Balitbang LHK Aek Nauli

Konsultasi Publik Rencana Aksi Pengelolaan Eko-eduwisata di KHDTK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Oktober 2019)_Menindaklanjuti hasil kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Skenario dan Rencana Aksi Pengembangan Eko-eduwisata di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang telah dilaksanakan di Parapat pada bulan April lalu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebjakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) bersama Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehitanan (BP2LHK) Aek Nauli melaksanakan kegiatan Konsultasi Publik Rencana Aksi Pengelolaan Eko-eduwisata, Kamis (17/10/2019). Konsultasi publik yang dilaksanakan di Aula Gedung Perpustakaan Lantai 2 Balai BP2LHK Aek Nauli tersebut dihadiri oleh peserta yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder).

Kegiatan konsultasi publik ini dibuka oleh Kepala BP2LHK Aek Nauli, Pratiara, S.Hut, M.Si. Dalam sambutannya, Pratiara menyampaikan berbagai potensi yang terdapat di litbang Aek Nauli. Selain itu Pratiara juga berharap dengan adanya kegiatan ini kolaborasi stakeholder akan semakin baik.

“KHDTK Aek Nauli memiliki banyak potensi, ada beberapa yang telah dipungut biaya diantaranya adalah wisata ilmiah panen madu, panen getah kemenyan, tracking, home stay, ahli teknologi arang kompos dan asap cair, dan lainnya,” papar Pratiara.

Dalam konsultasi publik ini yang dibahas adalah tentang hasil FGD yang sebelumnya yang telah dilaksanakan menggunakan metode Analisa Prospektif Partisipatif (Participatory Prospective Analysis / PPA) dan menghasilkan 3 skenario pengelolaan kolaboratif Eko-eduwisata di KHDTK Aek Nauli. Pertama, Skenario optimis (KHDTK Aek Nauli: Destinasi wisata ilmiah pengungkit restorasi wisata Danau Toba); Kedua, Skenario moderat (Sebuah asa untuk Eko-eduwisata KHDTK Aek Nauli) dan; Ketiga, Skenario Pesimis (Wisata yang terlupakan di kawasan Danau Toba).

Skenario pengelolaan optimis merupakan pilihan terbaik bagi pengembangan eko-eduwisata di KHDTK Aek Nauli yang telah dibangun oleh berbagai para pemangku kepentingan, diantaranya yaitu Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Sumatera Utara, Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL), P3SEKPI, BP2LHK Aek Nauli, Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BODT), Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Simalungun, Bapedda Kabupaten Simalungun, KPHP Unit XII Simalungun, Perhimpuna Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Samosir, PHRI Kabupaten Simalungun, Kepala Desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pondok Buluh, Kepala Desa dan Pokdarwis Desa Sibaganding, Organisasi Pramuka SMA Perguruan Taman Siswa, dan Organisasi mahasiswa Universitas Simalungun.

Dari skenario pengelolaan yang telah dibuat, telah disusun rencana aksi yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan pengelolaan dalam skenario optimis pada pengelolaan eko-eduwisata di KHDTK Aek Nauli. Rencana aksi tersebut terdiri dari 5 variabel, yaitu jumlah pengunjung, manajemen pengelolaan KHDTK, status KHDTK, atraksi wisata, dan partisipasi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. Subarudi, M. Wood.Sc sebagai ketua tim peneliti P3SEKPI pada kegiatan penelitian ini saat pemaparan hasil progres kegiatan. Subarudi mengharapkan rencana aksi kegiatan untuk mewujudkan skenario yang diharapkan.

“Konsultasi publik adalah tahapan akhir untuk memastikan rencana aksi dan implementasi,” tutur Subarudi.

Beberapa masukan serta saran sebagai catatan oleh P3SEKPI dan BP2LHK Aek Nauli disampaikan oleh pemangku kepentingan pada sesi diskusi. Salah satunya Tumpak Siregar, dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara menyampaikan saran apabila jumlah pengunjung meningkat, BP2LHK sebagai pemangku kawasan harus siap dengan sumber daya manusianya. Selain itu, pembuatan zonasi pada KHDTK diperlukan agar kawasan hutan tetap lestari.

Sementara, Ristiyanto dari BODT memberi masukan terkait sarana dan prasarana seperti kondisi jalan untuk akses ke lokasi wisata dan papan informasi yang menarik. Disisi lain, Junaidi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara siap mendukung pengembangan wisata di KHDTK Aek Nauli dalam bentuk promosi seperti menyebarkan brosur, sadar wisata, maupun postingan di media sosial.

Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan mengingat luasnya lingkup pekerjaan untuk mengembangkan model eko-eduwisata dan masih terbatasnya sumberdaya yang dimiliki BP2LHK Aek Nauli sebagai pemangku KHDTK Aek Nauli. Model kolaborasi yang dihasilkan dalam bentuk policy brief ini bertujuan untuk mengembangkan rancang bangun skenario kolaborasi dan rencana aksi pengelolaan KHDTK dengan melibatkan stakeholder terkait yang dapat didayuganakan untuk meningkatkan pengelolaan eko-eduwisata di KHDTK Aek Nauli.***NNN

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *