Balitbang LHK Aek Nauli

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Oleh: Erwin Patriot Manik (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Harimau Sumatera (P. tigris sumatrae)
Sumber foto: Wanda Kuswanda (Peneliti BP2LHK Aek Nauli)

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa endemik yang penyebarannya hanya terdapat di Pulau Sumatera, terutama di hutan-hutan dataran rendah sampai dengan pegunungan. Wilayah penyebarannya pada ketinggian 2.000 mdpl (O’Brien et al., 2003), tetapi kadang-kadang juga sampai ketinggian lebih dari 2.400 mdpl (Linkie et al., 2003). Oleh karena itu, kepadatan hewan mangsa sebagai sumber pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan populasi harimau. Ketersediaan hewan mangsa ini juga memainkan peran penting dalam menentukan daerah jelajah individu harimau (Ahearns et al., 2001).

P. tigris sumatrae memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini. Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg. Warna kulit Harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Biasanya seekor harimau membutuhkan sekitar 6-7 kg daging per hari, bahkan kadang-kadang sampai 40 kg daging sekali makan. Besarnya jumlah kebutuhan ini tergantung dari apakah harimau tersebut mencari makan untuk dirinya sendiri atau harimau betina yang harus memberi makan anak-anaknya. Di alam liar, Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di hutan hujan tropis Pulau Sumatera, Indonesia.

Sumber foto: Wanda Kuswanda (Peneliti BP2LHK Aek Nauli)

Harimau bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak. Biasanya daerah teritori Harimau Sumatera jantan 3-4 kali lebih luas dibanding harimau betina. Wilayah jelajah (home range) untuk seekor Harimau Sumatera betina adalah sekitar 50-70 km2, sedangkan untuk harimau jantan sekitar 110 km2 (Franklin et al., 1999).

Harimau Sumatera termasuk jenis karnivora yang biasanya memangsa Rusa Sambar (Rusa unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus sp.), babi hutan liar (Sus sp.), kerbau liar (Bubalus bubalis), tapir (Tapirus indicus), monyet (Macaca sp.), musang galing (Paguma larvata), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), dan tak jarang beruang madu (Helarctos malayanus) yang masih anakan menjadi buruannya. Hal ini dapat diketahui berdasarkan kotoran harimau yang ditemukan dan terdapat bulu-bulu H. malayanus. Jenis-jenis reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya terkadang dimakan harimau. Selain itu, hewan peliharaan atau ternak yang juga sering menjadi mangsa harimau adalah kerbau, kambing, domba, sapi, anjing, dan ayam.

Pada saat ini, tiga dari sembilan sub-spesies harimau yang pernah ada sudah dinyatakan punah. Ketiganya adalah Harimau Bali punah tahun 1940, Harimau Kaspia punah tahun 1970, dan Harimau Jawa punah tahun 1980. Subspesies lain, Harimau China Selatan, kini berada di ambang kepunahan. Harimau Sumatera adalah jenis yang termasuk langka diantara enam sub-spesies harimau yang masih ada. Populasi Harimau Sumatera di habitat alaminya secara menyeluruh belum diketahui secara tepat, tetapi dapat dipastikan bahwa populasinya saat ini sudah dalam kondisi sangat kritis. International Union for Conservation of Nature (IUCN), telah memasukkan Harimau Sumatera, ke dalam kategori hewan yang kritis dan terancam punah (critically endangered).

Sumber foto: Wanda Kuswanda (Peneliti BP2LHK Aek Nauli)

Daerah-daerah jelajah keberadaan Harimau Sumatera tumpang tindih antara individu harimau. Alih fungsi kawasan hutan secara besar-besaran menyebabkan hilangnya habitat hutan atau terpotongnya blok kawasan hutan yang luas menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah-pisah. Kompetisi ruang dan sumber pakan antara manusia dan harimau telah mendorong masyarakat untuk memusuhi dan membunuh satwa ini. Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia (Seidensticker et al., 1999; Karanth dan Stith, 1999; Nyhus dan Tilson, 2004). Di dalam struktur piramida makanan, harimau terletak paling atas atau dikenal dengan top predator, sehingga keberadaannya sangat rawan terhadap kepunahan dibandingkan dengan jenis satwa lain apabila kawasan hutan terpisah-pisah menjadi blok-blok hutan kecil yang tidak mampu mendukung populasi hewan mangsa (Woodroffe dan Ginsberg, 1998).

Kepunahan Harimau Jawa (P. tigris sondaica) dan Harimau Bali (P. tigris balica) telah menjadikan pelajaran berharga bagi para pengelola satwa liar dalam upaya penyelamatan Harimau Sumatera. Pada prinsipnya untuk mempertahankan hidup, Harimau Sumatera memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup, sumber air (Sunquist dan Sunquist, 1989), dan tutupan vegetasi yang rapat untuk tempat menyergap mangsa (Lynam et al., 2000). Habitat hutan dataran tinggi yang tersisa saat ini tidak dapat mendukung biomassa jenis-jenis ungulata besar sebagai hewan mangsa (Eisenberg dan Seidensticker, 1976). Sebaliknya, keberadaan hutan dataran rendah sangat penting karena dapat mendukung biomassa hewan ungulata besar seperti babi hutan (Sus scrofa), rusa (Rusa unicolor), dan kijang (Muntiacus muntjak) sebagai hewan mangsa. Namun, luasan hutan dataran rendah yang tersisa secara cepat menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian. Diperkirakan antara 65-80% hutan dataran rendah di Sumatera telah hilang atau beralih fungsi menjadi peruntukan lain (Whitten et al., 1984).

 

Referensi

Anonymous. 2002. Survey, assessment and conservation of the Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) in Bukit Barisan Selatan National Park – III. Final report to the Exxon/Mobil Save the Tiger Fund. Wildlife Conservation Society (WCS). http://www.5tigers.org/STF/Reports/WCS/Indonesia/WCS_BBSNP_2000.pdf. Diakses 25 Oktober  2009.

Hasiholan, W.  2005. Harimau-harimau: konservasi Harimau Sumatra secara komprehensif. Tersedia di : http://harimau Sumatra. blogspot. com/2005/12/ konservasi-harimau-Sumatra.html.  Diakses 28 Desember 2006.

O’Brien, T.G., M.F. Kinnaird, and H.T. Wibisono. 2003. Crouching tiger, hidden prey: Sumatran tiger and prey populations in a tropical forest landscape. Animal Conservation 6: 131-139.

Seidensticker, J., S. Christie, and P. Jackson. (editors). 1999. Riding the tiger: Tiger conservation in human dominated landscapes. Cambridge University Press, Cambridge.

Sunquist, M., K.U. Karanth, and F. Sunquist. 1999. Ecology, behaviour and resilience of the tiger and conservation need. In: J. Seidensticker, S. Christie and P. Jackson. (editors). 1999. Riding the tiger: Tiger conservation in human dominate landscapes. Cambridge University Press, Cambridge.

Wijayanto, U., Winarni, dan Nurul, L., 2003. Pola distribusi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan beberapa jenis kucing di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan antara tahun 2002-2003. Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, Bogor.

Wikramanayake, E., Dinerstein, E., Loucks, C., Loucks, C. J., (editors). 2002. Terrestrial ecoregions of the Indo-Pacific: a conservation assessment. Island Press, Washington DC.

Yoan Dinata, Jito Sugardjito. 2008. Keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) dan Hewan Mangsanya di Berbagai Tipe Habitat Hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. BIODIVERITAS ISSN: 1412-033X: Volume 9, Nomor 3 Juli 2008 Halaman: 222-226.

Gunardi Djoko Winarno, Revi Ameliya. 2009. Pendugaan Populasi Harimau Sumatra dan Satwa Mangsanya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Biosfera 26 (1) Januari 2009.

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *