Balitbang LHK Aek Nauli

Getah Pinus, Salah Satu HHBK Primadona Nasional

Kuakan pada Pinus

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menjadi harapan penopang ekonomi bagi masyarakat setelah era hasil hutan kayu mengalami penurunan akibat luas hutan dan potensi yang semakin berkurang. Salah satu jenis pohon penghasil HHBK yang sampai saat ini masih dimanfaatkan masyarakat adalah Pinus. Pinus merupakan salah satu pohon penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi dan juga penghasil getah sehingga disebut pohon berfungsi ganda. Jenis Pinus yang mendominasi di Indonesia adalah Pinus merkusii, daerah penyebarannya yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan seluruh Jawa (Martawijaya, et al. 2005).

Hingga saat ini getah Pinus masih menjadi HHBK “primadona” di pasar nasional hingga internasional. Getah Pinus dapat diolah menjadi gondorukem. Gondorukem merupakan produk hasil penyulingan dari getah Pinus yang biasa disebut gum rosin, pine rosin, colophony atau kucing gondorukem berupa padatan berwarna kuning jernih sampai kuning tua sedangkan hasil sampingan dari proses produksi gondorukem yaitu terpentin yang berupa cairan berwarna jernih (Wibowo, 2006).

Bekas Kuakan pada Pinus
Lokasi: Arboretum BP2LHK Aek Nauli

Menurut Statistik Kehutanan Indonesia (2001), kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, dan kosmetik. Sedangkan terpentin digunakan sebagai pelarut minyak organik dan resin. Dalam industri digunakan sebagai bahan semir sepatu, logam dan kayu hingga kamper sintetis. Indonesia merupakan produsen gondorukem ke dua setelah Cina dalam perdagangan internasional. Delapan puluh persen produksi gondorukem dan terpentin dialokasikan untuk kebutuhan eksport ke Eropa, India, Korea Selatan, Jepang dan Amerika. Berdasarkan data statistik Kehutanan Provinsi Sumatera Utara produksi gondorukem di Kabupaten Karo setiap tahunnya sebanyak 1500 kg/ha.

Pada tahun 2014 terdapat empat unit ijin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (IUPHHBK) di Provinsi Sumatera Utara dengan total luas areal 150 hektar yang berada pada satu kabupaten yaitu Kabupaten Karo, yang merupakan IUPHHBK pada hutan rakyat. Kegiatan pemungutan HHBK dapat dilakukan apabila memiliki IPHHBK/IUPHHBK. IUPHHBK adalah ijin dengan segala bentuk kegiatan untuk mengambil hasil hutan bukan kayu antara lain rotan, madu, buah-buahan, getah-getahan, tanaman obat dan lain sebagainya di dalam hutan lindung atau hutan produksi. IUPHHBK pada hutan tanaman adalah ijin untuk memanfaatkan hutan produksi yang kegiatannya terdiri dari penyiapan lahan, perbenihan atau pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan, pengolahan dan pemasangan HHBK.

Rendahnya jumlah sadapan getah Pinus dapat dipengaruhi oleh cara penyadapan yang tidak efisien sehingga menyebabkan rusaknya tegakan Pinus selain itu juga karena meningkatnya penebangan/pemanfaatan kayu Pinus di Sumatera Utara sebagai bahan korek api dan furniture juga menjadi penyebab. Berikut ditampilkan diagram produksi log Pinus Sumatera Utara.

Sumber: BPS Sumatera Utara

Meningkatnya jumlah produksi log Pinus ditahun sebelum dapat menyebabkan rendahnya produksi getah Pinus ditahun berikut. Selain penebangan kayu Pinus beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas getah Pinus adalah umur tegakan, kerapatan, ketinggian tempat tumbuh, metode penyadapan, jumlah koakan tiap sadapan, arah sadapan terhadap matahari, jangka waktu pelukaan serta pemberian stimulan. Pengujian pemberian stimulan untuk meningkatan produksi getah Pinus yang efisien dan sesuai manajemen hutan telah banyak dilakukan. Beberapa jenis stimulan yang sudah diujicobakan pada pohon Pinus adalah H2SO4, ETRAT, dan cuka kayu.

Menurut Sukadaryati, dkk. (2014), stimulan dapat meningkatkan aliran getah dan memperpanjang periode aliran getah sehingga getah yang diperoleh per pengunduhan lebih banyak. Selain pemberian stimulan, jenis sadapan juga berpengaruh terhadap produksi getah Pinus. Penyadapan getah Pinus dengan sistem koakan, kopral, dan bor masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Sistem koakan tergolong praktis dan ekonomis tetapi kurang lestari. Sistem kopral tergolong praktis dan lestari tetapi kurang ekonomis. Sistem bor tergolong kurang praktis, kurang ekonomis, dan kurang lestari.

Pemanfaatan getah Pinus banyak dilakukan dalam kawasan lindung (Tabel 1), karena itu sangat perlu memperhatikan jenis koakan yang aman. Jenis koakan mempengaruhi umur tegakan Pinus yang disadap. Penyadapan getah pada kawasan hutan lindung paling sesuai jika menerapkan sistem kopral yang tidak menyebabkan kerusakan batang pohon, sehingga kelestarian hutan Pinus dapat dipertahankan. Pada penyadapan yang dilakukan di dalam kawasan hutan produksi atau pada pohon Pinus yang akan disadap mati, hasil getah dapat dimaksimalkan dengan menerapkan sistem kopral, bor, dan koakan secara bergantian dalam tiga rotasi penyadapan (Lempang, 2018).

Tabel 1. UPTD KPH Penghasil HHBK Getah Pinus Sumatera Utara

KPH Wilayah Administrasi
KPHP Unit XX Sumatera Utara Tarutung Tapteng, Taput, dan Humbahas
KPHP Unit XII Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara
KPHL Toba Samosir Unit XIV Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
KPHL Unit XVIII Dolok Sanggul Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Toba Samosir
KPHL Unit XXIV Pandan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten Tapanuli Tengah
KPHL Unit XXVI Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara
KPHL Unit XXX Penyabungan Madina
KPHL UNIT II Sumut Kabupaten Karo

Sumber: Sinpasdok KPH (RPHJP KPH)

Berdasarkan penggunaan dokumen FAHHBK (Faktur Angkut Hasil Hutan Bukan Kayu) diperoleh jumlah volume peredaran Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) getah Pinus di Provinsi Sumatera Utara. Tercatat sebanyak 160.584 ton pada tahun 2013 yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, tahun 2014 sebanyak 835.512 ton dari Kabupaten Karo dan Tapanuli Utara 712.137 ton. Pada tahun 2015 terdapat sebanyak 111.340 ton getah Pinus yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan (Statistik Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013-2015).

Menurut Badan Pusat Statistik Sumatera Utara tahun 2010 hingga 2016, produksi hasil getah Pinus Sumatera Utara mengalami fluktuasi. Gambar berikut mendeskripsikan hasil produksi getah Pinus Sumatera Utara dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.

Sumber: BPS Sumatera Utara

Grafik diatas menunjukkan jumlah produksi getah Pinus Sumatera Utara dari tahun 2010 s/d 2016. Terdapat perbedaan data dari BPS Sumatera Utara dan statistik HHBK Sumut pada tahun 2013. BPS Sumut tidak memiliki rekaman hasil produksi getah Pinus Sumatera Utara tahun 2013. Besaran harga getah Pinus Sumatera Utara 2013-2015 adalah Rp 2050/kg. Nilai tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. 47/Menhut-II/2008.***(AMS)

 

Referensi:

[BPK] Bina Produksi Kehutanan, Statistik Kehutanan Indonesia. 2001. Bina Produksi Kehutanan (Forest Production Development). http://www.dephut.go.id/INFORMASI/statistik/2001/BPK_01_N.htm.

Azis, F. 2010. Peningkatan produktivitas getah pinus melalui penggunaan stimulansia organik. Skripsi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. [https://sumut.bps.go.id/statictable/2017/10/16/714/produksi-hasil-hutan-sumatera-utara-menurut-jenis-produksi-2013—2016.html].

Darmastuti, I.K. G. Santosa, & J.R. Matangaran. 2015. Penyempurnaan teknik penyadapan resin pinus dengan metode kuakan (Improvement of pine resin tapping with quare method). Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 34(1), 23-32.

Lempang, M. 2018. Pemungutan getah pinus dengan tiga sistem penyadapan. Info Teknis Eboni, 15 (1), 1-16

Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, & S.A. Prawira. 2005. Atlas kayu Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.

Sistem Informasi Spasial dan Dokumentasi (SINPASDOK) KPH. [http://kph.menlhk.go.id/].

Sukadaryati, G. Santosa, G. Pari, D.R. Nurrochmat & Hardjanto. 2014. Penggunaan stimulan dalam penyadapan pinus (The use of stimulants on the pine tapping). Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 32 (4), 329-340.

Wibowo, P. 2006. Produktifitas Penyadapan Getah Pinus merkusii Jungh. et de Vriese Dengan Sistem Koakan (Quarre System) Di Hutan Pendidikan Gunung Walat Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bagikan ini di:

2457total visits,3visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *