Balitbang LHK Aek Nauli

Kunjungan Balitbang Madina

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengunjungi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli (15/03/2017). Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka menjalin kerjasama baik di bidang penelitian maupun pengembangan. Kedatangan Kepala Balitbang Madina, Hadi Ashari Nasution beserta rombongan disambut hangat oleh Kepala Balai, Pratiara, S. Hut., M. Si.

Balitbang Kabupaten Madina baru terbentuk pada bulan Januari 2017. Melihat potensi litbang yang terdapat di Kabupaten Madina (yang merupakan salah satu kabupaten terluas di Provinsi Sumatera Utara dengan bentang pantai sekitar 120 km) maka dibentuklah Balitbang Madina. Kepala Balitbang Madina yang memasuki masa tugas dua bulan tersebut sangat bersemangat dalam mengemban tugasnya. “Kunci suksesnya balitbang ini adalah di kami (red: para staf Balitbang Madina),” ujar Nasution yang dilantik oleh Bupati Madina pada 30 Januari 2017. Tugas yang diamanahkan kepada Nasution merupakan tantangan bagi beliau untuk mengembangkan daerah Madina. Nasution menjelaskan disebut sebagai balitbang maka harus dapat menguasai berbagai disiplin ilmu. “Kami membutuhkan lembaga-lembaga yang benar-benar  dapat memberikan inovasi dalam mensejahterahkan masyarakat madina,” tambah Nasution.

Dalam sambutannya Pratiara memaparkan tentang produk unggulan BP2LHK Aek Nauli yaitu lebah madu. Lebah Apis dan Trigona  dibudidayakan untuk menghasilkan madu dan propolis. Pratiara menawarkan model sistem agroforestri yang terintegrasi dengan budidaya lebah yaitu IAAS (Integrated Agroforestry Apiculture System). IAAS digambarkan sebagai praktek sistem agroforestri yang diintegrasikan dengan budidaya lebah madu Apis dan Trigona untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Dr. Aswandi, peneliti muda BP2LHK Aek Nauli menambahkan bahwa pemeliharaan lebah Apis dan Trigona relatif mudah dan sudah dapat dipanen setelah 3 bulan setiap dua minggu. Hal ini cukup menarik karena dapat menambah pendapatan msyarakat. Pratiara menyarankan untuk fokus menentukan satu desa yang memiliki potensi pakan bagi lebah. Sehingga nantinya akan diperoleh produk Balitbang Madina yang nantinya dapat dikembangkan di daerah-daerah lain.

Mengingat banyaknya produk-produk di Madina yang belum terekspos (kapur, lebah, kopi, dan lain-lain), Pratiara sangat tertarik untuk melaksanakan kerjasama. Walaupun Balitbang Madina belum memiliki fungsional peneliti untuk menunjang kinerja litbang, Pratiara menawarkan untuk berdiskusi dengan peneliti-peneliti Aek Nauli sesuai dengan kepakarannya masing-masing. “Teknologi yang ada dibalai akan disalurkan sehingga kinerja balai dapat dirasakan oleh masyarakat,” jelas Pratiara.

Sahreni, S. Pt. selaku Kabid Inovasi dan Teknologi Balitbang Madina, mengharapkan inovasi mengenai pengelolaan sampah organik sehingga kedepannya Kabupaten Madina dapat memperoleh penghargaan adipura. Sahreni juga mengharapkan program-program litbang Aek Nauli terhadap masyarakat yang nantinya dapat diusulkan pada program kerja Balitbang Madina. Pratiara menyambut baik usulan tersebut dan berharap dituangkan dalam bentuk kerjasama. Dalam kesempatan yang sama, Pratiara juga menginformasikan bahwa Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor sebagai Pusat Litbang pembina BP2LHK Aek Nauli memiliki teknologi dan alat pembuatan arang kompos, jika pemilik teknologinya mengizinkan, ini juga merupakan salah satu teknologi yang dapat diaplikasikan di Kabupaten Madina nantinya.

Menutup pertemuan tersebut Kepala BP2LHK Aek Nauli berterimakasih kepada Kepala Balitbang Madina beserta rombongan dan berharap segera pertemuan ini dapat ditindaklanjuti dengan menyiapkan dokumen-dokumen kerja sama. Semoga kedepannya kegiatan litbang dan inovasi tepat guna dan bermanfaat bagi masyarakat.

***

Kontributor Foto: Hery Susanto

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *