Balitbang LHK Aek Nauli

Menyelamatkan yang Tersisa: Taxus sumatrana, Pohon Obat yang Terancam Punah

Oleh: Dr. Ahmad Dany Sunandar, S.Hut., M.Si.

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Maret 2019)_Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam tumbuhan dengan masing-masing manfaatnya. Hutan tropika Indonesia merupakan tempat tumbuh 80% dari tanaman obat di dunia dimana 28.000 spesies tanaman tumbuh dan 1.000 spesies diantaranya telah digunakan sebagai tanaman obat dari 2.039 jenis tumbuhan obat yang ada. Obat yang berasal dari senyawa metabolit sekunder dari berbagai sumber di hutan tropis ini dapat dan telah digunakan sebagai obat tradisinal. Menurut Badan POM, terdapat 283 tanaman yang telah diregistrasi untuk penggunaan obat tradisional/jamu dan 180 diantaranya merupakan jenis tumbuhan obat yang masih dikumpulkan secara langsung dari hutan.

Sebagai sumber pasokan untuk berbagai jenis tumbuhan obat, kemampuan hutan dalam menyediakan tumbuhan tersebut tentu dibatasi oleh potensi dan kemampuan beregenerasi dari tumbuhan obat tersebut. Contohnya adalah taxus, yang selain mempunyai masa dormansi benih yang panjang sehingga perkembangbiakkannya menjadi lambat, juga dieksploitasi kulit dan daunnya secara besar-besaran tanpa memperhatikan aspek kelestarian, sehingga menimbulkan kelangkaan dan hanya menyisakan batang pohon yang mati di hutan.

Taxus sudah dikenal di dunia sebagai obat anti kanker sejak tahun 1970an khususnya untuk kanker rahim dan kanker payudara. Ekstrak dari tanaman ini yaitu paclitaxel (TaxolTM) dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker khususnya kanker ovarium dan kanker payudara dan juga telah dicobakan untuk pengobatan beberapa jenis kanker lainnya. Selain sebagai obat kanker, taxus juga mempunyai potensi sebagai anticonsulvant dan antipyretic serta juga sebagai analgesic.

Gambar 1. Pohon T. sumatrana di Gunung Kerinci

Pada awalnya, jenis taxus yang diteliti adalah dari spesies Taxus baccata namun dalam penelitian selanjutnya, semua genus taxus mempunyai potensi sebagai obat anti kanker termasuk T. sumatrana. Genus Taxus ini memiliki 24 spesies dan 55 varietas. Sebaran alami genus taxus hanya terdapat dibeberapa negara, terutama di Asia, seperti Taxus cuspidata (ditemukan di Jepang), Taxus chinensis (ditemukan di China), dan Taxus sumatrana (ditemukan di Indonesia, Taiwan, Vietnam, Nepal, dan Tibet), yang kondisi populasinya saat ini sudah terancam punah.

Terdapat lima spesies taxus di Asia, Filippina, dan Indonesia dan sudah masuk ke dalam CITES Appendix II. Jenis taxus yang ditemukan di Indonesia adalah jenis Taxus sumatrana Miq. De Laub. dan jenis ini tersebar di Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Selatan. Potensi Taxus sumatrana sebagai obat kanker telah diteliti untuk mengobati berbagai jenis kanker seperti human liver carcinoma (Hepa59T/VGH), human large cell carcinoma of the lungs (NCI), human cervical epitheloid carcinoma (Hela), human colon adenocarcinoma (DLD-1), human medulloblastoma (Med) cell lines, human PC-3 tumor cells.

Gambar 2. Pengambilan kulit taxus di Gunung Kerinci

Penyebaran jenis T. sumatrana di Indonesia tidak terlalu luas dan besifat spotted di beberapa wilayah. Wilayah penyebaran terluas ada di Jambi yang meliputi Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, dan Danau Belibis. Di Sumatera Utara penyebarannya berada di sekitar Gunung Sibuaton dengan areal yang sempit sedangkan di Sumatera Selatan berada di sekitar Gunung Dempo. Satu hal yang mengkhawatirkan dari penyebaran T. sumatrana ini adalah tingkat regenerasi yang rendah, terutama di Gunung Sibuaton dan Gunung Dempo. Di Gunung Sibuaton, regenerasi pohon untuk tingkat tiang tidak ada sedangkan di Gunung Dempo, hanya terdapat pohon dewasa tanpa ada regenerasi untuk tingkat di bawahnya baik semai, tiang dan pancang. Untuk di Jambi, tingkat regenerasi T. sumatrana masih baik namun jika dibandingkan dengan jenis lain, tingkatnya masih sangat rendah.

Pemanfaatan T. sumatrana sebagai pohon yang berkhasiat obat di Indonesia belum banyak dilakukan. Informasi khasiatnya masih sebatas di lingkungan orang-orang yang telah mengenal dan mencobanya saja. Namun untuk di Jambi, khasiat jenis ini telah banyak diketahui dan untuk pohon T. sumatrana yang ada di sepanjang jalur pendakian di Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh, telah banyak kulit T. sumatrana yang diambil. Untuk di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, pemanfaatan jenis ini belum banyak dan disamping itu, lokasi tempat tumbuh yang sulit dijangkau juga menjadi andil masih terpeliharanya tegakan T. sumatrana di kedua lokasi ini.

Gambar 3. Pohon T. sumatrana umur 7 tahun di Sipisopiso

Panjangnya masa dormansi benih dan pertumbuhan yang lambat menjadikan T. sumatrana kalah bersaing dengan jenis lain dan rendah tingkat regenerasinya. Rendahnya tingkat regenerasi merupakan hal yang paling mengkhawatirkan karena suatu saat jenis ini dapat punah jika tidak dilakukan upaya penyelamatannya. Salah satu upaya penyelamatannya adalah dengan membangun plot eksitu dan memperbanyaknya melalui stek atau kultur jaringan.

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli telah melakukan upaya pembangunan plot eksitu T. sumatrana sejak tahun 2010. Langkah pertama adalah melalui pengumpulan material genetik yang ada di Gunung Sibuaton dan Gunung Kerinci lalu melakukan perbanyakan di persemaian BP2LHK Aek Nauli. Saat ini telah dibangun tiga plot eksitu T. sumatrana di Kebun Percobaan Sipisopiso di Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan luas total 2,8 hektar dengan jumlah tanaman sekitar 1.850 batang dengan bibit yang berasal dari Gunung Sibuaton, Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh.

Gambar 4. Bibit taxus hasil perbanyakan dengan stek

Saat ini Semoga upaya penyelamatan ini dapat menjadi benteng keberadaan T. sumatrana di Indonesia dan dapat menjadi sumber bibit untuk perbanyakannya.

 

Pustaka:

Barradas-Dermitz, D., P.M. Hayward-Jones, M. Mata-Rosas, B.P. Sanchez, O.B.J. Platas-Barradas, and R.F.V. Toledo. 2010. Taxus globosa S. Cell Lines: Initiation, Selection and Characterization in Terms of Growth , and of Baccatin III and Paclitaxel Production. Biocell 34 (1): 1–6.

Farr, K. 2008. Genus–level approach to Taxus species. Mexico City.

Ghafoori, R., Bernard, F., Abolmaali, S., & Mousavi, A. 2012. Improved effect of glutathione on the induction and growth of Taxus baccata L . callus. Annals of Biological Research, 3(4): 1726–1730.

Guang-li, S., B. Bing, & L. Chang-hu. 2010. Seed rain and seed bank of Chinese yew (Taxus chinensis var. mairei) population. Acta Ecologica Sinica, 30(5): 276–279. doi:10.1016/j.chnaes.2010.08.010.

Hussain, A., I. A. Qarshi, H. Nazir, I. Ullah, M. Rashid, & Z.K. Shinwari. 2013. In vitro callogenesis and organogenesis in Taxus wallichiana Zucc. The Himalayan yew. J. Bot, 45(5): 1755–1759.

Khosroushahi, Ahmad Yari, Hossein Naderi-manesh, and Henrik Toft Simonsen. 2011. Effect of Antioxidants and Carbohydrates in Callus Cultures of Taxus Brevifolia : Evaluation of Browning, Callus Growth, Total Phenolics and Paclitaxel Production. Bioimpacts, 1(1): 37–45.

Li, Cunfang, Changhong Huo, Manli Zhang, and Qingwen Shi. 2008. Chemistry of Chinese Yew, Taxus Chinensis Var. Mairei. Biochemical Systematics and Ecology, 36: 266–282. doi:10.1016/j.bse.2007.08.002.

Malik, Sonia, Rosa M Cusidó, Mohammad Hossein, Elisabeth Moyano, Javier Palazón, and Mercedes Bonfill. 2011. Production of the Anticancer Drug Taxol in Taxus Baccata Suspension Cultures : A Review. Process Biochemistry 46(1): 23–34. doi:10.1016/j.procbio.2010.09.004. http://dx.doi.org/10.1016/j.procbio.2010.09.004.

Rajendran, L., K. Rajagopal, & K. Subbarayan. 2013. Efficiency of fungal taxol on human liver carcinoma cell lines. American Journal of Research Communication, 1(6): 112–121.

Spjut, Richard W. 2007. Taxonomy and Nomenclature of TAXUS (Taxaceae). Journal of the Botanical Institute of Texas 1(1): 203–289.

Wani, M., H. Taylor, M. Wall, P. Coggon, & M. AT. 1971. Plant antitumor agents. VI. The isolation and structure of taxol, a novel antileukemic and antitumor agent from Taxus brevifolia. Journal American Chem. Soc., 93: 2325–2327.

Bagikan ini di:

4706total visits,20visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *