Balitbang LHK Aek Nauli

Kearifan Lokal Penduduk Pulau Pejantan

Pulau Pejantan yang merupakan pulau terluar Kepulauan Riau memiliki banyak kearifan lokal yang sangat menarik. Kearifan lokal penduduk pulau merupakan kebudayaan lokal yang tercipta dari hasil adaptasi yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal digunakan penduduk untuk bertahan hidup dengan sistem kepercayaan, norma, budaya, dan diekspresikan di dalam tradisi dan mistis yang dianut dalam jangka waktu yang lama.

Luas kampung dan kebun penduduk pulau sekitar 3 ha. Jenis tanaman yang dikembangkan penduduk Pejantan adalah tanaman kelapa. Hal yang unik di pulau tersebut adalah penanaman kelapa juga dijadikan sebagai penanda kepemilikan tanah. Apabila penduduk ingin membuka lahan baru maka mereka tidak akan membuka dilahan yang telah ada tanaman kelapanya. Ukuran lahan menggunakan gawang,  satu gawang 8 meter, digunakan untuk menanam pohon kelapa. Informasi ini  diperoleh dari keterangan Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc., peneliti utama Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, yang merupakan salah satu peneliti yang turut serta dalam tim ekspedisi ke Pulau Pejantan.

Penduduk Pejantan mayoritas nelayan, bahkan beberapa dari mereka ada yang berlayar selama 2-3 bulan di laut. Penduduk Pejantan belanja kebutuhan sehari-hari ke Pulau Mentebung, Pulau Tambelan, Pontianak, dan Pulau Pengikik. Hal unik lainnya dari kearifan penduduk Pejantan adalah membudidayakan penyu. Mereka membudidayakan Penyu Sisik dan Penyu Tempayan secara swadaya sendiri untuk diambil telurnya. Mereka percaya bahwa penyu-penyu setelah menetas akan kembali ke pulau.

Penduduk Pejantan juga sudah mengenal pendidikan walaupun pendidikan yang ditempuh hanya sampai tingkat sekolah dasar (SD). Sekolah Dasar Kelas Jauh 006 Pulau Pinang adalah nama sekolah dasar di Pejantan. Tapi jangan berpikir sekolah kelas jauh di Pejantan ini seperti sekolah pada umumnya. Sekolah tersebut dapat dikatakan seadanya. Bangunan sekolah merupakan rumah panggung berdinding dan lantai papan, tidak ada meja dan kursi. Murid yang hanya berjumlah 10 orang di SD itu menggunakan lantai bangunan sebagai alas untuk menulis. Dalam proses belajar mengajar, guru dan semua murid, mulai dari kelas 1 hingga kelas 3 bersama-sama duduk di lantai kelas. Kegiatan belajar mengajar hanya dilakukan 1-2 minggu karena guru yang didatangkan harus kembali lagi ke Kecamatan Tambelan. Proses belajar mengajar kemudian dilanjutkan setelah 3-4 bulan berikutnya tergantung dari kondisi ombak laut. Walaupun dengan kondisi yang seperti ini, murid-murid Pejantan tetap semangat untuk bersekolah untuk mendapatkan ilmu.

Hal yang menarik lainnya adalah ditemukannya peninggalan rel kereta api, bekas galian tambang dan bekas instalasi yang diduga peninggalan orang Belanda. Pada waktu itu diduga orang Belanda akan mengeksplorasi sumberdaya alam di Pulau Pejantan (saat penjajahan di Indonesia). Eksploitasi diduga sudah terjadi namun tidak berlanjut karena dimungkinkan Belanda sudah kalah perang dan Indonesia dijajah Jepang. Kejadian ini diduga sekitar tahun 1912 (sumber keterangan masyarakat). Bekas rel kereta api dan sisa bangunan lainnya pada waktu pengamatan yang dilakuan oleh tim sudah tidah ditemukan lagi karena bekas rel banyak diambil masyarakat dan dijual.  Sisa instalasi masih ditemukan di dekat Pantai Utara (info masyarakat). Tim tidak bisa mengunjungi lokasi tersebut karena terkendala cuaca (musim angin utara) dengan ketinggian ombak 3-4 meter. Menurut masyarakat Pulau Pejantan diduga mengandung bahan tambang yang bernilai ekonomi tinggi sehingga seringkali masyarakat luar negeri sering berkunjung untuk mencari bahan tambang tersebut.

Seperti yang diketahui, pada akhir bulan januari 2017 tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan ekspedisi ke Pulau Pejantan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati yang terdapat di pulau tersebut. Tim yang berangkat ke Pulau Pejantan yaitu Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si (Peneliti P3H), Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc (Peneliti BP2LHK Aek Nauli), Ir. Adi Susilo, M.Sc (Peneliti P3H), Tri Atmoko, S.Hut, M.Si (Peneliti Balitek KSDA), Sugito, S.Hut, M.Sc (PEH BBKSDA Riau), dan Deddy Saputra Hasnur (Polhut BBKSDA Riau).

***

Narasumber: Wanda Kuswanda

Kontributor Foto: Wanda Kuswanda

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *