Balitbang LHK Aek Nauli

Potensi dan Manfaat Aren

Oleh: Dimpu Jekson Panjaitan, S.Hut. (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Sektor perkebunan merupakan salah satu lumbung pendapatan bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut) yang tidak bisa dipungkiri. Terdapat sekitar 24 komoditas perkebunan di Sumut yang sangat menggiurkan antara lain kelapa sawit, karet, kakao, karet, hingga kelapa. Komoditas ini dapat menyerap tenaga kerja yang jumlahnya tidak sedikit. Tidak heran komoditas perkebunan Sumut terus berkembang dan memikat hati masyarakat petani bahkan tadinya komoditas yang bukan apa-apa menjadi idola, salah satunya adalah Aren (Arenga pinata Merr).

Aren merupakan salah satu pohon dari suku Arecaceae dan termasuk dalam tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Bentuk pohon tegak dengan tinggi berkisar 15-30 meter dan batangnya kokoh berdiameter mencapai 65 cm, serta pada bagian atasnya terbalut serabut berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan ijuk.

Aren begitu populer akhir-akhir ini. Melejitnya Aren masuk dalam jajaran komoditas perkebunan dengan label idola di Sumut. Aren diburu karena dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga ujung daun diantaranya menghasilkan sagu, ijuk, tangkai tandan, buah, daun, pelepah, akar, dan kulit batang. Produksi Aren lainnya juga dapat dimanfaatkan misalnya buah Aren muda untuk pembuatan kolang kaling, air nira untuk bahan pembuatan gula merah/cuka dan pati/tepung dalam batang untuk pembuatan berbagai macam makanan (arenindonesia.wordpress.com). Oleh karena itu, pengembangan Aren sangat memungkinkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, perkebunan, dan perekonomian nasional.

Secara statistik masih sedikit daerah yang sengaja menanam (membudidayakan) tanaman Aren, padahal jika melihat potensi pasarnya akan sangat disayangkan jika melewatkan kesempatan itu begitu saja. Kesempatan dan peluang pasar inilah yang kemudian membuat budidaya tanaman Aren terus digenjot di Sumut. Pengembangan budidaya (ala kebun) awalnya dimulai secara serius pada pertengahan 2015 di Desa Buluh Awar, Kecamatan Sibolangit (Kabupaten Deli Serdang). Di desa ini tidak hanya penanamannya saja secara meluas melainkan juga melahirkan penangkar benih. Desa Buluh Awar bisa dikatakan sebagai pilot project karena kini memang sudah terlihat grafik peningkatan Aren di Sumut.

Selain Deli Serdang, tercatat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina) juga telah melakukan budidaya Aren. Perkembangan pembudidayaan Aren juga sudah memasuki kawasan Serdang Bedagai, Simalungun, Karo, Langkat, Labuhan Batu Utara, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah. Perkembangan petani Aren di Sumut disambut pemerintah dengan membantu sarana serta prasarana produksi dan pascapanen, salah satunya rumah gula oleh Kementerian Perindustrian dan dari program sosial (CSR) Bank Indonesia Perwakilan Sumut (www.medanbisnisdaily.com).

Rumah gula merupakan bangunan tempat pembuatan gula aren (gula merah) baik gula cetakan maupun gula semut. Petani Sumut sudah banyak yang memproduksi gula tersebut di Deli Serdang, Sibolangit, Madina, dan Tapanuli Selatan. Aren memiliki keunggulan dalam industri gula. Gula kristal berbasis Tebu hanya 5,8 – 8,4 ton/ha/tahun sedangkan gula kristal berbasis Aren bisa mencapai 30 – 56 ton/ha/tahun. Gula cair berbasis Tebu 0 ton/ha/tahun (tidak diproduksi) sedangkan gula cair berbasis Aren bisa 22 – 24 ton/ha/tahun. Dengan tingginya produksi tersebut maka hasil (pendapatan) petani pun akan meroket.

Menurut Herawati, Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Aren memiliki nilai ekonomi tinggi karena sekarang sudah mulai banyak menggunakan Aren sebagai pengganti gula pasir. Tujuan jangka panjangnya menjadi swasembada gula karena banyak daerah di Sumut yang memiliki Aren (www.medanbisnisdaily.com).

Indonesia  masih menjadi negara produsen Aren terbesar dunia atas Birma. Dalam tata cara pengelolaan Aren masih kurang baik akan tetapi Syahri Syawal Harahap, Wakil Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agronomi Indonesia (MAI) Sumut, optimis potensi pasar gula Aren sudah semakin besar, bahkan potensi ekspor karena komsumsi dari gula non glukosa (yang diproduksi dari aren) di sejumlah negara lebih tinggi dibandingkan gula glukosa dari tebu (www.medanbisnisdaily.com).

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumut, produksi Aren per tahun 2015 mencapai 3.233,25 ton dengan lahan seluas 5.288,91 ha (Sebayang, 2016). Daerah penghasil Aren di Sumut yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Langkat, Padang Lawas Utara, Mandailing Natal, Nias, Deli Serdang, dan Labuhan Batu (www.medanbisnisdaily.com).

Dengan asumsi produksi yang alami, misalkan 10 liter nira/hari/pohon; jika 100 pohon yang disadap setiap harinya (dari populasi 250 pohon setiap hektar), maka akan diperoleh nira 1.000 liter/hari/ha. Rendemen gula merah dari nira sekitar 20-26,5 %, artinya dari 1.000 liter maka akan diperoleh sekitar 200-265 kg gula merah setiap hari. Kalau harga di tingkat petani Rp 5.000/kg, maka setiap hari pendapatan kotor petani Aren dengan areal 1 ha akan memperoleh sekitar Rp 1.000.000/hari/ha sampai dengan Rp 1.325.000/hari/ha, tentunya dikurangi dengan biaya sadap sebanyak 3-5 orang, tenaga pengelola gula 1-2 orang.

Dari segi ekonomi, melalui proses sederhana Aren dapat menghasilkan nira sebagai produk utama yang dapat diolah lebih lanjut menjadi gula merah atau etanol untuk penghasil energi atau produk lain. Dari segi lingkungan, Aren relatif sulit terbakar, dapat tumbuh bersama pohon lain, dapat menjadi penahan air yang baik, dan mampu menciptakan keseimbangan ekologi. Melihat hal tersebut, budidaya Aren merupakan salah satu solusi sebagai tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan. Jadi tunggu apalagi, saatnya membidik Aren untuk dibudidayakan.

 

Referensi:

Disbun Sumatera Utara. 2015. Statistik perkebunan Sumatera Utara.

https://arenindonesia.wordpress.com/produk-aren/tepung-aren/.

http://kebunaren.blogspot.com/2012/04/industri-aren-di-tapanuli-bagian.html.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2016/03/08/220961/aren-masuk-daftar-komoditas-unggulan-sumut/.

Sebayang, L. 2016. Keragaan eksisting tanaman aren (Arenga pinnata Merr) di Sumatera Utara (Peluang dan potensi pengembangannya). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara. Jurnal Pertanian Tropik. Vol.3, No.2. (15):133-138.

Bagikan ini di:

1026total visits,2visits today