Balitbang LHK Aek Nauli

Model dan Potensi Integrated Agroforestry-Apiculture System untuk Danau Toba

Permasalahan degradasi Daerah Tangkapan Air Danau Toba bersifat multidimensi sehingga upaya pemulihannya memerlukan pendekatan holistik, integratif serta penegasan tentang pentingnya perencanaan strategis yang melibatkan peran aktif masyarakat. Peningkatan produktivitas lahan yang dapat mengembangkan sumber pendapatan alternatif masyarakat perlu diidentifikasi. Budidaya pertanian intensif maupun peningkatan efisiensi dan optimalisasi penggunaan lahan akan memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini model sistem agroforestry yang terintegrasi dengan budidaya lebah (Integrated Agroforestry Apiculture System –IAAS) dapat diajukan sebagai skema yang perlu dikembangkan.

Budidaya lebah untuk peningkatan kesejahteraan dan peningkatan produktivitas lahan telah dipraktikkan sejak lama. Serangga ini merupakan agen penyerbukan serta penyedia madu, royal jelly dan propolis yang bernilai gizi tinggi. Di Indonesia, lebah Apis dan Trigona telah dibudidayakan untuk menghasilkan madu dan propolis. Namun,  lebah Trigona belum banyak dikenal. Jika sumber pakan lebah Apis sebagian besar adalah nektar, sumber pakan lebah Trigona adalah resin/ getah. Resin dan nektar ini relatif tersedia sepanjang tahun dari pohon-pohon penghasil resin seperti Kemenyan, Tusam, Damar, Jelutung, Kapur, Karet dan lainnya serta bunga yag melimpah dari Kopi, Kaliandra dan Makadamia di Danau Toba.

Potensi resin Kemenyan yang tinggi di DTA Danau Toba  merupakan peluang bagi pengembangan budidaya lebah Trigona. Tidak kurang 23.592 ha hutan kemenyan terdapat di wilayah ini. Usaha tani kopi juga sudah lama dikenal, tercatat total luas tanaman mencapai 57.075 ha di kawasan ini (BPS Sumatera Utara, 2015). Perkebunan kopi ini cenderung meningkat seiring dengan peningkatan permintaan dunia.

Potensi sumber pakan yang melimpah, teknik budidaya yang tidak rumit, harga jual dan permintaan yang tinggi merupakan beberapa kekuatan dan peluang bagi pengembangan budidaya lebah di Danau Toba. Sebuah peluang besar bagi upaya pengentasan kemiskinan masyarakat.

Inisiatif budidaya lebah pada sistem agroforestry di Pakpak Bharat membuktikan tingginya potensi propolis dan madu lebah yang dihasilkan. Dalam waktu enam bulan, telah berkembang ratusan koloni Trigona dan Apis yang diternakkan setiap kelompok tani pada dua kecamatan wilayah ini.

Jika setiap stup Trigona yang dipelihara telah mencapai populasi stabil menghasilkan 70 g propolis setiap minggu serta harga di tingkat petani mencapai Rp 200/g, dan setiap petani yang memelihara 20-30 stup akan diperoleh pendapatan Rp 960.000-1.200.000 per bulan. Propolis yang dihasilkan ini umumnya beraroma khas kemenyan. Sedangkan dari budidaya lebah Apis, rata-rata setiap stup menghasilkan 1.500 g madu setiap panen dua mingguan. Jika rata-rata setiap petani memelihara 10-20 stup dan harga madu di tingkat petani mencapai Rp 150.000/ 900 g maka akan diperoleh pendapatan setiap bulan Rp 5.000.000–10.000.000 per bulan.

Pada musim puncak tanaman berbunga di Danau Toba (Juli – November), panen lebah madu dapat mencapai 2.000 g per stup setiap dua minggu. Penambahan pendapatan keluarga yang cukup menjanjikan mengingat cara pemeliharaan lebah Apis dan Trigona yang relatif mudah dan alokasi waktu yang dicurahkan sangat minim.

Artikel Terkait: Pengembangan Model IAAS di DTA Danau Toba

Kontributor Naskah dan Foto: Aswandi dan Aam Hasanuddin

Referensi:

Aswandi, Hasanuddin A, Sunandar AD, Kholibrina CR, Sukmana A, Maskulino, Harianja AH, Susilowati A, dan Iswanto, AH. 2016. Model IAAS (Integrated Agroforestry Apiculture System) untuk Pemulihan Ekosistem dan Kesejahteraan Masyarakat di Danau Toba. Makalah pada Kongres Kehutanan Indonesia VI, Jakarta 9 November – 2 Desember 2016.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *