Balitbang LHK Aek Nauli

Macadamia hildebrandii

Oleh: Pratiwi, S.Hut.

Macadamia adalah genus dari delapan spesies tumbuhan dari familia Proteaceae. Genus Makadamia memiliki 11 spesies, 3 spesies berasal dari Australia yaitu Macadamia integrifolia, M. tetraphylla dan M. ternifolia dan enam spesies berasal dari Kaledonia Baru yaitu M. neurophylla, M. francii, M. leptophylla, M. rouselli, M. viellardii, M. Angustitolia, serta dua spesies asal Indonesia yaitu M. hildebrandii dan M. erecta.

Macadamia hildebrandii merupakan jenis yang mempunyai sifat tahan api, dapat cepat tumbuh di daerah yang miskin hara serta mempunyai daya bertunas yang tinggi. Pohon jenis ini merupakan endemik Sulawesi yang tingginya bisa mencapai 33 m.

Merujuk penelitian Whitmore et al tahun 1989, tanaman ini tumbuh pada hutan primer sampai ketinggian 1.700 mdpl. Tinggi cabang 2-20 m, dbh 10-40 cm; kulit batang mengeluarkan exudat yang berubah menjadi merah apabila kena udara. Daun berbentuk bulat telur terbalik, atau elip, berkarang, bervariasi bentuk dan ukuran, ujung membulat atau tumpul, kadang-kadang terbelah, dasar membulat, daun berdaging, tulang daun 6-12 pasang.

Data Pitopang, dkk tahun 2011 menunjukkan bahwa bunga racemus M. hildebrandii muncul antara daun yang duduknya berkarang berjumlah 5-7 helai daun. Bunga dalam 2, berwarna putih atau pink, cream. Buah: 1-2 per racemes, tangkai buah 8 x 2-3 mm, pericarpium keras, 2 mm tebalnya, terdiri atas lapisan bagian dalam yang halus, bagian luar memiliki serat.

Makadamia jenis ini dalam bahasa daerah disebut juga kayu kates, tomaku, tinapu, lilabai, perande, maladewa, kayu balo malaba, kayu balomotea dan kanjole. Menurut  Asdar (2011), nama kayu kates diberikan karena corak kayu M. hildebrandii terlihat menyerupai corak batang pepaya (kates) apabila pohon dikupas atau dibuat papan tangensial.

Mhildebrandii memiliki serat kayu sedang sampai panjang dan mempunyai dinding yang tipis dengan lumen yang agak lebar. Serat akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik. Serat jenis ini diduga akan menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik yang cukup tinggi. Menurut Sinaga dan Silitonga tahun 1998, bagian kayu makadamia cukup baik dijadikan sebagai bahan baku pulp, ditinjau dari dimensi serat, berat jenis, dan komponen kimia kayunya. Data Asdar tahun 2011 menunjukkan bahwa kayu makadamia juga cocok sebagai bahan baku mebel, kayu lapis, dan konstruksi ringan.

Biji makadamia jenis ini mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai sumber pakan bagi ternak khususnya bagi unggas. Merujuk data Tandi tahun 1993, biji M. hildebrandii mengandung karbohidrat yang tinggi (BETN 81,46% dan pati 46,44%) serta serat kasar yang rendah yakni 0,46%. Kekurangan dari biji ini adalah mengandung tanin yang cukup tinggi berkisar antara 5,63-4,62 persen.

 

Referensi

Asdar, M. 2011. Anatomi kayu Macadamia hildebrandii van Slooten. Prosiding Seminar Nasional  Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV. Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia. Bogor.

Ginoga, B., D. Seran, M. Lempang, dan M.K. Allo. 1987. Pertumbuhan dan sifat kayu tomaku (Macadamia hildebrandii V.St.). Jurnal Penelitian Kehutanan Vol I, No. 1: 1-8. Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

Oey Djoen Seng. 1990. Berat jenis dari jenis-jenis kayu Indonesia dan pengertian bertanya kayu untuk keperluan praktek. Pengumuman No. 13. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Pitopang, R, dkk. 2011. Profil Herbarium Celebense Universitas Tadulako dan Deskripsi 100 Jenis Pohon Khas Sulawesi.

Silitonga, T. dan R. Sinaga. 1988. Percobaan pembuatan pulp sulfat dari kayu makadamia (Macadamia hildebrandii van Steen). Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5 No. 4 1998 pp. 192-195.

Sutriani. 2010. Pengaruh lama dan cara perebusan biji makadamia (Macadamia hildebrandii) terhadap kandungan tanin dan serat kasar. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *