Balitbang LHK Aek Nauli

Pertumbuhan Awal Tanaman Buah-Buahan Hutan di Arboretum Aek Nauli

Bibit Sotul

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Juni 2019)_Bagi masyarakat Batak, hutan tidak hanya menjadi sumber pangan, sandang, energi, obat-obatan dan tempat tinggal, namun juga mempengaruhi nilai dan budaya mereka. Sebagai sumber pangan, selain berladang masyarakat Batak juga mencari berbagai buah-buahan di hutan.

Buah-buahan hutan seperti Balakka, Sihim, Jontik-jontik, Harimonting, Rumbio, Jambu koling, Habo, Gala-gala, Kapundung, Pultak-pultak, Sanduduk, Hosur, Laccat, Hambirbir, dan Camin-camin dipanen Suku Batak Angkola di Mandailing. Suku Batak Toba sering mengambil buah-buahan dari hutan diantaranya Rau, Sotul, Harimonting, Sanduduk, Ruham, Pirdot, Mobe, Hambirbir, dan Haheat. Sedangkan Jenis buah-buahan yang sering diambil dari hutan oleh Suku Simalungun adalah Biwah dan Rambe.

Bibit Biwah

Selain sebagai bahan pangan, buah-buahan hutan tersebut juga digunakan untuk pengobatan. Sekurangnya terdapat 24 jenis pohon buah lainnya yang potesial sebagai sumber pangan dan obat-obatan (Silalahi et al., 2015).

Dari banyaknya buah-buahan hutan tersebut, saat ini Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli sedang mengembangkan lima jenis buah-buahan yaitu Sotul, Biwah, Rukam, Kapundung, dan Tungir-tungir yang ditanam menjadi koleksi Arboretum Aek Nauli.

Bibit Rukam

Buah dan benih yang terkumpul berdasarkan hasil eksplorasi tahun 2017 pada sebaran pohon-pohon buah hutan khas Batak di Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Toba Samosir tersebut disemaikan dan diperbanyak di persemaian Aek Nauli. Material genetik yang telah disemaikan selanjutnya diuji viabilitasnya, kemudian ditanam pada plot uji pertumbuhan seluas 1 ha.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan Nuryana sebagai Teknisi Litkayasa BP2LHK Aek Nauli, tinggi permudaan terbesar pada saat pengukuran pertama pada bulan Agustus terdapat pada jenis Sotul diikuti Tungir-tungir dan Biwah yakni 40,9 cm, 34,3 cm dan 31,1 cm. Pada pengukuran kedua terdapat perubahan tinggi tanaman terbesar yakni Sotul diikuti Tungir-tungir dan Rukam sebesar 43,9 cm, 37,7 cm dan 32,9 cm.

Bibit Hapundung

Riap periodik tinggi terbesar terdapat pada jenis Tungir-tungir sebesar 3,4 cm. Sedangkan riap periodik diameter terdapat pada jenis Rukam dan Tungir-tungir sebesar 0,3 cm. Selanjutnya riap rata-rata tahunan diameter tertinggi terdapat pada jenis Tungir-tungir yakni sebesar 1,2 cm/tahun, diikuti jenis Rukam sebesar 1,1 cm/tahun. Sedangkan riap rata-rata tinggi terbesar terdapat pada jenis Tungir-tungir sebesar 13,6 cm/tahun diikuti jenis Sotul sebesar 12,3 cm/tahun.

Selanjutnya penambahan jumlah daun rata-data tertinggi terdapat pada jenis Tungir-tungir yakni sebesar 17 helai pertahun, dan tertinggi pada jenis Rukam sebanyak 4 helai per tahun. Pertambahan jumlah daun ini juga selaras dengan riap diameter dan tinggi tanaman yang diujikan.

Menurut Nuryana, pertumbuhan tanaman buah-buahan hutan tersebut termasuk bagus, namun harapannya pemeliharaan tanaman pada plot uji secara periodik harus selalu dilakukan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan dalam jangka panjang.***N

 

Pustaka

Silalahi, J., A. H. Harianja, S. P. Barus, dan Maskulino. 2015. Strategi Pelestarian Buah-buahan Potensial dari Hutan Pada Etnis Batak Sebagai Sumber Pangan. Laporan.

Bagikan ini di:

1601total visits,11visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *