Balitbang LHK Aek Nauli

Memaksimalkan Produksi dan Produktifitas Kegiatan Perlebahan di Sumbagut

Oleh: Aam Hasanudin, S.Hut. (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Ahli Teknologi Budidaya Lebah Madu Masyarakat Peduli Api (MPA) Sibaganding, Sumatera Utara

Perkembangan kegiatan perlebahan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan, khususnya Provinsi Aceh dengan data produksi madu pada tahun 2000 sebanyak 67,04 ton terjadi penuran drastis, produksi madu hanya 240 kg sampai tahun 2010. Hal yang sama juga terjadi di Provinsi Sumatera Utara, produksi madu tahun 2000 sebanyak 70,32 ton menurun drastis menjadi 70 kg sampai tahun 2010. Selanjutnya, Sumatera Barat tahun 2000 sebanyak 73,04 ton terjadi penuran drastis produksi madu menjadi 340 kg sampai tahun 2010. Kondisi saat ini, kebutuhan madu untuk dua industri, farmasi dan konsumsi didatangkan dan dimport dari negara tetangga, Thailand dan China.

Negara maju rata-rata mengonsumsi madu 1.500 gram perkapita pertahun, sedangkan di Indonesia konsumsi madu rata-rata hanya 70 gram per kapita pertahun. Jumlah penduduk di Nanggroe Aceh Darusalam sebanyak 5.322.000 jiwa (BPS NAD, 2017), Sumatera Utara sebanyak 14.260.000 jiwa (BPS Sumut, 2017), dan Sumatera Barat 5.190.000 jiwa (BPS Sumbar, 2017). Dari data tersebut perkiraan kebutuhan madu untuk Sumbagut yaitu sebesar 1.734.040 kg, belum kebutuhan untuk dunia industri dan farmasi.

Produksi madu pada tahun 2000 diatas cenderung dihasilkan oleh lebah hutan Apis dorsata. Namun, populasi lebah ini dari tahun ketahun semakin hilang dari peredaran karena punah dan terputusnya siklus kehidupan lebah yang disebabkan oleh kesalahan teknik pemanenan yang sembarangan (pemanenan pangkas sarang habis) tanpa memperhatikan kelangsungan kehidupan larva, pupa, dan anakan lebah. Potensi sumber pakan yang berbunga silih berganti sepanjang tahun di areal hutan yang luas dan juga Indonesia memiliki agroklimat tropis serta beraneka ragam jenis tumbuhan sebagai sumber pakan lebah akan mendukung potensi bibit lebah, seperti Apis cerana, Apis dorsata, dan Trigona, spp. yang sangat banyak sub spesiesnya.

Ahli Teknologi Lebah Madu Kelompok Tani Desa Trumon, Aceh Selatan

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli mulai berkiprah sejak tahun 1987 dalam budidaya lebah madu. Pada tahun 1990 kita BP2LHK Aek Nauli yang dulunya bernama Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar mendapat kesempatan dan kehormatan menjadi narasumber dan instruktur  utama Perlebahan di Balai Diklat Kehutanan Pematang Siantar. Peserta Diklat yang hadir sebanyak 30 orang dari Provinsi Aceh, Sumut, Sumbar, dan Bengkulu. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam dua angkatan yang diikuti oleh penyuluh dan masyarakat. Perkembangan kegiatan pelatihan ini sudah berkiprah hampir 30 tahun dan sudah melatih sebanyak 1.800 orang dari empat provinsi.

Selain itu, BP2LHK Aek Nauli juga banyak bersosialisasi dengan masyarakat hampir disetiap daerah dan diminta sebagai narasaumber oleh institusi pemerintahan, LSM, pesantren bahkan kelompok peternak lebah yang sudah memiliki kelompok. Pemberian bimbingan kepada masyarakat diantaranya di daerah Takengon, Bener Meriah, Jhanto, Bireun, Loksumawe, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Trumon, Sabang, dll. Sedangkan untuk Sumatera Utara meliputi daerah Kabupaten Pakpak Bharat, Kecamatan Kerajaan, Tinada, Sirube Empat, Ulu Merah, Kabupaten Dairi, Tanah Karo, Sergai, Langkat, Asahan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Samosir, dan Batubara. Provinsi Sumatera Barat juga merupakan daerah jelajah dalam penyampaian alih teknologi yang dilaksanakan oleh BP2LHK Aek Nauli. Bentuk kegiatan dalam bimbingan teknis yang diberikan oleh BP2LHK Aek Naul, yaitu:

  1. Pemungutan madu lebah hutan, Apis dorsata,
  2. Budidaya lebah menetap, Apis cerana,
  3. Budidaya lebah berpindah, Apis mellifera,
  4. Pengembangan dan budidaya lebah, Trigona, spp.,
  5. Hama penyakit lebah madu,
  6. Tanaman pakan lebah,
  7. Pemasaran produk budidaya.

 

Potensi perlebahan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Potensi hasil perlebahan

Apis dorsata Apis cerana Apis mellifera Trigona, spp.
Madu Madu Madu Madu
Lilin Lilin Lilin Polen
Anakan Lebah Anakan Lebah Anakan Lebah Propolis
Bee Bread Bee Bread Bee pollen
Propolis
Royal Jelly

 

Pengembangan tanaman pakan lebah madu perlu dilakukan karena ketersediaan tanaman lebah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha perlebahan. Kriteria tanaman sumber pakan yang perrlu dikembangkankan, diantaranya:

  1. Penghasil sumber nektar dan tepungsari,
  2. Mampu menyediakan sumber pakan sepanjang tahun,
  3. Jumlah tegakan cukup banyak.

Beberapa lokasi peternak lebah binaan BP2LHK Aek Nauli yang sudah ditinjau dan dimonitoring oleh tim Program dan Evaluasi BP2LHK Aek Nauli yaitu Kabupaten Karo, Bapak Antonius Sembiring yang sudah memiliki stup hampir 400 buah, yang dapat memanen madu 60 sampai 160 kg per bulan. Beberapa peternak di Kabupaten Tanah Karo memliki koloni lebah sebanyak 600 koloni. Selain itu di Kabupaten Dairi, Bapak Simanjuntak dapat menghasilkan madu rata-rata 50 kg per bulan.

 

Referensi

Hasanudin, A. 2017. Bahan ajar teknik budidaya lebah madu dalam pelatihan budidaya lebah di Pakpak Bharat bersama Conservation International Indonesia.

Pusat Perlebahan Apiaqri Pramuka. 2008. Lebah madu: Cara beternak dan pemanfaatan. Penebar Swadaya.

Anonymous. 2011. Keajaiban lebah madu. [www.keajaibanlebahmadu_Wongaran.htm].

Statistik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2014.

Bagikan ini di:

3490total visits,3visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *