Judul RPPI : KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Koordinator RPPI : Dr. Ir. R. Garsetiasih, MP.
Judul RPTP : KARAKTERISTIK EKOLOGI DAN SOSIAL SEKITAR HABITAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH.
Judul ROP : KESESUAIAN HABITAT DAN RESOLUSI KONFLIK ORANGUTAN DI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH

Pelaksana Kegiatan:

Wanda Kuswanda, S.Hut  M.Sc, Ahmad D.  Sunandar, S.Hut M.Si, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Maskulino, S.Sos, Defri Yoza, S.Hut M.Si

Abstrak

Permasalahan utama terkait dengan pelaksanan program reintroduksi orangutan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) adalah keterbatasan informasi tentang kesesuaian habitat  dan penanganan potensi konflik karena orangutan merupakan ’pendatang’ di hutan TNBT. Tujuan penelitian pada tahun 2016 adalah  mendapatkan informasi produktivitas tumbuhan pakan (daun dan buah) orangutan, konflik pemanfaatan lahan dengan orangutan, persepsi dan peranan kelembagaan terkait, menganalisis tingkat kesesuaian habitat dan strategi pengelolaan untuk mendukung keberhasilan program pelepasliaran orangutan. Metode pengumpulan data dilakukan pengamatan produktivitas pakan menggunakan metode penuaian terhadap guguran serasah, wawancara terstruktur, penyebaran kuisioner dan Focus Discussion Group (FGD).  Analisis data menggunakan analisis descriptive statistic, persamaan produktivitas pakan satwa, analisis regresi berganda, tabel frekuensi, analisis kesesuaian habitat (Tirpak et al. 2010) dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata nilai produktivitas pakan daun sebesar 9,87 kg/ha/hari (BB) atau 5,07 kg/ha/hari (BK) dan rata-rata produktivitas pakan buah, dari hutan primer dan sekunder, adalah sebesar 33,898  kg/ha per hari (BB) atau 7,647 kg/ha per hari (BK). Konflik pemanfaatan lahan antara masyarakat dengan Balai TNBT akibat adanya perambahan, terutama untuk perkebunan sawit, seperti di Sungai Akar seluas 150 ha. Penyebab konflik masyarakat dengan orangutan adalah orangutan dianggap ‘pendatang’,  orangutan keluar dari hutan dan merusak tanaman dan  ketergantungan masyarakat yang masih tinggi akan lahan. Persepsi para pihak terhadap manfaat TNBT dan program pelepasliaran cukup tinggi. Begitu juga peranan kelembagaan sudah banyak terlibat untuk mendukung program pelepasliaran, seperti reboisasi, pengamanan kawasan dan patroli pengalokasian anggaran dan membantu penyuluhan dan pendampingan pada masyarakat. Hasil nilai HSI sebesar 56,3% menunjukan kawasan TNBT termasuk kurang sesuai untuk lokasi pelepasliaran orangutan.  Resolusi  konflik dan peningkatan keberhasilan program pelepasliaran orangutan akan berhasil apabila melibatkan berbagai kelembagaan terkait.

Judul RPPI : KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Koordinator RPPI : Dr. Ir. R. Garsetiasih, MP.
Judul RPTP : POTENSI SATWA, PENGGUNAAN DAN KONFLIK LAHAN PADA DAS BESITANG DI SUMATERA UTARA: TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER.
Judul ROP : POTENSI PAKAN SATWA DAN KONFLIK LAHAN SEKITAR TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, LINGKUP DAS BESITANG, SUMATERA UTARA

Pelaksana Kegiatan:

Asep Sukmana, S.P, M.Sc, Wanda Kuswanda, S.Hut  M.Sc, Ahmad D. Sunandar, S.Hut M.Si, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Pindi Patana, S.Hut M.Sc

Abstrak

Perlindungan dan penanggulangan konflik satwa, khususnya gajah telah menjadi prioritas nasional dalam upaya peningkatan konservasi satwa langka dan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui ekowisata, seperti di TN. Gunung Leuser. Penelitian pada tahun 2016 adalah mendapatkan informasi produktivitas tumbuhan pakan gajah, area yang berpotensi sebagai koridor, lintasan gajah dan wilayah konflik penggunaan lahan antara gajah dengan manusia serta resolusinya di sekitar TN. Gunung Leuser, bagian hulu DAS Besitang. Metode penelitian produktivitas tumbuhan pakan pada area terbuka melalui pembuatan plot pengamatan berukuran 1m x 1m sebanyak 12 plot dan pada area hutan melalui pengukuran perubahan berat pertumbuhan pada 21 pohon. Pengamatan lintasan dan area potensi koridor dilakukan ground check dan metode deskriptif.  Peranan kelembagaan dan konflik lahan dilakukan melalui wawancara, penyebaran kuisioner dan Focus Discussion Group (FGD).  Analisis data menggunakan persamaan produktivitas,  indeks keragaman Shannon and Weaver, analisis descriptive statistic, analisis regresi berganda, tabel frekuensi dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan produktivitas rumput dan tumbuhan bawah ada area terbuka  saat dominan hari hujan hampir 2 kali dibanding dominan hari kemarau. Produktivitas tumbuhan pakan gajah pada kawasan hutan untuk tingkat semai dan pancang adalah 31,082 kg/ha/hari (BB) atau 10,741 kg/ha/hari (BK). Area  yang berpotensi sebagai area koridor adalah kawasan yang sudah ditanami jeruk oleh masyarakat sehingga gajah tidak melewati lagi kawasan tersebut, seperti di Desa Bukit Mas. Jalur lintasan gajah yang berada di wilayah perbatasan TNGL, DAS Besitang saling berpotongan sehingga rawan konflik karena banyak memasuki lahan perkebunan dan ladang masyarakat. Wilayah yang pernah ditemukan kasus konflik gajah dalam tiga tahun terakhir diantaranya di Daerah Halaban, Daerah Aras Napal, Daerah Sekundur. Persepsi masyarakat dan kelembagaan terkait akan manfaat TNBT dan turut serta dalam penanganan konflik gajah sangat tinggi agar tidak merugikan masyarakat dan gajah tetap lestari. Resolusi konflik gajah dapat dilakukan melalui perbaikan habitat, pengamanan, penanaman jenis yang tidak disukai gajah, mereduksi sitem pertanian dan penyuluhan padamasyarakat dan petugas kelembagaan terkait.

Judul RPPI : PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN (KAYU DAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU)
Koordinator RPPI : DR. Ir. Darwo, M.Si.
Judul RPTP : PENGEMBANGAN KEMENYAN DI SUMATERA UTARA : ANALISIS SOSIAL EKONOMI, EKOLOGI DAN SILVIKULTUR
Judul ROP : PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEMENYAN UNGGUL UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Pelaksana Kegiatan:

Rospita Odorlina Pilianna Situmorang, STP. M.Eng, Cica Ali, S.Si. MT, Johansen Silalahi, S.Hut, M. Salman Zuhri, Dodo A. Suhada, Wendra S. Manik, S.Hut, Firman

Abstrak

Pengelolaan kemenyan di Sumatera Utara, khususnya di sentra penanaman kemenyan di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan sudah dilakukan sejak dahulu kala, namun produktivitas kemenyan belum optimal karena petani belum menggunakan bibit unggul dan kelembagaan kemenyan belum ditata dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan bibit unggul kemenyan, penemuan pola tanam kemenyan dengan pelibatan dan pemberdayaan masyarakat serta melakukan penataan kelembagaan pengelolaan kemenyan untuk meningkatkan minat petani menanam kemenyan. Penelitian dilakukan di beberapa desa yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) desa yang memiliki kelompok tani kemeyan dan peraturan desa/hukum adat diterapkan hingga saaat ini, dinilai efektif dalam mengatasi permasalahan-permasalahan pengusahaan kemenyan khususnya dalam mengatasi pencurian kemenyan, konflik di dalam kawasan desa, mendata potensi kemenyan, dan perannya dalam pembagunan desa; (2) Upaya pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan peningkatan produktivitas kemenyan unggul dilakukan melalui pelibatan masyarakat pada pengumpulan data aspek kelembagan, penentuan calon pohon induk, pembangunan persemaian bibit unggul, penunjukan lokasi plot, dan pembangunan dan pemeliharaan kebun pangkasan dan plot ujicoba pola tanam kemenyan; (3) Terdapat dua puluh lima (25) calon pohon induk telah diidentifikasi di Desa Aek Nauli dan Desa Aek Nauli I, Kec. Pollung, Kab. Humbahas.  Dari 25 calon pohon induk tersebut belum dapat ditetapkan pohon induk terpilih karena mundurnya jadwal masa panen getah kemenyan pada tahun 2016; (4) Kebun pangkasan kemenyan seluas 100 m2 telah dibangun di areal arboretum BP2LHK.  Terbatasnya material genetik yang diperoleh mengakibatkan bibit yang ditanam di kebun pangkasan hanya berasal dari satu pohon induk yaitu pohon induk no 3; (5) Demplot ujicoba pola tanam kemenyan secara monokultur dan campuran dengan kopi dan kakao telah terbangun seluas 1,2 ha di Desa Simardangiang, Kec. Pahae Julu, Kab. Tapanuli Utara dengan perlakuan pola tanam dan pemupukan  (0 kg; 0,5 kg/ lubang tanam; 1 kg/lubang tanam; dan 1,5 kg/lubang tanam); (6) Terdapat keterkaitan antara aspek sosial, ekonomi, dan silvikultur dalam mengatasi pemasalahan pengelolaan kemenyan yang tidak berkembang hingga saat ini. Peningkatan ketertarikan petani untuk mengembangkan budidaya kemenyan perlu didukung dengan penguatan kelembagaan, adanya lembaga pasar yang bersifat sosialis (koperasi) untuk mengatasi permasalahan fluktuasi harga yang tinggi, adanyanya bibit unggul, SOP budidaya kemenyan, dan adanya pola tanam kemenyan yang menarik dari sisi ekonomi.

Koordinator RPPI : DR. Ir. Darwo, M.Si.
Judul RPTP : PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HASIL HUTAN BUKAN KAYU JENIS JERNANG (Daemonorops spp), KAPUR (Dryobalanops aromatica) DAN CENDANA ACEH (Santalum album) MELALUI PENGEMBANGAN BIBIT UNGGUL DAN TEKNIK SILVIKULTUR
Judul ROP : PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HASIL HUTAN BUKAN KAYU JERNANG (Daemonorops spp) DAN KAPUR (Dryobalanops aromatica) MELALUI PENGEMBANGAN BIBIT UNGGUL

Pelaksana Kegiatan:

Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut. M.Si, DR. Aswandi, Nuryana, Edi Kuwato

Abstrak

Pelaksanaan penelitian tahun kedua (2016) berusaha untuk mendapatkan karakteristik pohon kapur, menduga faktor-faktor penduga produktivitas dan mengumpulkan material genetiknya. Untuk pengamatan fenologi, pengukuran pertumbuhan dan produktivitas serta penunjukan pohon plus telah dibangun Petak ukur permanen  (50 m x 50 m) pada lima lokasi yakni tiga di Kadabuhan, dan masing-masing satu di Singgersing dan Singkohor. Jenis Kapur (Dryobalanops aromatica) merupakan jenis dominan pada masing-masing PUP. Berdasarkan pengamatan fenologi diketahui bahwa periode pembungaan dimulai pada bulan Desember 2015 – Januari 2016 dengan masa buah masak dan jatuh pada bulan Februari – Maret 2016. Pembungaan ini terjadi sekali dalam empat tahun. Pemilihan calon lokasi pohon plus kapur dilakukan dengan memperhatikan keragaman lingkungan dan keragaman tegakan. Pohon induk/pohon plus yang dipilih merupakan pohon yang terbaik diantara 3 pohon di sekitarnya berdasarkan kriteria kuantitas resin.  Pengukuran produktivitas ombil dan Kristal kapur dilakukan dengan melakukan pembuatan takik pada batang dengan tiga tingkat kedalaman relatif, yakni dalam (3), sedang (2), dan dangkal (1). Produktivitas ombil dan kristal kapur diduga dari keberadaan rembesan cairan dan serbuk kapur yang muncul. Fungsi diskriminan pendugaan ombil diperoleh Y = 1.016 Diameter + 0.802 Dalam Lubang sementara untuk Kristal Y = 0.884 Dalam Lubang + 0,834 Diameter. Material genetic yang terkumpul telah ditanam dalam bentuk kebun pangkas provenan serta ditanam dengan pola tumpang sari dengan tanaman kopi. Hasil pengukuran pertumbuhan menggunakan rancangan acak lengkap menunjukkan riap pertumbuhan tinggi berbeda antar provenan sedangkan riap diameter sebaliknya tidak berbeda. Diameter awal dan tinggi awal menunjukkan perbedaan antar provenan. Sedangkan pengukuran diameter akhir tidak berbeda nyata, sebaliknya pengukuran tinggi akhir berbeda nyata. Riap tertinggi dimiliki oleh provenan Barus sebesar 5,27 cm/6 bulan diikuti Singkohor sebesar 3,13 cm/6 bulan. PUP dan kebun pangkas provenan ini harus dipelihara dalam jangka panjang untuk mendapatkan seri data yang cukup. Pengukuran produktivitas ombil dari penyuliangan daun harus dilakukan di masa depan. Eksplorasi dan pengumpulan material genetic di Pulau Mursala dan Kepulauan Penyengat Riau yang diduga memiliki keanekaragaman genetik yang tinggi harus dipertimbangkan di masa depan.

Judul RPPI : OBAT-OBATAN TANAMAN HUTAN
Koordinator RPPI : DR. Ir. Maman Turjaman, DEA
Judul RPTP : BUDIDAYA TUMBUHAN OBAT POTENSIAL DI SUMATERA BAGIAN UTARA
Judul ROP : PERBANYAKAN VEGETATIF, PENGOLAHAN SEDERHANA DAN PEMBUATAN DEMPLOT PIRDOT

Pelaksana Kegiatan:

DR. Dany Ahmad Sunandar, Rospita OP, Situmorang, SP., M.Eng

Abstrak

Pemanenan pirdot masih banyak mengandalkan produksi dari alam dan masih belum menyentuh upaya budidaya. Tujuan penelitian pada tahun ini mencakup dua aspek utama kegiatan yaitu aspek silvikultur (perbanyakan vegetatif dan pembangunan plot) dan aspek sosial ekonomi (preferensi masyarakat akan pemanfaatan pirdot) dengan aspek pendukung yaitu analisis kuantitatif senyawa aktif dan pengolahan sederhana. Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan berbagai hormon dan lama perendaman. Plot dibangun di kebun percobaan Sipiso piso dengan perlakuan asal bahan tanaman dan tinggi awal. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur (menggunakan panduan tertulis) dan wawancara mendalam untuk mengetahui pemanfaatan dan preferensi masyarakat terhadap tanaman pirdot. Hasil penelitian untuk aspek kegiatan silvikultur, perbanyakan melalui stek masih mengalami kendala cuaca dan akan diulang pada akhir Desember 2016. Persen hidup pirdot satu bulan setelah tanam adalah 95% dengan tinggi rata-rata awal antara 8 – 73 cm untuk masing-masing subplot dengan jumlah daun antara 4 – 8 helai. Tingkat preferensi pemanfaatan pirdot untuk ketergori pengobatan penyakit tergolong tinggi, namun untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan ekonomi tergolong sedang. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun, bunga dan buah pirdot sangat kompleks. Terdapat 20 jenis senyawa kimia penting dalam daun, 10 senyawa kimia dalam bunga, dan 20 senyawa dalam buah. Pengolahan syrup pirdot dengan 4 metode pengolahan, memberikan hasil yang berbeda terhadap penampilan, aroma, dan rasa syrup. Selanjutnya pemberian konsentrasi pengawet yang berbeda memberikan pengaruh yang linier terhadap parameter aroma, TSS, tingkat kemasaman (pH), dan gula reduksi. Namun untuk parameter total asam, warna dan rasa tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada seluruh perlakuan.