Balitbang LHK Aek Nauli

Penelitian Tahun 2015

Judul RPPI : Konservasi Keanekaragaman Hayati
Koordinator RPPI : Dr. Ir. R. Garsetiasih,MP
Judul Kegiatan : Potensi satwa, penggunaan lahan dan tingkat ketergantungan masyarakat pada DAS Besitang : KPHK Taman Nasional Gunung Leuser

Pelaksana Kegiatan:
Sri Yanti P. Barus, S.Hut, MP, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Ahmad Dany Sunandar, S.Hut, M.Si, Alfonsus Harianja, SP, M.Sc, Asep Sukmana,SP, MSc, Maskulino, S.Sos, Pidin Mudiana, Erwin P Manik, Selamat L Tobing, Hendry E. Simamora, S.Hut.

Abstrak

Program penelitian yang memaduserasikan antara kepentingan konservasi satwa dan peningkatan produktivitas lahan di wilayah DAS masih sangat rendah, termasuk di DAS Besitang sebagai DAS Prioritas I. Sasaran penelitian pada tahun 2015 adalah mendapatkan informasi jenis penggunaan lahan dominan, keragaman dan jenis satwa umbrella species, kondisi habitatnya, kualitas air dan aktivitas masyarakat dan potensi konflik lahan di DAS Besitang, lingkup KPHK TN. Gunung Leuser beserta daerah penyangganya. Proses penelitian dibagi dalam 1. Aspek Silvikultur (Penelitian Tutupan Lahan Dominan), 2.  Aspek Konservasi (Ekologi dan Air) dan 3. Aspek Sosek (Aktivitas masyarakat dan potensi konflik lahan). Hasil penelitian menunjukkan tipe tutupan lahan dominan di bagian hulu dan tengah DAS Besitang, sekitar kawasan TNGL adalah hutan primer sekitar 34.147 ha, hutan sekunder 2.821 ha dan perkebunan.  Indeks keragaman jenis satwa pada hutan primer dan sekunder tidak jauh berbeda, untuk primata sekitar 1,35 dan mamalia darat sebesar 2,14. Jenis satwa yang sesuai sebagai umbrella species adalah gajah (Elephas maximus sumatranus (Temminck, 1847).  Indeks keanekaragaman jenis untuk setiap tingkat pertumbuhan pada habitat gajah cukup tinggi (H’>3). Rata-rata nilai debit air Sungai Besitang sebesar 0,948 m3/detik dengan kualitas air sudah tidak memenuhi baku mutu. Masyarakat umumnya sebagai petani dan berkebun tanaman sawit dan jeruk sehingga ketergantungan akan lahan sangat tinggi. Potensi konflik dengan satwaliar sangat tinggi karena  kebutuhan lahan olahan terus bertambah dan terjadi gangguan satwa dengan memasuki kebun dan ladang masyarakat, terutama di sekitar lokali lintasan gajah.

Judul RPPI : Konservasi Sumberdaya Air
Koordinator RPPI : Dr. I. Wayan Susi D., S.Hut, M.Si
Judul Kegiatan : Konservasi sumberdaya air dengan model agroforestry pada lahan masyarakat dan KPH di Sumatera Utara

Pelaksana Kegiatan:
Asep Sukmana, SP, M.Sc, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Alfonsus H Harianja, SP, M.Sc, Hendra Sanjaya, S.Hut, M.Si, Marjono

Abstrak

Kegiatan konservasi sumberdaya air tidak akan terlepas dengan ekosistem DAS. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu selalu menjadi fokus perhatian, mengingat dalam suatu DAS bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.  Hal ini dapat ditunjukkan bila  terjadi kesalahan penggunaan lahan daerah hulu akan berdampak pada masyarakat di daerah hilir. Bagian hulu adalah zona terpenting yang perlu diperhatikan dalam upaya pelestarian Daerah Aliran Sungai. Pengelolaan sumberdaya alam di daerah ini akan berdampak pada kualitas tanah dan air sekitar DAS tersebut. Kegiatan usaha pertanian pada bagian ini haruslah diupayakan mengadopsi teknologi yang mangacu pada prinsip-prinsi konservasi, karena perubahan vegetasi seperti keterbukaan lahan, maka akan berdampak kepada peningkatan erosi, dan dampak-dampak lain yang berkaitan dengan degradasi lahan. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana rumusan  pola agroforestri yang efektif  sebagai bentuk penggunaan lahan yang berkelanjutan, serta berdampak mampu mengkonservasi sumberdaya air yang dicirikan dengan indikator adanya penurunan erosi, limpasan permukaan, meningkatkan kualias dan kuantitas air.

Judul RPPI : Peningkatan Produktivitas Hutan
Koordinator RPPI : DR. Ir. Darwo, M.Si
Judul Kegiatan : Peningkatan produktivitas hasil hutan bukan kayu jenis jernang (Daemonorops spp), kapur (Dryobalanops aromatica) dan cendana aceh (Santalum album) melalui pengembangan bibit unggul dan teknik silvikulktur

Pelaksana Kegiatan:
Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si, M. Hadi Saputra, S.Hut, Edy Julianto, S.Hut, Nuryana

Abstrak

Berbagai studi menunjukan pengelolaan hasil hutan bukan kayu menyediakan alternatif mata pencaharian masyarakat, pengentasan kemiskinan dan mendukung kelestarian hutan. Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu yang memiliki sejarah pengelolaan yang panjang dan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan masyarakat di pantai barat Aceh adalah getah jernang (Draemonorops spp) dan minyak kapur (Drybalanops arimatic). Namun, pemanenan yang tidak lestari, rendahnya upaya budidaya intensif telah mengakibatkan populasi jenis ini telah menurun drastis sebelum sempat di teliti dan disebarluaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bibit unggul melalui pembangunan sumber benih berkualitas dan menggalian teknik silvikulktur yang dapat mneningkatkan produktivitas hasil hutan bukan kayu jenis getah jernang, minyak kapur dan cendana Aceh. Informasi dan bibit unggul yang diperoleh diharap dapat meningkatkan produktivitas sumberdaya hutan dan kesejahteraan masyarakat.

Judul RPPI : Sumber Pangan Alternatif dari Hutan
Koordinatoir RPPI : Dr. Ir. Murniati, M.Si
Judul Kegiatan : Pengelolaan hutan sagu (Metroxylin spp) : perencanaan, organisasi, pelaksanaan dan pemanfaatan sagu

Pelaksana Kegiatan:
Rospita Odorlina P. Situmorang, STP, M.Eng, Alfonsus H. Harianja, S.Hut, M.Sc, M. Salman Zuhri, Firman

Abstrak

Tanaman sagu (Metroxylon spp) sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif karena sagu menghasilkan pati (karbohidrat) sebagai sumber kalori. Menurut berbagai literatur dan hasil penelitian, meskipun sagu memiliki nilai kalori yang paling tinggi jika dibandingkan dengan komoditas pangan non beras lainnya seperti singkong, ubi jalar, dan kentang, namun pemanfaatan sagu secara nasional ternyata paling rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengumpulkan informasi tingkat preferensi masyarakat dalam memanfaatkan dan mengelola sagu di Sumatera Utara; (2) memformulasikan sistem perencanaan dan pengorganisasian pengelolaan hutan sagu pada berbagai stakeholder; (3) Melakukan analisis finansial dan tata niaga pemanfaatan sagu (on farm); dan (4) Mengumpulkan data sebaran potensi dan  produktivitas sagu masyarakat. Lokasi penelitian dilaksanakan  di Kabupaten Asahan dan beberapa lokasi di sekitar Kabupaten Asahan yang berkaitan dengan rantai tataniaga sagu. Metode pelaksanaan akan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan survey, wawancara (terstruktur, semi terstruktur dan wawancara mendalam), observasi lapangan, dan pengumpulan dokumen-dokumen pendukung. Teknik analisis yang akan dilakukan adalah dengan analisis desktiptif, tabulasi, grafik persentase, analisis finansial, dan analisis stakeholder.  Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) Secara sosial, produk sagu di Kabupaten Asahan memberikan ketersediaan pangan dari segi jumlah dan variasi jenis pilihan pangan, dan secara ekonomi berupa peningkatan mata pencaharian dan peningkatan pendapatan rumah tangga; (2) Tingkat preferensi masyarakat pada konsumsi sagu tergolong tinggi (50%). Tingkat konsumsi tinggi karena sagu banyak dimanfaatkan untuk bahan olahan pangan (70,69% dengan pemanfaatan yang tinggi) namun konsumsi sagu untuk pangan pokok tergolong rendah (39,66 %); (3) Pengelolaan sagu di Kabupaten Asahan masih menguntungkan dan dapat menjadi alternatif mata pencaharian utama atau mata pencaharian tambahan karena harga sagu relative stabil, dapat dipanen secara kontinu, biaya budidaya yang sangat rendah, dan kepastian pasar yang tinggi.; (4) Pengelolaan sagu di Kabupaten Asahan belum mendapat perhatian dari pemeritah daerah yang mengakibatkan pengembangan sagu tidak meningkat bahkan menurun dari tahun ke tahun; (5) Faktor-faktor yang menjadi ancaman penurunan produksi sagu adalah ketertarikan menanam sawit dibandingkan sagu karena dapat dipanen dalam jumlah yang besar dan waktu panen lebih kontinu dan relative lebih singkat, sementara 1 batang sagu hanya dipanen dapat dipanen satu kali dalam masa 10-15 tahun; dan (6) Pengelolaan sagu dikabupaten Asahan dapat dilaksanakan dengan baik jika pertama sekali sagu dijadikan sebagai produk pangan prioritas atau produk unggulan yang dapat bersaing dengan produk pangan lainnya yang kemudian dilanjutkan dengan pembenahan data, perumusan kebijakan, pembuatan rencana pelaksanaan baik secara teknis dan pengalokasian anggaran.

Judul RPPI : Sumber Pangan Alternatif dari Hutan
Koordinator RPPI : Dr. Ir. Murniati, M.Si
Judul Kegiatan : Strategi pelestarian buah-buahan potensial dari hutan pada masyarkat Batak sebagai sumber pangan

Pelaksana Kegiatan:

Johansen Silalahi, S.Hut, Alfonsus H. Harianja, SP, M.Sc, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Sri Yanti P Barus, S.Hut, MP, Hendry E Simamora, S.Hut, Andilo E. Siahaan

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi dan merekomendasikan strategi pelestarian buah-buahan potensial dari hutan pada masyarakat Batak sebagai sumber pangan berdasarkan pertimbangan sosial ekonomi, budidaya dan ekologi yang direncanakan akan dikerjakan selama 2015-2019. Pada tahun 2015, penelitian ditujukan untuk mendapatkan data dan informasi tentang nilai penting buah-buah potensial berdasarkan aspek sosial budaya, valuasi ekonomi buah-buah tersebut serta paket data dan informasi awal mengenai sebaran, potensi dan kelangkaan serta herbariumnya.  Penelitian akan difokuskan pada beberapa KPH di wilayah Sumatera Utara (KPHL Tobasa dan Kabupaten Simalungun).  Data sosial ekonomi diperoleh dari responden yang sampelnya ditentukan secara acak.  Teknik pengambilan data adalah melalui indepth interview, Participatory Rural Apraisal, dan focus group discussion, sedangkan untuk aspek konservasi sumber daya alam digunakan analisis vegetasi.  Hasil yang diharapkan adalah Indeks nilai penting, nilai ekonomi, indeks keragaman jenis, indeks kemiripan jenis tumbuhan, pola dispersi, dan nilai kelangkaan di alam sebagai preliminary findings yang akan digunakan kembali dalam rangkaian kegiatan penelitian lanjutan.

Judul RPPI : Obat-obatan Tanaman Hutan
Koordinator RPPI : Ir. Maman Turjaman, DEA
Judul Kegiatan : Budidaya Tumbuhan Obat Potensial di Kebun Percobaan Sipiso-piso, Sumatera Utara

Pelaksana Kegiatan:
Dr. Ahmad Dany Sunandar, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Sri Yanti P Barus, S.Hut, MP, M. Hadi Saputra, S.Hut, Erwin P. Manik, Pidin Mudiana, A.Md, Nuryana, Selamat L Tobing

Abstrak

Taxus sumatrana Miq.deLaub merupakan jenis penghasil obat kanker yang sudah diketahui dalam dunia medis sedangkan Saurauiabrecteosa (Pirdot) merupakan jenis pohon yang sudah dimanfaatkan juga sebagai obat herbal di beberapa daerah. Meski demikian, informasi ilmiah mengena iekologi dan budidaya keduanya   belum banyak ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan sebaran jenisTaxus sumatrana Miq. deLaub, fenologi berbunga dan berbuahnya, pengumpulan dan penyemaian material genetic taxus, fenologi berbunga dan berbuah jenis pirdot, penanganan dan penyemaian benih pirdot. Potensi dan sebaran dilakukan dengan melakukan pengamatan tumbuhan untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi dengan metode garis berpetak. Analisa data dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman Jenis Tumbuhan, Indeks Kemiripan Jenis Tumbuhan,dan analisis deskriptif. Pengamatan fenologi berbunga dan berbuah dilakukan secara langsung dan berkala. Produksi buah dilakukan dengan mengumpulkan buah yang jatuh dan ditimbang secara berkala setiap minggu dan untuk produksi buah dalam satu pohon dilakukan penebangan terhadap pohon pirdot. Penanganan benih dilakukan untuk mengetahui sifat benih dan didasarkan pada literature info benih. Pengambilan material genetic dilakukan denga mengumpulkan buah dan bahan stek taxus untuk disemaikan dan diperbanyak di BPK AekNauli. Penyemaian dan perbanyakan dilakukan untuk mengetahui teknik penyemaian pirdot dilakukan dengan perlakuan media dan perendaman serta lama penyimpanan benih.

Judul RPPI : Konservasi Keanekaragaman Hayati
Koordinator RPPI : Dr. Ir. R. Garsetiasih, MP
Judul Kegiatan : Karakteristik ekologi dan sosial sekitar habitat pelepasan liar orangutan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Pelaksana Kegiatan:

Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Alfonsus Harianja, SP, M.Sc, Dr. Ahmad Dany Sunandar, Sriyanti P. Barus, S.Hut, MP, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Maskulino,S.Sos, M. Hadi Saputra, S.Hut, Johannis Ginting, Erwin P Manik, Firman

Abstrak    

Permasalahan utama untuk mengembangkan pelaksanan program pelepasliaran orangutan adalah kesulitan untuk mencari lokasi yang secara ekologi sesuai untuk memenuhi kebutuhan orangutan dan minim potensi konflik.   Sasaran penelitian pada tahun 2015 adalah mendapatkan informasi karakteristik habitat (tutupan lahan, kerapatan jenis, keragaman jenis, suhu dan kelembaban), karakteristik tumbuhan pakan dan jenis pohon sarang serta potensi konflik berdasarkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat untuk penilaian kriteria kesesuaian habitat lokasi pelepasliaran orangutan di TN. Bukit Tigapuluh.Pengumpulan data dilakukan melalui analisis vegetasi, pengukuran suhu dan kelembaban, PRA, FGD dan pengamatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa program pelepasliaran Orangutan telah beroperasi sejak tahun 2002 dengan 158 individu telah dilepasliarkan dan 22 individu dinyatakan gagal. Tutupan lahan di TNBT secara umum masih merupakan hutan alam primer sekitar 68.444 ha, hutan sekunder 66.811 ha. Hasil analisis vegetasi sedikitnya telah teridentifikasi 301 jenis tumbuhan dan 90 jenis sebagai sumber pakan. Jenis tumbuhan yang dominan diantaranya kelat (Eugenia grandiflora O.Berg), medang (Litsea firma Hook.f), keruing (Dipterocarpus kunstleri King), meranti (Shorea leprosula Mig) dan Macaranga sp. Hasil analisis karakteristik habitat kondisi fisik habitat menunjukan bahwa kondisi hutan di dinilai sesuai untuk lokasi pelepasliaran orangutan. Namun adanya potensi konflik dengan masyarakat dinilai kawasan TNBT kurang sesuai sebagai lokasi pelepasliaran orangutan.  Rekomendasi apabila ingin mempertahankan kawasan TNBT sebagai  lokasi pelepasliaran antara lain perlu adanya pengkayaan habitat, sosialisasi kebiasaan orangutan dan penyadartahuan pada masyarakat, merevitalisasi sistem adat, penegakan hukum, dan pengembangan ekonomi alternatif bagi masyarakat.

Judul RPPI : Peningkatan Produktivitas Hutan
Koordinator : Dr. Ir. Darwo, M.Si
Judul Kegiatan : Pengembangan kemenyan di Sumatera Utara : Analisis Sosial Ekonomi, Ekologi dan Silvikultur

Pelaksana Kegiatan:

Alfonsus H. Harianja, SP, M.Sc, Asep Sukmana, SP, M.Sc, Rospita Odorlina, S.Hut, M.Si, Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Sc, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Dr. Ahmad Dany Sunandar, Firman, Hendry E Simamora, S.Hut, Hendra Sanjaya, S.Hut, M.Si, Johannis Ginting, Nuryana, Edi Kuwato

Abstrak

Penelitian unggulan daerah ini dilakukan pada tahun 2015-2019 dengan tujuan untuk mendapatkan rekomendasi strategi peningkatan produktivitas getah kemenyan berdasarkan parameter sosial, ekonomi, silvikultur dan ekologi di beberapa lokasi endemik kemenyan (Styrax, sp.) di Sumatera Utara. Pada tahun 2015 penelitian akan dilakukan untuk mendapatkan rekam jejak karakteristik sosial budaya dan kearifan lokal pengelolaan; faktor-faktor pembatas dalam efisiensi sistem tata niaga; karakteristik pohon plus bocor getah, fenologi dan material genetik pohon plus; dan karakteristik sebaran dan asosiasi kemenyan pada beberapa ketinggian dan tutupan lahan.  Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel secara purposif berdasarkan ketinggian tapak tumbuh yakni pada ketinggian < 900 m dpl di Kabupaten Tapanuli Utara.  Metode penelitian untuk aspek sosial adalah dengan menggunakan Indepth interview, Participatory Rural Appraisal, Focus Group Discussion dengan penelaahan deskriptif kualitatif.  Aspek ekonomi didekati dengan menggunakan interview untuk menganalisis struktur tata niaga, biaya dan manfaat tataniaga, market share pelaku tata niaga dan elasitisitas transmisi tata niaga.  Aspek silvikultur meliputi karakterisasi pohon plus kemenyan bocor getah, fenologi dan material genetiknya serta viabilitas benih/bibit kemenyan.  Aspek ekologi meliputi formulasi sebaran dan asosiasi tumbuhan kemenyan dan karakterisasi lingkungan pada berbagai ketinggian dan tutupan lahan.  Dari kegiatan penelitian pada keempat aspek tersebut diharapkan akan diperoleh data dan informasi awal aspek sosial, ekonomi, silvikultur dan ekologi kemenyan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sosial terdapat kearifan lokal dalam sistem penenaman, pemeliharaan, pemanenan, pasca panen dan kelembagaan pengelolaan tegakan dan hutan kemenyan di lokasi penelitian.  Dari aspek ekonomi, pemasaran kemenyan berawal dari petani ke pedagang pengumpul tingkat kecamatan, kemudian ke pedagang tingkat kabupaten dan tingkat propinsi, tanpa mengalami perubahan bentuk.  Biaya yang timbul meliputi biaya pengumpulan, biaya sortir (grading), penjemuran dan transportasi. Berdasarkan analisis vegetasi dan apek ekologis tapak tumbuh, maka diketahui bahwa peremajaan tegakan kemenyan tidak dapat lagi mengandalkan permudaan alami, karena tingginya persaingan anakan pada tingkat semai dengan jenis lain.