Balitbang LHK Aek Nauli

Doktor Orangutan Tapanuli Pertama di Indonesia itu Berasal dari Aek Nauli

Dr. Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc

Peneliti Utama pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Dr. Wanda Kuswanda berhasil mempertahankan disertasinya dan berhasil lulus dengan predikat Cum Laude (dengan pujian). Disertasi yang berjudul “Model Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan Tapanuli pada Lansekap Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan” dipresentasikan pada Sidang Terbuka yang dipimpin oleh Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Muryanto Amin, S.Sos M.Si, Selasa (9/2/2021).

Disertasi yang diselesaikan dibawah bimbingan Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, Prof. Dr. Hadi S. Alikodra, dan Prof. Dr. Robert Sibarani ini merupakan satu-satunya penelitian komprehensif tingkat doktoral yang secara khusus meneliti Orangutan Tapanuli di Indonesia, sehingga peneliti dari BP2LHK Aek Nauli ini resmi menjadi menjadi Doktor Orangutan Tapanuli Pertama di Indonesia.

Sidang Terbuka ini juga disaksikan oleh Ketua Program Studi S3 Pelestarian Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL), Dr. Miswar Budi Mulya, MSi, dan Direktur Sekolah Pasca Sarjana USU, Prof. Dr. Robert Sibarani.

Melalui program doktoral ini, Wanda berhasil menemukan sebuah model mitigasi konflik manusia-satwa liar dengan pendekatan ekologi, sosial-ekonomi, budaya dan kelembagaan dalam skala lansekap. Hasil inilah yang menjadikan Wanda saat ini sebagai satu-satunya Doktor Orangutan Tapanuli di Indonesia.

Wanda mengungkapkan bahwa dirinya sangat tertarik untuk terus meneliti Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang telah menjadi perhatian nasional dan internasional sebagai spesies paling terancam punah dari jenis orangutan lainnya di Indonesia sejak tahun 2003 saat mulai bekerja di Balai Litbang LHK Aek Nauli sampai sekarang.

“Penelitian terkait Orangutan Tapanuli sangat dibutuhkan untuk menjadi rujukan strategi dan rencana aksi dalam mengembangkan program konservasi orangutan kedepan yang berbasis data dan informasi ilmiah” ujar Wanda.

Pada disertasinya, Wanda menjelaskan bahwa populasi Orangutan Tapanuli sebagai spesies yang terancam punah masih dapat meningkat, salah satunya adalah dengan mitigasi yang tepat dalam menangani konflik antara manusia dan orangutan. Mitigasi tersebut antara lain yaitu dengan memberikan kompensasi dalam bentuk non tunai kepada petani pemilik lahan, pengamanan habitat dan monitoring populasi pada hutan konservasi, membangun koridor melalui pengayaan pakan di lahan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta mengembangkan ekonomi alternatif yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk mengurangi pembukaan lahan baru di habitat orangutan tersebut.

Wanda juga memaparkan bahwa populasi Orangutan Tapanuli pada area seluas 29.192 ha, di Blok Timur (Cagar Alam Dolok Sipirok dan daerah penyangganya) dan Blok Barat (Selatan) yang meliputi Cagar Alam Dolok Sibual-buali dan penyangganya, di Kabupaten Tapanuli Selatan, diperkirakan kepadatannya 0,41-0,65 individu/km2 dengan total populasi sekitar 155 (121-187) individu.

Menurut Wanda, jika dikaitkan dengan hasil kajian daya dukung habitatnya yang dapat mencapai 247 individu, maka populasi Orangutan Tapanuli masih dapat meningkat, walaupun dengan laju pertumbuhan yang lambat. Hal ini dapat dicapai apabila kondisi habitatnya, terutama jika pohon-pohon yang menjadi makanannya dapat dipertahankan.

Banyaknya Orangutan Tapanuli yang mencari makan di kebun masyarakat di daerah penyangga telah mengakibatkan konflik yang merugikan manusia dan orangutan itu sendiri. Tanaman masyarakat, seperti durian dan petai, sering dikonsumsi oleh orangutan sehingga masyarakat sering mengusir orangutan yang ada di kebunnya, hal ini mengakibatkan orangutan bisa menjadi stress bahkan mengakibatkan kematian,” papar Wanda.

Wanda memaparkan lebih lanjut bahwa konflik antara manusia dan Orangutan Tapanuli  akan tinggi pada daerah yang banyak ditemukan pohon pakan, aktivitas penebangan, dan rusaknya tanaman masyarakat, seperti di Daerah Bulu Mario, Aek Batang Paya, Aek Nabara sampai dengan daerah Marancar.

“Masyarakat akan mendukung program mitigasi konflik asalkan dapat program ini dapat bermanfaat juga untuk meningkatkan perekonomian mereka” tambahnya.

Pada kesempatan ini, Wanda juga menyampaikan berbagai macam strategi yang dapat ditempuh dalam mitigasi konflik, seperti optimalisasi perlindungan hutan konservasi. Pada wilayah KPH, disarankan pengayaan tumbuhan pakan, sedangkan pada lahan masyarakat, sebaiknya diadakan pembangunan koridor, pengembangan ekonomi alternatif dan revitalisasi kearifan lokal.

“Pemberian kompensasi juga dapat menjadi solusi jangka pendek pada masyarakat yang tanamannya dikonsumsi oleh orangutan, tentunya dengan kesepakatan bahwa mereka tidak akan mengusir orangutan dari kebunnya” kata Wanda.

Namun Wanda menilai mitigasi yang dilaksanakan akan lebih efektif jika ada dukungan dari berbagai pihak untuk dapat berkolaborasi secara aktif dalam pelaksanaannya. Kementerian LHK (Balai Besar KSDA Sumatera Utara), Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Lembaga Masyarakat harus berkolaborasi dalam penanggulangan konflik Orangutan Tapanuli.

“Pihak swasta dan LSM dapat menjadi mitra dalam mendukung penganggaran maupun pendampingan pada masyarakat,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Jito Sugarjito, ahli Orangutan senior dari Universitas Nasional Jakarta (UNJ), menyambut baik kelulusan ahli orangutan tapanuli pertama ini.

“Lahirnya Doktor baru di bidang Orangutan Tapanuli ini diharapkan dapat memotivasi para peneliti muda untuk melakukan berbagai topik riset satwa liar sebagai bagian dalam menjaga kelestarian Lansekap Batang Toru sebagai kekayaan alam yang tersisa di Sumatera Utara” ungkap Prof. Sugarjito. “Orangutan itu adanya di sini, ini adalah kesempatan untuk generasi muda menjadi ahli-ahli di negeri sendiri, sudah semestinya kita menjadi terdepan untuk mengelola aset bangsa kita, termasuk orangutan” ujarnya.

Sebagai informasi, Dr. Wanda Kuswanda sebelumnya memperoleh gelar S1-nya pada Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan meraih S2 pada Program Studi Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM).***

—–

Video Terkait:

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *