Balitbang LHK Aek Nauli

Kebutuhan Rumput Gajah untuk Pakan Gajah di Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, September 2019)_Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan jenis rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan kandungan nutrisi yang cukup tinggi yang sangat disukai ternak termasuk gajah. Selain sebagai pakan gajah, rumput gajah juga dapat dimanfaatkan untuk bahan produksi fiber, memperbaiki kondisi tanah yang rusak karena erosi dan sebagai penahan erosi tanah.

Rumput gajah disebut juga Elephant grass, Naper grass atau Uganda grass yang berasal dari Afrika. Tanaman ini diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1962 dan tumbuh alami di seluruh dataran Asia Tenggara. Rumput gajah termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh hingga ketinggian 2.000 m dpl di daerah dengan kondisi tanah minim nutrisi. Tanaman ini dapat memperbaiki kondisi tanah yang rusak akibat erosi. Tanaman ini juga dapat hidup pada tanah kritis dimana tanaman lain relatif tidak dapat tumbuh dengan baik. Ketahanan rumput gajah dari cuaca panas adalah kelebihan yang jarang didapat dari tanaman sejenis.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan gajah yang ada di KHDTK Aek Nauli, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli telah membangun demplot rumput gajah seluas 4 ha. Tujuan pembangunan demplot ini adalah agar ketersediaan pakan gajah dapat terpenuhi. Penelitian produktivitas rumput gajah dilakukan melalui pembuatan petak contoh berukuran 1 m x 1 m dengan jarak tanam yang bervariasi.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan oleh Peneliti BP2LHK Aek Nauli, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut, MP, didapatkan bahwa biomassa rumput gajah yang tertinggi ditemukan pada jarak tanam 30 cm x 50 cm dan yang terendah pada jarak tanam 60 cm x 100 cm. Secara keseluruhan, rata-rata biomassa rumput gajah yang terdapat di KHDTK Aek Nauli adalah sebesar 20.030,44 kg/ha Berat Basah (BB) dan 1.664,59 kg/ha Berat Kering (BK).

“Hasil analisa data menggambarkan bahwa nilai biomassa rumput gajah cukup besar sehingga sangat memungkinkan untuk digunakan sebagai pakan utama gajah di KHDTK Aek Nauli,” kata Sri.

Selanjutnya Sri menyampaikan bahwa konversi produktivitas hijauan rumput dalam satu tahun adalah sebesar 121.541,93 kg/ha/tahun (BB) atau setara dengan 7.631,28 kg/ha/tahun (BK). Hasil pengamatan ini apabila dibandingkan dengan produktivitas hijauan pada beberapa tempat di wilayah Indonesia menunjukkan bahwa produktivitas hijauan rumput di KHDTK Aek Nauli lebih tinggi.

Sri juga menyampaikan bahwa kebutuhan pakan empat ekor gajah di KHDTK Aek Nauli minimal diperlukan pakan sebesar 800 kg/hari/ekor. Untuk memenuhi kebutuhan pakan gajah maka pengelolaan pakan gajah di KHDTK Aek Nauli harus terus dikembangkan baik pakan utama dari area pemeliharaan maupun suplai tambahan pakan dari luar. Selain itu pembersihan rumput pesaing, penyulaman dan penanaman kembali pada demplot yang produktivitasnya sangat rendah, serta pemupukan juga penting dilakukan.

Keberadaan demplot rumput gajah sampai saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan pakan gajah. Untuk itu, rumput gajah hanya diberikan kepada gajah pada pagi hari dan sore hari dengan berat antara 50-60 kg per gajah setiap hari.

“Untuk mengatasi kekurangan kebutuhan pakan gajah tersebut, dilakukan pemberian pakan tambahan berupa buah-buahan dan pelepah sawit pada sore dan malam hari. Kedepannya areal penanaman rumput gajah akan terus ditambah sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan gajah di KHDTK Aek Nauli,” pungkas Sri.***SPB

Bagikan ini di:

2671total visits,13visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *