Balitbang LHK Aek Nauli

Potensi Rotan di Sumatera Utara

Calamus caesius
Sumber: http://www.palmpedia.net/wiki/Calamus caesius

Rotan merupakan tumbuhan khas tropika, terutama di kawasan hutan tropika basah yang heterogen. Pada umunya rotan tumbuh secara alami dari daerah pantai hingga pegunungan di ketinggian 0-2900 meter diatas permukaan laut pada jenis tanah berawa, tanah kering, hingga tanah pegunungan dan semakin sedikit di daerah berbatu kapur. Rotan jarang dijumpai apabila tempat tumbuh semakin tinggi.

Tanaman rotan secara umum tumbuh berumpun dan mengelompok sehingga umur dan tingkat ketuaan rotan yang siap panen juga berbeda. Oleh karena itu, pemungutan rotan dilakukan secara pemilihan atau tebang pilih, dengan kata lain rotan yang telah masak tebang saja yang dipungut. Ciri-ciri rotan yang telah siap panen pada rotan yang tumbuh secara alami maupun rotan dibudidayakan, yaitu daun dan durinya sudah patah, warna durinya sudah berubah menjadi hitam atau kuning kehitam-hitaman, sebagian batangnya sudah tidak dibalut oleh pelepah daun dan batang telah berwarna hijau.

Rotan yang merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) telah dikenal luas oleh masyarakat, baik masyarakat yang berkecimpung langsung dengan pemungutan rotan maupun masyarakat yang lebih luas yang memanfaatkan rotan sebagai bahan baku industri, bahan perdagangan, dan pelengkap dalam kehidupan sehari-hari. Para petani sejak lama secara tradisional dan turun temurun telah melakukan kegiatan pengumpulan rotan yang berasal dari alam. Pengumpulan rotan dari hutan alam sangat bergantung kepada kondisi pohon besar sebagai inang dimana rotan ini hidup secara merambat.

Calamus rotang
Sumber: http://www.asia-medicinalplants.info/calamus-rotang-l-2/

Di Indonesia ditemukan 8 suku tanaman rotan, yaitu Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, Calospatha dengan total jenis mencapai kurang lebih 306. Penyebaran rotan di Indonesia meliputi Kalimantan sebanyak 137 jenis, Sumatera sekitar 91 jenis, Sulawesi sebanyak 36 jenis, Jawa sebanyak 19 jenis, Irian sebanyak 48 jenis, Maluku sebanyak 11 jenis, dan Sumbawa 1 jenis. Rotan yang benar-benar memiliki sifat dan memenuhi syarat serta kualitas baik untuk berbagai keperluan berjumlah 128 jenis. Dari jumlah tersebut, 51 jenis diantaranya memiliki nilai komersial tinggi dan banyak diperdagangkan.

Indonesia menghasilkan lebih dari 75% pasokan rotan dunia. Rotan menghasilkan devisa lebih banyak dibandingkan hasil hutan lainnya kecuali kayu gelondongan. Volume ekspor rotan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah 660,95 ton atau setara dengan US $ 1.840.000,-. Terhitung sejak tahun 1992 volume rata-rata perdagangan rotan Indonesia adalah 87.770 ton per tahun atau setara US $ 292.000.000,-. Ada beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai potensi sebagai penghasil rotan mencapai 672.620 ton per tahun, diantaranya adalah Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Tengah, Langkat, dan Mandailing Natal (Dishut Provinsi Sumatera Utara, 2008).

Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara menjelaskan bahwa pada umumnya masyarakat Sumatera Utara sudah lama mengenal rotan (Calamus sp.) sebagai salah satu komoditas yang berguna dan sekaligus sebagai sumber mata pencaharian masyarakat. Hasil inventarisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa taksiran potensi produksi rotan di wilayah Provinsi Sumatera Utara mencapai 672.620 ton per tahun dengan luas kawasan mencapai 482.000 ha. Menurut data BPS Provinsi Sumatera Utara (2017) produksi rotan Sumatera Utara tahun 2015 sebesar 500 batang dan pada tahun 2016 tidak terdata. Rotan yang dimanfaatkan secara komersil di Sumatera Utara ada 6 jenis yaitu Rotan manau (Calamus manan), Rotan semambu (C. scipionum), Rotan sega (C. caesius), Rotan getah (Daemonorops angustifolia), Rotan batu (C. diepenhorstii), Rotan cacing (C. javensis).

Produk rotan telah menambah penerimaan ekspor unggulan selain minyak dan gas bumi, serta dapat disejajarkan dengan penerimaan ekspor utama pertanian lainnya seperti kopi, karet, dan minyak sawit. Rotan merupakan salah satu komoditas hasil hutan non kayu dari Sumatera Utara karena potensinya cukup banyak. Medan sebagai ibukota provinsi merupakan pusat perdagangan dan pemasaran utama hasil produksi dan sentra produksi rotan Provinsi Sumatera Utara. Hasil produksi rotan dari petani atau dalam hal ini pengumpul (produsen) dari 6 kabupaten pemasok utama rotan di Provinsi Sumatera Utara yaitu Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Langkat, Padang Lawas, terkumpul ke konsumen perajin dan eksportir rotan di Kota Medan (Siregar, dkk., 2013).

Plectocomia elongata
Sumber: http://www.palmpedia.net/wiki/Plectocomia_elongata

Penelitian yang dilakukan Pane (2012) melaporkan bahwa industri pengolahan rotan di Kota Medan hanya ada di 5 kecamatan dari 21 kecamatan, yaitu 15 industri di Medan Petisah, 3 industri di Medan Helvetia, 3 industri di Medan Sunggal, 2 industri di Medan Johor dan 1 industri di Medan Tuntungan. Jenis rotan yang diperdagangkan di kota Medan yaitu Sega (Calamus caesius Blume), Getah (Daemonorops angustifolia Mart), Manau (Calamus manan Miq.), Semambu (Calamus scipionum Louer), Batu (Calamus filiformis Becc.), Cacing (Calamus ciliaris Bl) dengan harga antara Rp.2.000-Rp.20.000 per batang atau per kg. Bentuk produk rotan yang diperdagangkan di Kota Medan diantaranya meja, kursi, keranjang, tudung saji, tempat parcel, cermin rotan, dan meja setengah jadi dengan harga jual antara Rp.8.000-Rp.400.000 per buah.

Pada Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang dikelola oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli juga terdapat rotan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Husein (2016) di KHDTK Aek Nauli dengan survei eksplorasi yang didasarkan pada perbedaan ketinggian (1200 mdpl, 1400 mdpl, dan 1600 mdpl) terdapat 3 jenis rotan di KHDTK Aek Nauli yaitu Rattan (Calamus rotang), Plectocomia elongata, dan Rotan sega (Calamus caesius).

Rotan saat ini banyak dibudidayakan karena memiliki banyak manfaat. Rotan dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian dan menyerap tenaga kerja. Nilai ekonomi terpenting dari rotan adalah batangnya. Pemanfaatan batang rotan di Sumatera Utara diantaranya sebagai bahan anyaman (penahan panas terik matahari yang dipasang di ventilasi rumah maupun perkantoran), kerajinan, kerangka mebel, tali pengikat, dan perabot rumah tangga seperti mebel, kursi, meja, rak, penyekat ruangan, tempat tidur, dan lemari. Selain itu, bagian lain seperti buah, getah, dan akar  digunakan untuk sayuran, bumbu masak, obat tradisional, dan bahan baku pewarna industri keramik. Batang rotan yang menyimpan banyak air dapat ditebas dan mengeluarkan air yang dapat diminum secara langsung. Cara ini pada umumnya digunakan oleh para petualang atau penjelajah untuk bertahan hidup di alam bebas. Disisi lain, masyarakat Suku Mandailing di Sumatera Utara memanfaatkan pucuk muda rotan sebagai sayuran/lalapan yang disebut “pakkat”. Selain dapat dikonsumsi manusia, rotan muda juga menjadi makanan favorit satwa liar yaitu badak. Beberapa jenis tumbuhan ini yang pucuk mudanya dapat dimanfaatkan yaitu Calamus hookerianus, C. metzianus, dan C. thwaitesii.

Rotan sangat berpotensi dikembangkan dalam industri furnitur Indonesia, dengan melihat banyaknya manfaat rotan yaitu selain menjadi sumber devisa negara, HHBK seperti rotan merupakan sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Usaha industri pengolahan rotan menjadi furnitur di Medan menghasilkan nilai tambah yang positif. Agar dapat memperluas pasar, pengelola usaha industri rotan harus meningkatkan mutu produk rotan furnitur dengan desain-desain yang inovatif. Untuk meningkatkan kreatifitas dapat dilakukan dengan menggali informasi maupun tren yang sedang berlangsung melalui media yang tersedia seperti majalah, televisi, dan internet.***(NNN)

 

Referensi:                                                                                 

https: //foresteract.com/rotan

http://geofebrhy.blogspot.com/2014/01/rotan-dan-penyebarannya-di-indonesia.html

http: //www.asia-medicinalplants.info/calamus-rotang-l-2/

http://www.palmpedia.net/wiki/Calamus_caesius

http://www.palmpedia.net/wiki/Plectocomia_elongata

BPS Sumatera Utara. 2017. Provinsi Sumatera Utara dalam angka-Sumatera Utara Province in figures 2017. BPS Sumatera Utara. Medan.

Husein, R. 2016. Uji Tanin pada jenis rotan-rotanan yang terdapat di Hutan Aek-Nauli Parapat Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Skripsi Program Studi Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNIMED. Medan.

Naibaho, I. E. 2014. Inventarisasi dan pemanfaatan rotan oleh masyarakat sekitar hutan (Studi Kasus: Hutan Batang Toru Blok Barat Kecamatan Andiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara). Skrisipsi Program Studi Kehutanan. Fakultas Pertanisan, USU. Medan.

Pane, O. P. 2012. Jenis rotan, produk rotan olahan dan analisis ekonomi pada industri pengolahan rotan komersial di Kota Medan. Skrisipsi Program Studi Kehutanan. Fakultas Pertanisan, USU. Medan.

Siregar, S.A.P., Salmiah, Hutajulu, A.T. 2013. Analisis Analisis nilai tambah dan strategi pengembangan usaha industri pengolahan rotan (Calamus, Sp) Menjadi furnitur di Kota Medan. Journal On Social Economic Of Agriculture And Agribusiness. 2(4).

Bagikan ini di:

2 Comments

  1. Ali Luarbiasa

    Artikel menarik.. Bagaimana perbanyakan rotan, baik vegetatif maupun generatif?? Selain dipanen rotannya/ batangnya, apa ada yang bisa dimanfaatkan.
    Terima kasih

    Reply
    1. novrianty nainggolan (Post author)

      Yth. Bapak Ali,
      Terimakasih telah mengunjungi website BP2LHK Aek Nauli.

      Budidaya tanaman rotan umumnya dilakukan secara generatif (menggunakan biji). Akan tetapi, rotan juga dapat diperbanyak dengan cara vegetatif melalui stek rhizom dan pemisahan batang muda (sucker). Jenis-jenis rotan yang dapat diperbanyak dengan vegetatif adalah jenis-jenis rotan berumpun, contohnya: rotan sega. Sedangkan rotan berbatang tunggal, perbanyakan cara vegetatif tidak dapat dilakukan, contohnya: rotan manau.

      Selain batang, resin yang menempel pada buah rotan dapat dimanfaatkan sebagai obat, kosmetik, dan pewarna terutama dari jenis Daemonorops sp. Resin ini menempel pada buah yang masih muda dan resin menipis seiring dengan penuaan buah tersebut. Pemanenan buah yang masih muda menyebabkan kesulitan memperoleh biji yang digunakan untuk benih.
      Pemanfaatan lain rotan adalah ubut rotan yang digunakan untuk sayur dan lalap. Selain itu, rotan merupakan sumber air untuk menghilangkan dahaga di dalam hutan yaitu dengan memotong batang rotan yang merambat ke pohon.

      Demikian, semoga bermanfaat.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *