Balitbang LHK Aek Nauli

Litbang Aek Nauli Kembangkan Klon Unggul Kemenyan Toba

Salah satu skema pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang memiliki sejarah yang panjang serta menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat Tapanuli adalah penyadapan getah Kemenyan. Secara historis komoditas ini telah dibudidayakan sejak lama dan menjadi komoditas perdagangan antar bangsa di Nusantara sejak abad VI. Akan tetapi, penurunan jumlah populasi akibat penebangan, konversi dan penurunan produktivitas mengakibatkan produksi getah kemenyan semakin menurun setiap tahunnya. Umur tanaman yang sudah tua, belum menggunakan bibit unggul serta masih mengandalkan regenerasi alami yang rendah merupakan beberapa penyebab rendahnya produktivitas tersebut.

Mempertimbangkan peran sumberdaya ini bagi pembangunan daerah, peningkatan produksi getah kemenyan merupakan suatu keniscayaan. Peningkatan produksi getah dapat dilakukan dengan skema pemuliaan. Salah satu strategi pemuliaan yang diterapkan untuk memperoleh sumber benih kemenyan adalah melalui pembangunan kebun benih.

Dipaparkan Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si peneliti pemuliaan pohon BP2LHK Aek Nauli, kegiatan dimulai dengan pemilihan calon pohon plus (pohon induk) yang diikuti pengumpulan material genetik baik secara generatif dan vegetatif dari pohon plus yang memiliki produktivitas getah tinggi tersebut. Pemilihan calon pohon induk/pohon plus bertujuan untuk mendapatkan keragaman genetik dalam tegakan, dijelaskan Cut Rizlani lebih lanjut.

Untuk mempersingkat waktu perolehan bibit unggul, Cut Rizlani dan tim penelitinya melakukan seleksi pohon plus dengan kriteria utama memiliki produktivitas getah minimal 1,5 kg/pohon/panen. Nilai ini lebih tinggi dari rata-rata produktivitas pohon kemenyan hanya  sekitar 0,5kg/pohon/panen. Berdasarkan eksplorasi pada sentra kemenyan rakyat di Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara, telah terkumpul sekurangnya 40 family pohon plus kemeyan toba (Styrax sumatrana). Selanjutnya dari pohon plus ini diambil material vegetatifnya untuk dilakukan upaya perbanyakan diantaranya stek pucuk dan grafting (sambung).

Material grafting menggunakan dua cara, yakni batang bawah (root stock) berasal dari kemenyan toba dan batang atas (scion) berasal dari pohon plus kemenyan toba, sedangkan cara kedua menggunakan root stock kemenyan durame (S. benzoin) dan scion kemenyan toba plus. Diharapakan cara yang kedua ini mampu menghasilkan kemenyan hybrid dengan karakter yang lebih baik. Sebagian dari material grafting akan dibangun menjadi kebun pangkas, papar Cut lebih lanjut.

Jumlah material kebun pangkas yang telah disiapkan dari material sambung berjumlah lebih dari 500 batang, sedangkan material dari cutting (stek) disiapkan minimal 10.000 bibit. Bibit hasil cutting inilah yang akan digunakan untuk membangun kebun benih klon dengan luas dua hektar di Arboretum Aek Nauli. Untuk mengetahui potensi genetik klon-klon kemenyan yang terbangun akan dilakukan analisa marka molekuler. Pendekatan bioteknologi akan dilakukan pada kemenyan bocor getah hasil seleksi untuk mengetahui besarnya keragaman genetik secara kuantitatif dan seberapa efektif seleksi yang telah dilakukan. Untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dalam mendapatkan sifat baru (produksi getah) sebagai sarana untuk perbaikan genetika maka akan dilakukan ujicoba aplikasi teknologi sinar Gamma. Karakter baru yang akan dihasilkan tersebut merupakan sifat baru yang tidak dijumpai pada gene pool.

Berkaitan dengan upaya pemuliaan kemenyan toba unggul ini, Kepala BP2LHK Aek Nauli, Pratiara, S.Hut, M.Si berharap pembangunan Kebun Pangkas dan Kebun Benih Klon kemenyan toba ini dapat menjadi sumber benih unggul bagi pengembangan hutan rakyat maupun kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di Danau Toba. Bibit unggul dan sumber benih yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung upaya-upaya peningkatan produktivitas sumberdaya hutan serta mengoptimalkan pelibatan masyarakat, papar Pratiara lebih lanjut. Sumber benih ini sangat diperlukan dalam kegiatan perencanaan rehabilitasi, serta penyusunan rekomendasi alternatif skema Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di DTA Danau Toba. Melalui pengembangan komoditas unggulan daerah ini, Kabalai juga menegaskan peran Balitbanghut sebagai “masinis” dari sebuah “lokomotif” gerbong di Kementerian LHK terutama dalam mendukung Prioritas Nasional Pembangunan Pedesaan dengan sasaran terfasilitasinya Forest Based Cluster Industry (FCI) di KPH dengan implementasi dan pengembangan IPTEK LHK  Unggulan Daerah.

***

Kontributor Naskah    : Cut Rizlani Kholibrina, Aswandi, dan Alharis Muslim
Dokumentasi              : Cut Rizlani Kholibrina dan Aswandi

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *