Balitbang LHK Aek Nauli

Buah Harimonting, Makanan Sang Jenderal

Tahukah anda bahwa seorang Jendral asal Batak dimasa kanak-kanaknya memakan harimonting  dalam kesehariannya dikarenakan tidak memiliki uang untuk jajan? Si anak kecil yang malang ini bernama Tiopan Bernhard Silalahi atau yang kita kenal saat ini dengan nama TB. Silalahi. Tiopan kecil sering mengkonsumsi buah Harimonting sebagai makanan pengganjal perut. Hal itu dilakukan Tiopan kecil agar tetap bertahan di tengah kemiskinan yang membelit keluarganya. Saat menuntut ilmu di Sekolah Rakyat, Tiopan kecil sering mengalami kelaparan. Hanya makan sederhana untuk sarapan pagi, tanpa ada uang saku untuk jajan. Ia hanya menjadi penonton yang baik saat teman-temannya jajan makanan. Dengan terpaksa, Tiopan kecil hanya dapat menelan air liur. Tidak ada uang untuk membeli makanan. Tiopan kecil hanya mampu mengisi perutnya dengan buah Harimonting yang tumbuh liar di lereng gunung seputar Danau Toba. Pengalaman masa kecil TB. Silalahi ini dapat ditemukan di Yayasan TB. Silalahi Center Balige Sumatera Utara. Kelak Tiopan malang ini menjadi seorang perwira tinggi berpangkat terakhir bintang tiga, Letnan Jendral TNI (Purnawirawan).

Untuk membangkitkan kembali buah-buah lokal asal Sumatera Utara, maka Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli menggali informasi dari para pemangku adat dan masyarakat Batak tentang buah-buah hutan langka yang memiliki nilai historis. Saat ini buah-buah yang telah berhasil dikumpulkan dan dibuat perbanyakannya di rumah kaca Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, diantaranya buah Harimonting. Harimonting atau dalam bahasa latin disebut (Rhodomyrtus tomentosa) merupakan tanaman liar berkayu yang termasuk ke dalam famili Myrtaceae (jambu-jambuan). Di beberapa daerah, Harimonting mempunyai nama yang berbeda, antara lain Kalamunting (Pekanbaru), Harendong Sabrang (Jawa Barat) dan Harimonting (Sumatera Utara). Selain itu terdapat juga Rukam, Mobe, Andalehat, Antarasa, Kapundung, Tungir-tungir, Cintiran dan  Rambe. Pada adat Batak, selain dimanfaatkan buahnya, batang yang berasal dari pohon rukam ini dipercaya memiliki sifat magis. Batang rukam ini dipahat untuk dijadikan tongkat sakti para Raja Batak dan dapat digunakan untuk bertarung. Buah Mobe, Andalehat dan Antarasa merupakan buah-buahan yang juga dimanfaatkan untuk bumbu ikan mas yang digunakan pada upacara-upacara adat.

Mengingat banyaknya potensi  keanekaragaman hayati yang terdapat di sekitar kawasan DTA Danau Toba, buah buahan ini perlu di domestikasi agar dapat memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan akan pangan dan gizi masyarakat. Kegiatan domestikasi merupakan naturalisasi suatu jenis untuk memperbaiki budidaya dan pemanfaatannya. Hingga saat ini, kebutuhan pangan dan gizi masyarakat Indonesia belum dapat terpenuhi dari pangan yang tersedia. Diharapkan pemanfaatan buah-buahan lokal Batak ini dapat menjadi salah satu alternatif  untuk peningkatan  ketahanan gizi dan pangan serta mampu bersaing diantara serbuan buah-buah import.

Kontributor artikel      : Maskulino, Aswandi, Asep Sukmana, dan Cut Rizlani Kholibrina

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *