Balitbang LHK Aek Nauli

Lemo; Tanaman Obat Penghasil Minyak Atsiri

Oleh: Donna Christy Pandiangan, S.Hut.

Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia. Permenhut No. P.35/Menhut-II/2007 menyebutkan bahwa terdapat 20 jenis komoditi minyak atsiri nabati yang diurus oleh Departemen Kehutanan. Salah satu hasil hutan bukan kayu yang digolongkan sebagai tumbuhan penghasil minyak atsiri yang bernilai ekonomis tinggi adalah lemo (Litsea cubeba). Lemo dalam bahasa Sunda disebut kilemo, Jawa disebut krangean, Batak Toba disebut antarasa, dan apokayan (Kalimantan Timur). Selain berpotensi menjadi tanaman penghasil minyak atsiri, dalam permenhut tersebut disebutkan bahwa lemo termasuk kelompok tanaman obat yang menghasilkan ekstrak obat dari daun, buah, dan akar.

Lemo termasuk tanaman Lauracea berupa perdu/pohon kecil dengan tinggi 5-12 m dan diameter 6-20 cm yang tumbuh di ketinggian 700-2300 mdpl (Heyne, 1987). Lemo tersebar luas di Cina, Jepang, dan Taiwan. Di Indonesia lemo tumbuh liar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan (Quinessence Aroma-therapy Newsletter, 2006 dalam Ali, 2008). Di Sumatera Utara, lemo ditemukan di Kabupaten Simalungun dan tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) (Putri et al., 2014). Tegakan lemo juga ditemukan pada hutan rawa gambut seperti di Kawasan Ekosistem Lauser Aceh (Rahayu et al., 2011). Di Jawa Barat tanaman lemo diantaranya ditemukan di kawasan Gunung Tangkuban Perahu dan Kawah Putih Ciwidey (Kabupaten Bandung), Gunung Ciremai (Kabupaten Kuningan), Gunung Gede Pangrango (Kabupaten Cianjur) serta Gunung Papandayan (Kabupaten Garut) (Kurniaty, dkk., 2014).

Lemo merupakan penghasil minyak atsiri potensial dikarenakan semua bagian pohon yaitu buah, kayu, kulit kayu, dan akar dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku minyak atsiri yang memiliki aroma seperti tumbuhan jeruk. Minyak atsiri dari jenis ini banyak digunakan untuk keperluan industri, seperti bahan kosmetik (aroma terapi), sabun, minyak wangi, pembersih kulit, dan obat jerawat (Sylviani & Elvida, 2010). Bagian lemo yang paling banyak menghasilkan minyak atsiri adalah bagian daun dan kulit lemo. Lemo merupakan sumber sitral (HCO2NH4 – digunakan dalam parfum dan sebagai perantara untuk membentuk senyawa lain) yang berkualitas dimana daun dan kulit batang lemo menghasilkan minyak atsiri yang bermutu baik. Penyulingan kulit segar kering angin sebanyak 2 kg menghasilkan 25 cc minyak atsiri, dengan kandungan sitral 75%. Sedangkan penyulingan 100 gr buah lemo menghasilkan 3,9 cc minyak atsiri dengan kandungan sitral 64 % (Zulnely, 2003).

Kulit lemo umumnya digunakan sebagai bahan pembuat parem, obat penurun panas, obat sakit perut, tonikum (dipakai untuk memulihkan atau menambah tenaga/kekuatan bagi orang yang kondisi badannya lemah, kurang darah, dan sebagainya) serta obat penawar racun. Daun lemo digunakan sebagai obat demam, sakit perut, dan penawar racun. Buah muda sebagai bahan sambal, bumbu bandrek, bahan jamu untuk vertigo dan lemas otot. Kayu dari tumbuhan multiguna ini dapat digunakan sebagai bahan kerajinan dan konstruksi bangunan. Heryati (2009) menyebutkan bahwa kayu lemo termasuk dalam kelas awet V, kelas kuat IV serta berat jenis 0,33-0,40. Akar dan cabang lemo adalah alat untuk mengusir binatang berbisa, obat sakit pencernaan, sakit kepala, sakit otot, sakit saat menstruasi, dan obat mabuk perjalanan.

Lemo juga disebut sebagai kelompok tanaman obat karena memiliki kandungan kimia seperti: zat antiparalitic (untuk mengobati lemas otot), anti chepalagic (anti sakit kepala), splasmolitic (anti kejang), diuretic (pelancar urin), dan karsinostatic (zat anti kanker). Melihat banyaknya kandungan kimia tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan lemo dalam industri farmasi (Heryati, 2009).

Masyarakat Sumatera Utara tidak banyak mengetahui manfaat dari lemo (Ali, 2008). Masyarakat Sumatera Utara hanya menggunakan buah lemo sebagai bahan pelengkap makanan. Masyarakat Batak Toba (salah satu suku di Sumatera Utara) memanfaatkannya sebagai obat rematik, pegal-pegal, demam, dan untuk rempah (Rahmawati, 2004). Penelitian Sylviani & Elvida (2010) menyebutkan bahwa kulit lemo digunakan sebagai aroma/pengharum jamu tradisional di Jawa Barat. Heyne (1987) menyebutkan bahwa kulit lemo di Jawa Tengah dijual sebagai salah satu bahan membuat parem.

Pengelolaan minyak lemo di Indonesia masih dilakukan pada skala laboratorium dan lembaga-lembaga riset. Dalam dunia perdagangan lemo oil merupakan salah satu komoditas minyak atsiri yang diperdagangan di dunia. FAO (1995) dalam Ali (2008) menyebutkan bahwa kebutuhan akan minyak lemo setiap tahunnya diperkirakan 500 ton/tahun. Nagpal dan Karki (2004) menyebutkan bahwa minyak lemo termasuk 10 besar dalam perdagangan dunia minyak esensial. Penghasil utama minyak ini adalah Republik Rakyat Cina.

Keberadaan lemo semakin langka saat ini terutama karena penebangan pohon untuk tujuan penyulingan dan pembuatan arang oleh penduduk (Kayang et al., 2009) dan belum adanya upaya budidaya (Rahmawati, 2004). Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli sebagai unit pelaksana teknis daerah Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut serta dalam pelestarian vegetasi dataran tinggi seperti lemo. Kebun Percobaan Sipiso-piso yang dikelola BP2LHK Aek Nauli memiliki kebun benih lemo seluas 1 ha yang telah ditanam tahun 2009. Penelitian Putri et al. (2011) menyebutkan bahwa produksi buah lemo asal Aek Nauli dari pohon berdiameter 8 cm sekitar 2,1 kg/pohon; pohon berdiameter 4-14,7 cm berkisar 0,12- 2,4 kg; dan dari pohon berdiameter 14,8-25,3 cm berkisar 0,25-9,8 kg.

Prospek budidaya lemo di Indonesia sangat menjanjikan dilihat dari kebutuhan akan minyak lemo. Potensi lemo ini dapat dijadikan dasar dalam pengembangan budidaya lemo dan pemanfaatan tumbuhan lemo dimasa yang akan datang. Budidaya tanaman lemo merupakan  salah satu upaya dalam rangka mendukung pengembangan usaha pengolahan tanaman lemo menjadi minyak atsiri maupun tanaman obat. Selain untuk pemenuhan bahan baku industri minyak atsiri, upaya budidaya lemo dilakukan untuk mendukung kelestarian biodiversitas jenis vegetasi dataran tinggi yang sudah mulai terancam keberadaannya.

 

Referensi:

Ali, C. dan W. S. Manik. 2008. Prospek Pengembangan Penanaman Litsea cubeba Pers. di Sumatera Utara. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian: “Peran Penelitian dalam Pelestarian dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan di Sumbagut”. Medan, 3 Desember 2008. Medan (Id): Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.

Heryati, Y. 2009. Prospek Pengembangan Lemo (Litsea cubeba L. Persoon) di Indonesia. Jurnal Tekno Hutan Tanaman Vol. 2(1): 9-17, April 2009.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta.

Kayang, H., B. Kharbuli, and D. Syeim. 2009. Litsea cubeba Pers.-An untapped economic plants pecies of Meghalaya. Natural Product Radiance. A Bimontly Journal on Natural Product, 8 (1): 1-2.

Kurniaty, dkk. 2014. Kilemo. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Publikasi Khusus ISBN: 978-979-3539-32-4.

Nagpal, A. dan M. Karki. 2004. A Study on Marketing Opportunities for Medicinal, Aromatic, and Dye Plants in South Asia. MAPPA, ICIMOD, Kathmandu, Nepal.p: 35.

Permenhut No. P.35/Menhut-II/2007 Tentang Hasil Hutan Bukan Kayu.

Putri, Kp., N. Siregar, M. Sanusi, Abay. 2011. Kuantifikasi Produksi Buah Tanaman Hutan Jenis Ganitri (Elaecarpus ganitrusi) dan Kilemo (Litsea cubeba). [Laporan Hasil Penelitian]. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. Badan Litbang Kehutanan, Bogor.

Putri, Kp. dan Danu. 2014. Uji Stek Kilemo (Litsea cubeba) pada Berbagai Media Perakaran dan Zat Pengatur Tumbuh. Indonesian for Rehab J 2 (2): 89-97.

Rahayu, S., R. Oktaviani, HL. Tata, and M. van Noordwijk. 2010. Carbon Stock and Tree Diversity in Tripa Peat Swamp Forest. Proceedings, The 2nd International Symposium of Indonesian Wood Research Society. Indonesian Wood Research Society.p.545-551.

Rahmawati, D. 2004. Mempelajari Aktifitas Antioksidan dan Anti Mikrobia Ekstrak Antarasa (Litsea cubeba) dan Aplikasinya sebagai Pengawet Alami pada Bahan Makanan. Skripsi. Fak. Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.

Sylviani & Elvida. 2010. Kajian Potensi, Tata Niaga dan Kelayakan Usaha Budi Daya Tumbuhan Litsea. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Bogor, Jawa Barat.

Zulnely. 2003. Sifat Fisika Kimia Minyak Kilemo (Litsea cubeba) Asal Kuningan, Jawa Barat. (Physico-Chemical Properties of Essential Oil of Litsea Cubeba (Kilemo) Originated From Kuningan, West Java. Jurnal Penelitian Hasil Hutan.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *