Balitbang LHK Aek Nauli

Rangkong; Burung Paruh Besar yang Terancam Punah

Oleh: Firman, Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan

Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)
(Sumber foto: http://orientalbirdimages.org)

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Salah satu fauna yang akhir-akhir ini sering dibicarakan karena status konservasinya terancam punah adalah burung Rangkong (Rhinoceros hornbill). Satwa ini merupakan salah satu spesies burung Rangkong terbesar di Asia yang banyak tersebar di kawasan Asia Tenggara terutama di hutan Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Di dunia terdapat 54 jenis burung Rangkong yang tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon, sebagian besar hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika. Indonesia merupakan tempat bagi 13 jenis burung Rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0–1000 m dpl). Di daerah pegunungan (>1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Variasi jenis Rangkong menempati jumlah terbanyak adalah di Sumatera dengan 9 jenis Rangkong, antara lain Rangkong jambul, julang emas, kangkareng hitam, julang jambul-hitam, Rangkong klihingan, kangkareng perut-putih, Rangkong papan, Rangkong Gading dan Rangkong Badak; dan di Kalimantan dengan 8 jenis.

Burung Rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar dengan struktur tambahan di bagian atasnya yang disebut balung (casque). Di Indonesia, ukuran tubuh Rangkong berkisar antar 40 cm sampai 150 cm, dengan berat bisa mencapai 3,6 kg. Warna bulu umumnya didominasi oleh warna hitam untuk bagian badan dan putih bagian ekor, sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi. Ciri khas burung Rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak, contohnya Rangkong Gading (Rhinoplax vigil), suaranya dapat terdengar sejauh 3 km. Karakter unik tersebut dapat digunakan sebagai identifikasi di lapangan untuk setiap jenis burung Rangkong.

Untuk sumber pakan, jenis Rangkong memiliki makanan yang spesifik yaitu sebanyak 98% memakan buah dari tanaman beringin (Ficus sp.) dan 2% sisanya adalah serangga. Kemampuan terbangnya yang jauh menjadikan Rangkong sebagai penebar benih pohon buah yang efektif.

Pada Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli pernah ditemukan jenis Rangkong Gading dan Rangkong Badak. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat yang sering keluar masuk hutan untuk memanfaatkan HHBK, kedua jenis burung ini biasanya sesekali dijumpai pada tajuk tanaman yang tinggi (khususnya tanaman Ficus sp.) pada musim penghujan. Rangkong tersebut terlihat berkelompok maupun menyendiri memakan buah tanaman di tajuk pohon.

Menurut Levey (1988) dalam Partasasmita (2003), kepadatan burung frugivora (pemakan buah-buahan) dan pergerakannya sering dihubungkan secara dekat dengan kelimpahan buah-buahan lokal. Perubahan musim buah tanaman hutan mempengaruhi aktivitas burung. Pada saat persediaaan buah menurun, burung pemakan buah dapat berhenti berkembangbiak dan menghabiskan waktu untuk mengumpulkan makanan dan memakan lebih banyak serangga (Worthington,1982 dalam Partasasmita, 2003).

Jenis burung Rangkong Badak memiliki kebiasaan unik pada pasangannya. Selama Rangkong betina bersarang di lubang pohon yang ditutup dengan lumpur, Rangkong jantan mencari dan memberi makanan ke Rangkong betina lewat lubang yang disisakan separuh pada sarangnya. Lumpur akan dipecahkan oleh Rangkong betina ketika sudah tiba saatnya telur yang dieraminya menetas.

Selain itu, ditemukan fakta bahwa burung Rangkong Badak termasuk burung yang setia terhadap pasangannya. Apabila salah satu pasangannya mati, burung tersebut akan tetap sendiri hingga akhir hidupnya tanpa mencari pendamping lagi.

Kehebatan burung Rangkong Badak juga diakui dalam kemampuannya menebar biji hingga 100 kilometer jauhnya. Satwa pemakan buah-buahan ini terbilang sangat berjasa pada proses regenerasi hutan. Menurut peneliti Rangkong dan hujan tropis Margaret F.Kinnaird dan Timothy G. O’Brien dalam “Burung Indonesia”, satwa ini dijuluki dengan petani hutan yang tangguh. Adanya korelasi yang positif antara burung Rangkong dan hutan dapat dilihat dari keberadaan satwa ini. Apabila ada burung Rangkong, tentunya ada pohon besar di hutan tersebut.

Deforestrasi atau kerusakan hutan menyebabkan secara perlahan habitat satwa ini semakin menurun, belum lagi desakan akibat perburuan liar untuk mendapatkan paruh burung yang satu ini untuk dijual ke Tiongkok dan Amerika. Rangkong juga (julang sumba) merupakan satu dari 25 spesies Rangkong yang terancam punah dan diprioritaskan meningkat populasinya sebesar 10 persen pada tahun 2019 nanti. Artinya, pentingnya Rangkong dalam ekosistem memang sudah diakui dan harus dilindungi. Bahkan, kehidupan Rangkong ini beriringan dengan budaya manusia. Sebut saja, relief Rangkong di Candi Prambanan dan Rangkong yang mendapat tempat khusus dihati masyarakat Dayak sebagai lambang kesucian.

Indonesia sebagai pemilik habitat dan populasi Rangkong terbesar di Asia, melindungi satwa tersebut dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dengan statusnya yang dilindungi, seharusnya kehidupan Rangkong di rimba belantara aman tanpa gangguan. Namun, fakta di lapangan sungguh mengejutkan, terutama jenis Rangkong Gading yang oleh International Union For Conservation Of Nature (IUCN) Red List nasibnya ditetapkan kritis (CR/Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar pada akhir tahun 2015. Statusnya berubah dari Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah menjadi kritis akibat maraknya perburuan dan menyusutnya hutan sebagai habitat alaminya.

Perburuan Rangkong Gading cukup marak dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan investigasi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Yayasan Titian, tahun 2013 tercatat sekitar 6.000 Rangkong Gading dewasa diburu untuk diambil paruhnya di Kalimantan Barat. Sedangkan tahun 2015, tercatat sekitar 2.343 paruh Rangkong Gading berhasil disita dari pasar ilegal di Indonesia, Tiongkok, dan Amerika yang setelah ditelusuri semua paruh itu berasal dari Indonesia. Jika ditotal, dari tahun 2012-2016 awal, sekitar 8.343 individu Rangkong Gading yang dibantai dengan tujuan utama diselundupkan ke Tiongkok untuk dijadikan hiasan karena bentuk culanya yang padat dan solid.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) juga mengelompokkan satwa burung ini ke dalam kategori Appendix II yaitu sebagai spesies yang dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena hampir mengalami kelangkaan, kecuali jika perdagangan tersebut tunduk pada peraturan ketat, sehingga pemanfaatan yang tidak sesuai dapat dihindari. Beberapa aturan yang melindungi satwa langka ini diantaranya SK Menteri Kehutanan No. 301/KPTS-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang Dilindungi Undang-Undang dan No.882/KPTS-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi Undang-Undang.

Akankah keberadaan Rangkong yang semakin lama semakin menurun ini akan kita biarkan begitu saja? Sementara secara tidak langsung satwa ini sangat berpengaruh besar dalam proses regenerasi hutan secara alami. Dengan berbagai aturan dan undang-undang tersebut sudah cukup banyak menegaskan bahwa Rangkong sangat dilindungi, hanya saja sepertinya hukuman yang diberikan masih belum menakutkan dan menimbulakan efek jera bagi pelaku perburuan dan perdagangan cula Rangkong tersebut. Akses perdagangan/penyelundupan cula Rangkong ke luar negeri harus benar-benar diputus dan ditutup sehingga dapat menekan laju perburuan illegal bagi satwa ini.

 

Referensi:

Asep, A. 2011. Panduan Lapangan Burung-Burung Agroforest di Sumatra, ICRAF, Bogor.

http://cara-carabeternak.blogspot.com/2016/05/mengenal-si-unik-burung-rangkong-enggang.html. [Diakses Tanggal 21 Agustus 2018].

http://gintingryan.blogspot.com/2011/12/makalah-burung-rangkong.html. [Diakses Tanggal 16 Agustus 2018].

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/02/03/spesies-burung-rangkong-terbesar-asia-ada-di-indonesia. [Diakses Tanggal 7 Agustus 2018].

http://www.mongabay.co.id/2016/03/02/nasib-kelam-rangkong-antara-perburuan-dan-jasa-yang-terlupakan/. [Diakses Tanggal 27 Agustus 2018].

IUCN. 2004. IUCN Red List of Threatened Species. [Diakses tanggal 21 Agustus 2018].

Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Partasasmita, R. 2003. Ekologi Burung Pemakan Buah dan Peranannya Sebagai Penyebar Biji.

 

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *