Balitbang LHK Aek Nauli

Mengenal Agathis sp. dan Sebarannya

Oleh: Edi Kuwato (Teknisi Likyasa Penyelia)

Tegakan Damar
Lokasi: Arboretum BP2LHK Aek Nauli

Agathis yang sering disebut Damar termasuk dalam famili Araucariaceae. Pohon ini bercirikan batang sangat besar dan percabanganya sedikit datar tidak ada beberapa batang di bawah tajuk. Pohon muda biasanya bertajuk kerucut, hanya saat dewasa tegakannya menjadi lebih membulat atau tidak beraturan. Di Indonesia, penyebaran jenis Agathis sangat luas meliputi beberapa pulau besar dari pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Beberapa  jenis yang terpenting menurut daerah penyebaran alaminya antara lain Aghatis alba Warb. (Sumatera, Maluku), Agathis borneensis Warb. (Kalimantan), Agathis hauri (Sulawesi), Agathis philippines (Sulawesi), dan Agathis labillardieri Warb. (Papua) (www.irwantoshut.com).

Di hutan lindung Sipagimbar Tapanuli Selatan terdapat tegakan alami Agathis bornensis Warb. Menurut Harahap dan Izudin (2002) jenis Agathis dengan naman lokal “Sitobu” ini bersinonim dengan Agathis rhomboidalis Warb., bersama dengan jenis lain seperti Dacrydium junghuhnii, Calophyllum teysmannii, Camnosperma sp., Cryptocarpa palawensis, Eugenia clavimyrtus, Lucuma petaloides, Lithocarpus ewyckii, Magnolia sp., dan Santiria laevigata. Tegakan Agathis membentuk tegakan hutan yang heterogen (Butar-butar dan Harahap, 1997). Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian mulai dari 300–1500 m dpl, kecuali Agathis beccarii tumbuh pada ketinggian 50 m dpl (0–900 m dpl). Secara keseluruhan terdapat sekitar 22 jenis Agathis yang tumbuh alami dikawasan Asia Tenggara, timur laut Australia, Filipina, dan kepulauan Pasifik (van Gelderen dan van Hoey Smith, 1996).

Percabangan pada batang Damar

Jenis Agathis sp. berbuah hampir sepanjang tahun. Pada umur 15 tahun umumnya sudah berbuah, namun demikian biji yang baik diambil dari tegakan yang berumur 20 tahun. Ciri-ciri buah yang sudah tua yaitu berwarna hijau tua kecoklatan dan sisik kulit melebar (lekukan-lekukan tidak kelihatan) (rajabenih.com). Musim buah biasanya bulan Februari–April dan Agustus–Oktober, dengan jumlah biji per kg sebanyak 4.950 butir.

Pembibitan tanaman ini dapat dilakukan dengan cara menyemaikan benih pada media tanah atau pasir dalam posisi berdiri. Benih mulai berkecambah setelah 6 hari. Pembibitan secara vegetatif juga dapat dilakukan dengan menggunakan bahan stek batang dari anakan (Nurhasybi dan Sudarajat, 2001).

Dalam rangka konservasi ex-situ Agathis borneensis asal Sipagimbar, pada tahun 1996 telah dikumpulkan anakan alam dan ditanam di Arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli. Kayu Agathis dari Sipagimbar mempunyai berat jenis 0,40 dengan kadar air pangkal dan ujung batang masing-masing sebesar 58,8% dan 61,8% (Hidayat dan Fadillah, 1995). Jenis ini sekarang berumur 20 tahun dan sudah bisa disadap.

Penyadapan getah dapat dilakukan dengan cara dibor. Selain bor, cara yang lain menggunakan metode quarre. Metode quarre ini lebih cocok untuk getah Agathis, jika menggunakan metode bor maka getah cepat membeku dan terjadi penyumbatan. Metode quarre dilakukan dengan cara melukai kulit hingga ke kulit ari yang berwarna putih dengan berbentuk kotak segi empat. Teknik penyadapan getah dilakukan dengan melukai bagian batang mengupas kulit dengan membentuk huruf V dari tanah 15–25 cm, menghadap ke timur. Penyadapan ke arah timur dilakukan supaya menghasilkan getah yang lebih besar dibandingkan dengan melukai batang menghadap ke selatan, barat maupun utara. Dalam penyadapan diperlukan intensitas sinar matahari yang lebih banyak karena akan memberikan pengaruh positif terhadap produksi getah.

Daun Damar

Penggunaan stimulan dalam penyadapan Agathis diperlukan untuk merangsang terbentuknya getah lebih banyak yaitu dengan menyemprot bagian atas koakan. Untuk menstimulan getah supaya cepat keluar digunakan asam klorida. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Triwanto (2006) bahwa dengan konsentrasi asam klorida 20% akan memberikan hasil produksi getah yang tertinggi pohon dengan diamter 30–35 cm dengan rata-rata getah yang dihasilkan perpohon 13.744 g, sedangkan perlakuan tanpa asam klorida rata-rata 7.616 g getah yang dihasilkan perpohon. Pembaruan koakan dilakukan 5 hari, koakan akan tertutup kembali setalah 7 bulan. Umur produktif pohon Agathis yaitu 30–40 tahun.

Pohon Damar menghasilkan kayu yang dalam perdagangan dikenal sebagai agatis (kayu agatis; sementara kayu damar dihasilkan oleh jenis-jenis Araucaria). Kayu Agathis bermutu baik, merupakan salah satu kayu perdagangan utama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kayu Agathis termasuk kelas kuat III dan kelas awet V. Kayu ini tergolong kayu lunak dan ringan, terasnya kuning pucat hingga sewarna jerami, sering dengan campuran warna merah muda, dan tidak jelas terbedakan dari kayu gubalnya. Kerapatan kayunya berkisar antara 360–660 kg/m3 pada kadar air 15%. Serat kayu umumnya lurus, serta tekstur yang sangat halus dan rata.

Kayu jenis ini umumnya dinilai sangat bagus untuk keperluan pertukangan, pembuatan tiang perahu, konstruksi di bawah atap, perabotan rumah tangga, papan bingkai, panil-panil kayu, veneer, kayu lapis, dan peti-peti pengemas. Kayu Agathis juga umum digunakan pada pembuatan gitar rentang menengah, karena sifat resonansinya yang bagus, namun ongkos produksinya murah. Jenis ini dipakai juga untuk beberapa papan permainan igo.

Selain kayu, Agathis menghasilkan kopal (resin) yang bernilai ekonomi tinggi. Getahnya dapat digunakan sebagai bahan cat, spiritus, bahan sizing, waterprofing, tinta cetak, vernis, isolasi listrik, korek api, bahan plitur, lem, industri kulit, industri batik sebagai campuran lilin, industri kertas (bahan pengisi dalam pembuatan kertas kebutuhan 0,5% dari 2000 ton), industri sabun sebagai campuran 5–10%, menambal sambungan papan dalam pembuatan perahu dan yang terpenting getah damar kopal digunakan untuk pembungkus kabel laut atau tanah.

Dengan bentuk batang lurus dan pertumbuhan yang relatif cepat, Agathis sangat potensial dikembangkan menjadi hutan tanaman. Jenis ini juga memiliki nilai estetika seperti yang ditanam pada sepanjang jalan patroli di hutan Perum Perhutani KPH Banyumas, terlihat sangat indah. Selain untuk penghijauan, sangat disayangkan Agathis belum dijadikan sebagai hutan tanaman dalam jumlah yang luas seperti halnya Pinus merkusii sebagai hutan produksi diluar Jawa. Belum ada hutan tanaman khusus Agathis diluar Jawa walaupun penyebarannya diluar pulau Jawa. Selain itu, perlu dilakukan penanaman jenis Agathis sp. di Sumatera Utara sebagai hutan tanaman jenis Agathis secara luas.

 

Referensi:

Butar-Butar dan R.M.S. Harahap. 1997. Studi tapak Agathis rhomboidales dan Dacrydium Junghunnii dihutan alam Sipagimbar. Buletin Penelitian Kehutanan Pematang Siantar. 13.3:203-216.

Harahap, R.M.S. dan Izudin. 2002. Konifer di Sumatera Bagian Utara Konifera 1 (XVIII). 61-71.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonsia. Badan Litbang Kehutanan Indonesia.

Hidayat, S. dan R.R. Fadillah. 1995. Berat jenis dan kadar air daun jarum asal Sumatera Utara. Prosiding Diskusi Hasil Penelitin Kehutanan. Parapat 27-29 Nopember 1995 BPK. P. 138-147.

https://forestryinformation.wordpress.com/2011/07/19/agathis-alba-foxw/.

http: //rajabenih.com/?p=31.

Nurhasybi dan D.J. Sudrajat. 2001. Informasi singkat benih Agathis lorantifolia RA Salisbury. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan.

van Gelderan, D.M. and J.R.P. van Hoey Smith. 1996. Conifers the ilusstrated 1996 conifers, the encyclopedia. Volume I (AK) Timber press. P. 5.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *