Balitbang LHK Aek Nauli

artikel penelitian

Model dan Potensi Integrated Agroforestry-Apiculture System untuk Danau Toba

Permasalahan degradasi Daerah Tangkapan Air Danau Toba bersifat multidimensi sehingga upaya pemulihannya memerlukan pendekatan holistik, integratif serta penegasan tentang pentingnya perencanaan strategis yang melibatkan peran aktif masyarakat. Peningkatan produktivitas lahan yang dapat mengembangkan sumber pendapatan alternatif masyarakat perlu diidentifikasi. Budidaya pertanian intensif maupun peningkatan efisiensi dan optimalisasi penggunaan lahan akan memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini model sistem agroforestry yang terintegrasi dengan budidaya lebah (Integrated Agroforestry Apiculture System –IAAS) dapat diajukan sebagai skema yang perlu dikembangkan.

(more…)

Litbang Aek Nauli Kembangkan Klon Unggul Kemenyan Toba

Salah satu skema pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang memiliki sejarah yang panjang serta menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat Tapanuli adalah penyadapan getah Kemenyan. Secara historis komoditas ini telah dibudidayakan sejak lama dan menjadi komoditas perdagangan antar bangsa di Nusantara sejak abad VI. Akan tetapi, penurunan jumlah populasi akibat penebangan, konversi dan penurunan produktivitas mengakibatkan produksi getah kemenyan semakin menurun setiap tahunnya. Umur tanaman yang sudah tua, belum menggunakan bibit unggul serta masih mengandalkan regenerasi alami yang rendah merupakan beberapa penyebab rendahnya produktivitas tersebut.

(more…)

Dukungan Litbang Bagi Pemulihan Danau Toba

Salah satu ekosistem yang menjadi perhatian serius berbagai pihak saat ini adalah Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Hal ini (terutama) terkait dengan penurunan fungsi ekosistem di satu sisi dan upaya pengembangan kawasan sebagai destinasi pariwisata dunia di sisi lainnya. Secara nyata, perhatian ditunjukkan Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Danau Toba pada rangkaian perayaan kemerdekaan RI bulan Agustus tahun lalu. Namun, tidak dapat dipungkiri Danau seluas 110 ribu ha dan daerah resapan seluas 280 ribu ha yang tersebar pada tujuh kabupaten (Karo, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi dan Samosir) telah mengalami penurunan fungsi. Hal ini tercermin dari kuantitas dan kualitas air yang menurun, serta peningkatan areal hutan dan lahan yang terdegradasi. Sejak tahun 1985 sekurangnya 16-30 ribu ha lahan hutan telah berubah tipe penutupan dan tergedradasi. Data ini tentu bisa diperdebatkan jika kita mempertimbangkan tipe penutupan awalnya, namun secara kasat mata proses degradasi terus berlangsung.

(more…)