Balitbang LHK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli Gelar Pelatihan Penulisan Berita dan Artikel Populer

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Mei 2019)_”Lead atau teras merupakan komponen penting selain judul yang membuat suatu berita atau artikel populer menarik untuk dibaca atau tidak,” papar J. Anto, Editor Senior “Harian Analisa” yang menjadi Trainer dalam kegiatan Pelatihan Penulisan Berita dan Artikel Populer di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli pada tanggal 13 s/d 14 Mei 2019. “Lead dengan gaya bahasa yang menarik dan menggambarkan angle dari suatu berita atau artikel populer (dalam jurnalistik disebut opini) akan membuat orang menjadi tertarik dan penasaran untuk membaca lebih jauh,” tambahnya.

Kegiatan pelatihan yang dihadiri oleh peneliti, teknisi litkayasa, arsiparis, pustakawan, dan bakti rimbawan BP2LHK Aek Nauli ini bertujuan untuk meningkatkan  kualitas, kuantitas, dan jangkauan publikasi yang ditulis, khususnya dalam bentuk berita kegiatan dan hasil litbang. Kepala Seksi Data, Informasi, dan Kerjasama BP2LHK Aek Nauli, Ismed Syahbani, S.Hut, dalam sambutannya mewakili Kepala Balai menyampaikan bahwa selama ini kegiatan dan hasil litbang lebih banyak dipublikasikan dalam bentuk jurnal ataupun seminar ilmiah. Hal ini menyebabkan kegiatan dan hasil litbang tersebut kurang tersampaikan dan diketahui secara luas.

“Kalau dalam bentuk jurnal dan seminar ilmiah, tentu yang membaca dan mendengar hanya dari kalangan terbatas saja, seperti peneliti dan akademisi. Harapannya dengan pelatihan ini nantinya kegiatan dan hasil litbang di BP2LHK Aek Nauli dapat dipublikasikan melalui berita dengan bahasa yang menarik, mudah dimengerti dan bisa tersampaikan secara luas ke berbagai kalangan masyarakat, sehingga BP2LHK Aek Nauli dapat diapresiasi dan semakin dikenal,” ujar Ismed.

Materi yang dipaparkan Anto dalam pelatihan adalah yang pertama tentang pengenalan artikel opini, yang meliputi definisi dan unsur, mengail ide tulisan, angle (gagasan utama), membingkai tulisan, dan bodi tulisan. Sedangkan materi yang kedua tentang pengenalan berita, yang meliputi jenis berita, nilai berita, kelengkapan berita (5w + 1h), angle, dan struktur berita (judul, teras, bodi berita).

“Dari berita yang saya baca di website BP2LHK Aek Nauli, umumnya berita dimulai dengan teknik penulisan deduktif (umum ke khusus), harusnya itu induktif (khusus ke umum) dan juga angle beritanya belum terumuskan dengan baik, jadi kita akan coba belajar bagaimana yang seharusnya,” jelas Anto.

Sebagai praktik, peserta pelatihan diminta untuk mencoba membuat lead dan judul yang menarik dari sebuah tulisan yang pernah peserta terbitkan di jurnal ilmiah. Selanjutnya peserta pelatihan diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil lead dan judul yang telah dibuat tersebut untuk dibahas bersama bagaimana menyempurnakannya.

Peserta terlihat semangat dan antusias dalam mengikuti pelatihan ini. Salah seorang peneliti, Ahmad Dany Sunandar, S.Hut, M.Si menyampaikan bahwa penulisan ilmiah yang biasanya dilakukannya diawali dengan penulisan pendahulan bukan lead. Dany baru tahu kalau dalam artikel populer, lead terlebih dahulu ditulis baru isinya. Sedangkan peneliti lain, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc mempertanyakan apakah dalam menyusun lead, anglenya harus selalu bersentuhan dengan nilai ekonomi langsung, karena dalam bidang konservasi cukup sulit menyusun tulisan yang bermanfaat ekonomi langsung untuk masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Anto menjelaskan bahwa dalam jurnalistik tulisan harus terkini, perlu, dan jelas. Tulisan jurnalistik punya keterbatasan ruang, sehingga berita ditulis dari hal yang khusus dulu, agar nanti ada bagian bisa dipotong redaktur jika terlalu panjang dan tidak penting. Selain itu konteks artikel opini di media massa, biasanya penulis itu menulis dulu baru melihat. Dalam pikirannya sudah ada kerangka, makanya selalu lead ditulis terlebih dahulu. Anto juga menyebutkan bahwa angle tulisan yang ada dalam lead tidak hanya segi ekonomi, tapi bisa juga dari sisi lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat, kesehatan, dan juga manfaat pendidikan dan penelitian.

“Awal menulis berita dan artikel populer memang terasa susah, tapi kalau kita sudah terbiasa, kita akan semakin paham dari awal apa kekurangan dan apa yang menjadi daya tarik dari tulisan kita. Saya yakin semuanya bisa, terutama peneliti yang sudah biasa menulis di jurnal, Selamat Mencoba,” pungkas Anto diakhir acara.***DCP & MB

Bagikan ini di:

930total visits,6visits today

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *