecil, menyukai tajuk pohon yang tinggi dan tatkala terbang penuh tenaga sambil bersuara (MacKinnon et al., 1992).

9. Burung punai (Treron capellei)

Berukuran besar (36 cm), dada jingga, punggung hijau keabu-abuan, sayap abu-abu tua dengan tepi kuning sempit pada bagian penutup. Tubuh bagian bawah hijau pucat, ada garis jingga kekuningan yang jelas pada dada (tetapi kurang jelas pada betina), ekor hijau pucat dengan garis kehitaman terputus dan ujung putih yang tersembunyi oleh bulu-bulu hijau bagian tengah, sisi perut dan pantat bertepi putih, bulu penutup ekor bawah coklat tua. Iris coklat, parus hiju pucat, kaki kuning. Suara burung ini seperti rangkong atau angsa, menderuk dalam “ku”. Suara ketika makan cegukan dan berparut “kak-kak-kak, kwok-kwok,kwok”. Hidup sendirian atau berpasangan dan sampai pada ketinggian 1300 mdpl (MacKinnon et al., 1992).

Burung perenjak gunung

10. Burung perenjak gunung (Prinia atrogularis)

Burung agak besar (16 cm) berekor sangat panjang (khas) berwarna coklat, dada bercoret hitam khas. Tubuh bagian atas coklat, sisi tubuh merah karat kekuningan, perut putih kuning tua, pipi abu-abu, alis mata putih. Iris coklat pucat, paruh atas gelap, paruh bawah berwarna pucat, kaki kemerahjambuan. Suara keras menusuk “co-ii,co-ii…”, umum berada diperbukitan pada ketinggian 600-2500 mdpl dan jenis ini hidup dalam kelompok keluarga yang aktif dan ribut, pada rerumputan, vegetasi bawah, termasuk hutan lumut dan semak sub alpin.

 

Referensi

Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli. 2010. Laporan Pemeliharaan KHDTK, Survey Potensi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Aek Nauli. Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.

Departemen Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No.39/Menhut-II/2005 tanggal; 7 Februari 2005 Tentang Penetapan Hutan Lindung sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus.

MacKinnon, J., P. Karen, Balen Bas van. 1992.  Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). LIPI- Seri Panduan lapangan, Puslitbang Biologi-LIPI.

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2011 tanggal 20 April 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.

Peraturan Pemerintah Nomor : 12 Tahun 2010. Tanggal 22 Januari 2010.  Tentang Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan.

Sanjaya, H. 2013. Pengembangan Ekowisata Burung Terhadap Strategi Pengembangan Wilayah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli. Tesis Pasca Sarjana Universitas Simalungun.

Sukmantoro, W., M. Irham, W. Novianto, F. Hasudungan, N. Kemp & M. Muchtar. 2007. Daftar Burung Indonesia np. 2. Indonesian Ornithologist’ Union. Bogor.

Zuhri, S. 2005 Deskripsi dan Penyebaran Burung di Kampus Kehutanan Aek Nauli. Info Konifera. Visi dan Informasi.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *