Balitbang LHK Aek Nauli

Menyingkap Sisi Lain Pulau Pejantan

Pada kesempatan kali ini, tim reportase Website Aek Nauli menggali lebih jauh informasi mengenai sisi lain yang belum pernah dikupas media tentang Pulau Pejantan dari Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, salah satu peneliti BP2LHK Aek Nauli yang ikut serta dalam tim ekspedisi KLHK ke Pulau Pejantan akhir Januari 2017 lalu. Asal nama Pulau Pejantan menurut warga setempat adalah dari batu mirip ayam jantan yang terdapat pada pulau ini. “Konon kabarnya masyarakat sering mendengar bunyi ayam jantan berkokok disini” Ujar Wanda.

Disamping itu, asal nama Pulau Pejantan bersumber dari kondisi alam yang ekstrim untuk dapat menuju ke pulau ini, sehingga hanya orang-orang yang dianggap Jantan dan bernyali tinggi yang berani datang menuju pulau ini, bagaimana tidak, karena letaknya yang berada di tengah-tengah Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. “Untuk mencapai pulau ini diperlukan nyali yang berlebih”, sambung Wanda menambahkan. Cerita masyarakat sekitar tahun 1900-an banyak perompak laut datang ke Pulau pejantan untuk merampas harta dan kapal yang berlabuh disini.

Dari Pulau Bintan (Tanjung Pinang-Red) diperlukan waktu 24 Jam untuk menuju Pulau Tambelan menggunakan kapal Pelni pada jalur tol laut yang telah disediakan pemerintah. Dari Pulau Tambelan, masih 8 jam menuju Pulau Pejantan menggunakan kapal carteran. Berhubung ombak yang tinggi dan sisi pulau yang tak ramah terhadap kapal yang besar, kapal yang dicarter tidak dapat merapat ke pinggir pulau, tim yang menuju kesana terpaksa menggunakan kano untuk dapat berlabuh di Pulau Pejantan ini.

Disamping kearifan lokal masyarakat Pulau Pejantan, juga berkembang hal-hal mistis yang dipercayai masyarakat disini, tambah Wanda. Pulau Pejantan dipercayai masyarakat setempat sebagai tempat/kerajaan mahluk halus. Apabila beruntung maka akan ditunjukan keadaan dunia lain, seperti Kuburan keramat di Puncak Gunung Kodirun dan banyak ditemukan benda-benda mistik lainnya. Beberapa temuan lainnya di pulau ini adalah Aek Bende (batu yang menyerupai kemaluan manusia). Asal usul batu ini menurut masyarakat adalah karena perselisihan antara suami istri yang dulu pernah tinggal di Pejantan. Pertengkaran di picu oleh keinginan istri untuk memelihara babi di Pulau pejantan dan Suami tidak menyetujuinya karena apabila memelihara babi maka akan timbul bencana alam dan penyakit di Pulau Pejantan. Suami membunuh istrinya dan kemaluannya dibuang di hutan sehingga saat ini dianggap masyarakat menjadi batu.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika seseorang akan mengambil dan membawa suatu benda dari Pulau Pejantan, diharuskan permisi atau minta ijin agar tidak diganggu oleh mahluk halus, seperti disesatkan dalam hutan atau mengalami kejadian irrasional.

Di Pulau Pejantan ini rata-rata pohon kayu condong ke darat, termasuk pohon kelapa. Disini terdapat juga pohon raja atau kayu menang, dimana kayu tersebut jadi pusat condong kayu lainnya, sehingga dianggap masyarakat sebagai kayu kiblat. Secara keilmuan hal ini memungkinkan karena kondisi pulau pejantan yang memanjang utara-selatan dengan jarak timur barat yang pendek. Topografi pulau banyak tebing yang terjal sehingga angin laut yang menembus dari semua penjuru akan terbentur tebing sehingga tidak menembus bagian lainnya. Hal ini memungkinkan condong pohon akan mengarah ke tengah karena hembusan angin laut ke daratan.

Terlepas dari kondisi alam dan berbagai kepercayaan mistis yang berkembang seiring kearifan lokal masyarakat setempat, Pulau Pejantan merupakan salah satu tempat yang menarik untuk dijadikan lokasi penelitian dan destinasi wisata alternatif bagi para pecinta alam dan lingkungan. Dengan seringnya pulau ini dikunjungi ilmuwan dan wisatawan, diharapkan dapat mendongkrak perekonomian masyarakat setempat sehingga secara perlahan, roda pembangunan juga akan menyentuh pulau yang masih dalam wilayah Republik Indonesia ini, walaupun tak satu pun terlihat bendera indonesia berkibar disana. Kondisi yang paling menyedihkan menurut Wanda adalah ketika anak-anak disana disuruh untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, tak satu pun anak-anak itu tahu dan hafal. “Kalau berkesempatan kesana lagi, saya akan bawa bendera merah putih dan mengajarkan anak-anak itu lagu kebangsaan kita” Tutup Wanda diakhir pertemuan dengan tim Reportase Website Aek Nauli.

***

Narasumber: Wanda Kuswanda
Koleksi Foto: Wanda Kuswanda
Reporter: Haris, Novri, Hery

Bagikan ini di:

1 Comment

  1. Dimas delapan

    Luar biasa..

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *