Balitbang LHK Aek Nauli

Optimalisasi Pakan Madu; Menjawab Pemenuhan Kebutuhan Madu Indonesia

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Mei 2019)_Perkembangan budidaya lebah saat ini sangat pesat. Tercatat hingga kini beberapa peternak lebah yang sukses mengembangakan ternak lebah sebagai penghasil madu, propolis, royal jelly, dan lain sebagainya. Keberhasilan beternak lebah tidak terlepas dari ketersediaan pakan yang menjadi sumber utama bagi lebah untuk menghasilkan madu maupun propolis.

Pengamatan pada lokasi pengembangan lebah madu di daerah Karo menunjukkan prospek yang baik dalam usaha ternak lebah. Jenis pakan lebah adalah pohon maupun tanaman yang berbunga dan menghasilkan 3 unsur utama yaitu nektar, polen, dan resin. Rata-rata jenis lebah yang dibudidayakan merupakan jenis Apis cerana sebagai penghasil madu utama. Sedangkan untuk penghasil propolis berasal dari jenis Trigona spp.

Sumber pakan apis cerana didominasi oleh pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang banyak ditemui di perkebunan wilayah Karo. Untuk pohon resin bagi trigona spp banyak ditemui pada pohon dapdap (Erythrina variegate) maupun pada pohon manga (Mangifera indica) dan alpokat (Persea americana). Jenis pohon hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber resin bagi Trigona spp di daerah karo adalah Pinus merkusii yang memiliki getah banyak dan menjadi komoditi sebagai penghasil getah. Hal ini dapat diketahui dari bau khas pinus pada propolis trigona di peternakan kabupaten Karo.

Keberadaan tegakan pohon resin penting bagi Trigona sebagai sumber utama dalam menghasilkan propolis. Namun, kebutuhan nektar dan polen dari bunga tetap perlu diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan madu agar lebah dapat tetap berada di sarang yang disediakan. Untuk itu perlu strategi pengelolaan kawasan pakan lebah yang dapat memenuhi ketiga unsur utama tersebut sepanjang tahun per bulannya.

Upaya penanaman tanaman bunga di bawah tegakan pohon hutan dapat menjadi solusi bagi ketersediaan pakan lebah.  Salah satu alternatif komposisi jenis yang dapat digunakan di Kabupaten Karo adalah  penanaman jenis kaliandra di dalam tegakan pinus yang di sadap. Selain itu, dapat ditambah dengan jenis tanaman berbunga seperti krinyu di luar tegakan Pinus. Penempatan di luar tegakan mengingat sulitnya intensitas cahaya yang tinggi menembus kepadatan tajuk tegakan pinus serta kandungan allelopati daun pinus yang menyulitkan tanaman mampu tumbuh di bawah tegakan.

Penanaman jenis-jenis pakan lebah berbunga sepanjang tahun serta musiman akan mendorong ketersediaan nektar maupun polen bagi lebah. Pohon yang disadap akan menjadi sumber resin utama bagi jenis trigona. Dengan metode kebun campur di areal tegakan pohon hutan diharapkan ketersediaan sumber madu dan propolis akan selalu ada di setiap bulannya.

Walau demikian, faktor iklim menjadi masalah lainnya. Jumlah madu yang dihasilkan pada musim hujan lebih sedikit dari bulan kering. Curah hujan yang tinggi mengurangi kemampuan lebah untuk memanen polen maupun nektar. Lebih lanjut, angin kencang saat musim penghujan merusak bunga dan mengurangi jumlah ketersediaan resin pada pohon hutan.

Dengan demikian, optimalisasi produksi madu pada bulan kering menjadi opsi terbaik untuk menyediakan stok madu pada musim hujan. Pemilihan bunga musiman yang lebih banyak mekar pada musim kering sangat penting untuk di pilih sebagai pakan lebah utama. Pemilihan pakan yang tepat akan menjadi modal besar untuk meningkatkan jumlah produksi madu yang mendukung kebutuhan konsumsi madu oleh konsumen Indonesia.***AH & MHS

Bagikan ini di:

1819total visits,2visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *