Balitbang LHK Aek Nauli

Potensi dan Pengolahan Rotan Jernang

Oleh: Nuryana (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Tanaman Rotan Jernang tumpang sari dengan tanaman Kopi (Umur: 1,5 tahun; tinggi tanaman 2 meter, Lokasi: Arboretum Aek Nauli)

Rotan sebagai tumbuhan liana hutan dikelompokkan ke dalam jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) cukup potensial. Sumberdaya jenis rotan di Indonesia relatif tinggi, dimana dari sekitar 530 jenis rotan dunia, 316 diantaranya terdapat di dalam kawasan hutan Indonesia, berasal genus Calamus, Daemonorops, Ceratolobus, Korthalsia, Plectocomia, Plectocomiopsis, Cornera dan Miryalepis.

Dari sekian banyak jenis tanaman rotan tersebut, salah satunya adalah Rotan Jernang. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perlindungan Hutan dan Konservasi  Alam Departemen Kehutanan Republik Indonesia (Puslitbang PHKA Dephut RI), Jernang hanya terdapat di 3 negara di dunia yaitu Indonesia, Malaysia, dan India. Indonesia memiliki potensi Jernang terbesar yaitu di Sumatera (Aceh Jambi dan Riau) serta Kalimantan.

Jernang adalah resin yang diperoleh dari beberapa jenis penghasil resin (rotan jernang) yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, dalam dunia perdangan disebut dragon’s blood. Perbedaan antara rotan secara umum dengan jernang adalah dalam pemanfaatan hasil panen. Tanaman rotan dimanfaatkan dalam bentuk produk batang yang banyak digunakan untuk mendukung industri berbagai jenis produk barang jadi seperti barang anyaman, kursi, tikar dan furniture lainnya, sedangkan tanaman rotan jernang lebih mengutamakan buah yang memiliki resin pada kulitnya (Getah Jernang). Pemanfaatan getah jernang antara lain sebagai bahan baku pewarna dalam industri porselen, marmer, cat pernis, dan sebagai bahan baku industri obat herbal dalam penanganan penyakit pendarahan (blooding) dan penyembuhan luka dalam maupun luka luar.

(a) Buah Rotan Jernang yang belum diekstraksi, (b) Buah Rotan Jernang setelah diekstraksi

Resin Jernang (dragon’s blood) adalah resin yang berwarna merah yang berasal dari genus Dracaena (Dracaenaceae), Daemonorops (Aracaceae), Croton (Euphorbiaceae), dan Pterocarpus (Fabaceae). Teknik untuk mendapatkan resin jernang bermacam-macam bergantung dari jenis pohon penghasilnya. Untuk jenis Draceae, Croton, dan Pterocarpus dilakukan dengan teknik penyadapan pada bagian batang. Beberapa pohon dengan genus yang sama memiliki teknik mendapatkan resin jernang berbeda, seperti jenis Dracaena cinnabari Balf.f. dengan penyadapan. Sementara itu, jenis Dracaena cochinchinnencis (Lour.) S.C. dan Dracaena cambodiana Pierre ex Gagnep asal Tiongkok dilakukan dengan cara menginduksi jamur Fusarium proliferatum pada bagian batang atau daun sehingga bagian tersebut terinfeksi jamur dan menghasilkan resin jernang.

Jernang yang berasal dari beberapa jenis rotan (Daemonorops) adalah resin hasil ekstraksi buah rotan jernang yang menempel pada bagian luar kulit buah. Jernang jenis ini hanya terdapat di Indonesia dan semenanjung Malaysia (Yi, et al. 2011). Beberapa jenis rotan penghasil jernang antara lain Daemonorops draco BL; D. draconcellus Becc; D. mattanensis Becc; D. micrantus Becc; D. motleyi Becc; D. propinquess Becc; D. rubber BL; D. sabut Becc; D. micracanthus Becc; D. didymohylla Becc; D. melanochaetes Blume; D. longipes Mart; dan lain-lain (Heyne, 1987; Dransfield dan Manokaran, 1994; Januminro, 2000; Waluyo, 2013).

Menurut Sumarna (2004), di Sumatera tumbuhan rotan jernang tersebar terutama disepanjang bukit barisan selatan. Hasil penelitiannya ditemukan 12 jenis  rotan jernang (dari marga Daemonorops) yang meliputi wilayah Jambi, Riau, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Jernang tersebut diantaranya adalah Daemonorops draco, D. didymophylla, D. draconcellus, D. mattanencis, D. acehensis, D. dransfieldii, D. macalata, D. micracantha, D. rubba, D. siberutensis, dan D. sekundurencis. Rotan jernang memiliki nama lokal seperti jernang mundai, jernang beruang, jernang kuku, jernang badak, jernang pulut, jernang burung, jernang salak, getih warah, dll.

Dari jenis rotan jernang tersebut, yang mampu memproduksi resin adalah adalah Daemonorops draco, D. dydimophylla, D. micracantha, dan D. mattanensis. Di wilayah provinsi Jambi sebaran alami maupun budidaya menunjukkan rotan jernang tersebar di Kabupaten Bungo, Merangin, Sarolangun, dan Kawasan Taman Nasional Bukit 12, sedangkan di wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sebaran alami maupun budidaya tersebar di Kabupaten Nagan Raya, Kab. Meulaboh, Kab. Aceh Besar, Kab. Bener Meriah dan sebagian ada di wilayah hutan Lhokseumawe.

Rotan jernang secara alami tumbuh secara merumpun atau berkelompok memanjat hingga ketinggian bisa mencapai 30 meter tergantung dari pohon yang menjadi inang/tempat merambat, rotan jernang langsing dan fleksibel berdiameter 2-3 cm dipenuhi duri-duri kecil dan tajam, buku-buku batang rotan jernang juga pendek antara 5-12 cm, daun berwarna hijau terdiri dari helaian anak daun yang tersusun berpasang-pasangan serta permukaan bagian bawah daun sedikit cekung, buah umumnya berbentuk bulat kecil  diameter  0,5-1,2 cm berwarna ungu agak sedikit mengkilat dan terdapat pada ujung setiap tandan.

Rotan jernang mulai berbunga  umumnya pada umur 2-3 tahun dan berbuah antara 4-6 tahun, masa berbuah biasanya 2 kali dalam setahun yaitu sekitar bulan April dan bulan September. Dalam satu rumpun terdapat beberapa batang rotan jernang bahkan bisa sampai lima batang rotan jernang, buah yang terdapat dalam satu batang rotan jernang bisa dua sampai tiga tandan bahkan ada yang sampai lima tandan. Untuk mendapatkan buah rotan jernang 1 kg memerlukan 10 sampai dengan 30 tandan.

Sampai saat ini rotan jernang semakin langka keberadaannya, umumnya para pencari buah rotan jernang masih sangat tergantung pada tanaman yang tumbuh liar dihutan alam,  sehingga para pemburu/pencari buah rotan jernang mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. Hal tersebut dipengaruhi jauhnya jarak tempuh masuk ke dalam hutan pola panen, serta persaingan diantara pencari buah rotan jernang. Pencari buah rotan jernang melakukan pemanenan dengan cara menebang. Untuk mendapatkan 1 sampai 2 Kg buah rotan jernang, pemburu rela mencari meskipun menginap beberapa hari bahkan sampai seminggu untuk mendapatkan buah rotan jernang. Hal itu dilakukan disamping memenuhi kebutuhan hidup keluarga juga permintaan pasar yang semakin tinggi.

Salah satu teknik sederhana untuk mendapatkan resin jernang dari jenis rotan jernang yang biasa dilakukan oleh masyarakat suku anak dalam di Jambi yaitu dengan menumbuk buah rotan segar sehingga resin  yang menempel pada bagian luar buah terlepas/terpisah. Untuk mendapatkan resin jernang tersebut dilakukan ekstraksi.

Teknik ekstraksi buah jernang merupakan kegiatan untuk mendapatkan resin jernang. Ekstraksi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu ekstraksi kering dan basah.

  1. Teknik ekstraksi kering

Teknik ekstraksi kering

Alat dan bahan yang digunakan yaitu plastik tebal (alas), alat tumbuk (alu), tempat (wadah) untuk menumbuk dan sekaligus dipakai untuk menyaring resin jernang dibuat dari bahan bambu atau rotan yang dianyam dan berongga-rongga.

Teknik ekstraksi kering yaitu buah segar yang didapat hasil panen terlebih dulu dijemur setelah kering dimasukkan kedalam tempat (wadah) lalu ditumbuk dengan alu dengan secara perlahan maka resin jernang tersebut akan jatuh dan terkumpul. Rendemen resin yang dihasilkan sebesar 7-8% (Waluyo, 2008).

  1. Teknik ekstraksi basah

Teknik ekstraksi basah

Alat dan bahan yang digunakan adalah plastik tebal, ember plastik, saringan dari karung anyaman plastik (seperti terlihat pada gambar). Teknik ekstraksi basah dilakukan dengan terlebih dahulu menjemur buah rotan jernang yang segar hasil panen hingga kering. Selanjutnya ditumbuk untuk memudahkan memisahkan kulit dan biji rotan jernang. Kulit buah rotan dimasukkan kedalam wadah/ember yang berisi air, diaduk, dan diremas-remas hingga resin larut dalam air. Kemudian air disaring menggunakan saringan dari karung anyaman plastik. Air saringan ditempatkan dalam wadah/ember dan dibiarkan hingga resin jernang mengendap sempurna. Rendemen yang dihasilkan berkisar 12% (Waluyo, 2008).

Dari hasil analisis produksi, keuntungan yang diperoleh dari berkebun jernang lebih besar jika dibandingkan hasil dari berkebun sawit ataupun karet, yaitu:

Estimasi I

Keuntungan pertahun dari 1 Ha kebun sawit adalah 13 – 17 juta;

Keuntungan pertahun dari 1 Ha karet adalah 20 – 23 juta.

Keuntungan pertahun dari 1 Ha rotan jernang adalah 35 – 38 juta rupiah.

(Kurniawan dan Muara, 2017)

Estimasi II

Pendapatan pertahun kopi gayo adalah 40 juta/ha per tahun.

Pendapatan pertahun buah pinang 2,5 ton x 20 rb/kg adalah 50 juta/ha per tahun.

Pendapatan pertahun lada putih 1 Ha (1000 phn) 1 kg/phn harga 100 rb adalah 100 juta/ha

Pendapatan pertahun rotan jernang 1 Ha (400 rpn) 1 kg/ppn harga 400 rb adalah 400 juta/ha.

 

Referensi:

Dransfield, J. dan N. Manokaran. 1994. Plants resource of South-East Asia. No. 6. Rattans. Bogor: PROSEA.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid I. Jakarta: Badan Litbang Departemen Kehutanan.

http://gisjernang.blogspot.com/2012/12/mengenal-jernang.html.

Januminro, C. F. M. 2000. Rotan Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Kurniawan, A. dan J. Muara. Manajemen usaha rotan jernang. [http://www.forda-mof.org/index.php/download/attach/Manajemen_Usaha_Jernang.pdf/3742].

Sumarna, Y. 2004. Budidaya rotan penghasil getah jernang. Badan Puslitbang Bogor.

Waluyo, T. K. 2008. Teknik ekstraksi tradisional dan analisis sifat-sifat jernang asal Jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 26(1), 30-40.

Waluyo, T. K. 2013. Perbandingan sifat fisika-kimia 5 jenis jernang. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 31(2), 14-150.

Waluyo, T. K., G. Pasaribu, dan M. Nasir. 2015. Teknik pengolahan dan pemanfaatan jernang (Dragon’s Blood).

Yi, T., H. B. Chen, Z. Z. Zhao, Z. L. Yu, Z. H. Jiang. 2011. Comparison of the chemical profile and anti-platelet aggregation effects of two ”Dragon’s Blood” drugs used in traditional Chinese medicine. Journal of Ethnopharmacology. 133, 796-802.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *