Balitbang LHK Aek Nauli

Bambu di Arboretum BP2LHK Aek Nauli (Bagian 1)

Oleh: Edy Julianto, S.Hut. (Teknisi Litkayasa Penyelia)

Bambu hitam

Bambu merupakan tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Tumbuhan jenis ini memiliki nama lain yaitu buluh, aur, dan eru. Bambu salah satu jenis tanaman yang pertumbuhannya paling cepat karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik. Dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60 cm (24 inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat tumbuh (Farrelly, 1984).

Pada kawasan Arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli terdapat 9 jenis bambu. Bambu ini diperkirakan berumur sekitar 21 tahun (tahun tanam 1997). Jenis-jenis bambu yang terdapat di kawasan Arboretum BP2LHK Aek Nauli, yaitu:

Bambu kuning

1. Bambu hitam/tropical black bamboo/Gigantochloa atroviolacea

Bambu itam biasanya digunakan untuk membuat alat musik, furnitur, dan perkakas rumah tangga.

2. Bambu kuning/bambu ampel/bambu aur/Bambusa vulgaris var striata

Bambu jenis ini banyak dibudidayakan di kawasan Asia Tenggara, sering dijumpai di desa-desa, di pinggir-pinggir sungai, dan sebagai tanaman hiasan di perkotaan (Andoko, 2008). Bambu kuning dapat diperbanyak dengan cara stek (rhizoma, rumpun, atau cabang), cangkok, dan kultur jaringan. Cara termudah dan sering dilakukan adalah stek rumpun atau cabang. Umumnya, rumpun yang akan distek adalah rumpun yang tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua. Rebusan pada bambu ini mengandung saponin dan flavonoida. Tidak hanya itu, bambu kuning ini mengandung sumber potassium yang rendah kalori, serta memiliki rasa manis yang terkenal sebagai sumber protein dan nutrisi yang baik bagi tubuh. Bambu ini memiliki khasiat mengobati bermacam jenis infeksi dan pencegah hepatitis (Sari, dkk., 2008).

Bambu suraton

3. Bambu suraton/bambu gombong/Gigantochloa pseudoarundinacea

Jenis bambu ini berukuran besar hingga sedang, pemanfaatnya sebagai bahan bangunan, pipa air, membuat perlengkapan rumah tangga seperti furnitur, balai-balai, dan perkakas lain, termasuk anyam-anyaman dan keranjang (Widjaja, 1987) serta untuk membuat alat-alat musik tradisional. Dalam industri, buluhnya dipakai sebagai bahan baku sumpit dan tusuk gigi (Widjaja, 1995).

4. Bambu butar/Gigantochloa sp.

Bambu jenis ini dapat tumbuh hingga 35 m. Batangnya kuat, daun berbentuk lanset, dan berbulu ringan di pangkal dekat tangkai daun. Bambu jenis ini cocok untuk pemrosesan teknologi rendah, industri furnitur, dan sebagai bahan bangunan.

Bambu cina

5. Bambu cina/Bambusa multiplex

Bambu cina kemungkinan berasal dari wilayah Indochina dan Tiongkok Selatan, akan tetapi kini telah menyebar di berbagai negara di wilayah tropis, termasuk Asia Tenggara. Bambu cina dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, hingga ketinggian 1.500 m dpl.

Bambu jenis ini disukai dan kerap ditanam sebagai pagar halaman atau kebun. Buluhnya yang besar dipakai sebagai tangkai payung atau joran pancing. Di Indonesia dan Thailand, buluh ini juga digunakan untuk bahan anyaman. Di Filipina, buluhnya telah dicoba dimanfaatkan sebagai pulp bahan kertas. Di Taiwan, bambu ini dipakai sebagai penghalang angin. Kultivar-kultivar berbatang pendek sering dipelihara sebagai tanaman pot yang menarik (Dransfield dan Widjaja, 1995).

Bambu lemang

6. Bambu lemang/bambu talang/Schizostachyum brachycladum

Buluh bambu lemang dipakai untuk berbagai kegunaan misalnya untuk membuat langit-langit penutup atap (di Toraja), tabung air (Tahang), kerajinan tangan, penopang tanaman, wadah (gelas) untuk minum tuak, dan sebagai wadah untuk membuat lemang. Di Bali dan Toraja, bambu jenis ini dipakai dalam upacara kematian (yakni dalam ngaben di Bali). Jenis yang berwarna kuning banyak dipakai sebagai tanaman hias. Bambu lemang juga ditanam di lahan-lahan miring di Sabah untuk mencegah longsor. Rebungnya dapat dimakan meski agak pahit rasanya (Dransfield, 1995).

Bambu betung

7. Bambu betung/Dendrocalamus asper

Bambu betung memiliki banyak manfaat, utamanya digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu struktural untuk konstruksi pelbagai bangunan: tiang rumah, andang-andang perahu, rangka gudang tembakau, jembatan dan titian, perancah, dan lain-lain (Heyne, 1987). Buluhnya yang tebal umumnya dianggap kuat dan awet; pada kadar air 8% kerapatan kayunya antara 0,7-0,8 g/cm³. Pada kadar air 15%, keteguhan patah bambu betung adalah 103 N/mm²; keteguhan tekan sejajar arah serat 31 N/mm²; dan keteguhan gesernya 7,3 N/mm² (Brink, 2008).

Pemanfaatan lain diantaranya untuk semah-semah perahu, tahang air atau nira, saluran air, alat musik, furnitur, peralatan rumah tangga dan kerajinan, papan laminasi, bubur kertas, sumpit, tusuk gigi, serta aneka kegunaan lainnya. Rebungnya yang besar dan manis disukai orang untuk dibuat acar atau masakan lain. Mutu rebung ini dianggap yang terbaik dibandingkan dengan rebung bambu jenis lain, termasuk jika dikalengkan.

Bambu duri

8. Bambu duri/bambu tutul/bambu duri besar/Bambusa blumeana

Buluh bambu duri yang tebal dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, termasuk untuk konstruksi, tiang-tiang penopang, cerocok, parket; juga untuk membuat furnitur, perkakas dapur, mainan, anyam-anyaman (keranjang kasar hingga topi), dan sumpit. Buluh bambu duri memiliki kerapatan sebesar 500 kg/m³ pada kadar air 15%. Tanpa pengawetan, bambu ini hanya bertahan 2-5 tahun pada penggunaan di bawah atap, 1-3 tahun di luar ruangan, dan 6 bulan atau kurang apabila terendam air laut. Buluhnya dapat pula diolah menjadi bubur kayu (pulp) yang cukup baik untuk membuat kertas. Buluh yang kering dimanfaatkan sebagai kayu bakar (Roxas, 1995).

Manfaat lain dari rebung jenis ini yaitu dapat dimakan sebagai sayuran. Selain itu, daun-daun dan rantingnya yang muda untuk pakan ternak. Rumpun bambu duri juga ditanam orang untuk melindungi sempadan sungai dari erosi, sebagai tanaman penahan angin, sebagai tanda batas lahan, sebagai pagar hidup untuk melindungi kebun, dan sebagai pagar atau benteng pertahanan kampung di masa lalu.

Bambu ampel

9. Bambu ampel/bambu aur/Bambusa vulgaris var striata

Buluh bambu apel tak begitu lurus. Jenis ini adalah yang terbanyak dipakai di antara aneka jenis bambu untuk memenuhi berbagai keperluan diantaranya tiang layar, kemudi, semah-semah perahu, pikulan, penopang, dan pagar serta untuk kasau dan tiang rumah. Bambu ini kurang tahan akan serangan kumbang bubuk dan hanya dipakai untuk bahan bangunan jikalau bahan lain yang lebih baik tidak tersedia.

Pemanfaatan lain dari buluhnya yaitu dipakai untuk membuat sisir tradisional dan koteka (di Papua). Bambu ini juga banyak dipakai dalam industri furnitur dan dari buluhnya dihasilkan bubur kayu (pulp) yang baik untuk membuat kertas. Rebungnya dimakan orang sebagai sayuran serta air rebusan rebung bambu kuning dipakai untuk mengobati hepatitis.

 

Referensi

Andoko, A. 2008. Budidaya Bambu Rebung. Yogyakarta: Kansius.

Brink, M. 2008. “Dendrocalamus asper” in D. Louppe, A. A. Oteng-Amoako, & M. Brink (Eds.) Plant Resources of Tropical Africa. Timbers. 7(1):218-20. Wageningen:PROTA Foundation).

Dransfield, S. 1995. “Schizostachyum brachycladum Kurz” in Soejatmi Dransfield & E. A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia. Bamboos. 7:132-3. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. [Diakses pada 13 Mei 2016].

Dransfield, S dan E. A. Widjaja. 1995. “Bambusa multiplex (Lour.) Raeuschel ex J. A. & J. H. Schultes” in Soejatmi Dransfield & E. A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia. Bamboos. 7:65-7. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. [Diakses pada 13 Juni 2016].

Farrelly, D. 1984. The Book of Bamboo. Sierra Club Books. ISBN 087156825X.

http://www.bambooweb.info

https://www.edenproject.com/learn/for-everyone/plant-profiles/bamboo

Roxas, C. A. 1995. “Bambusa blumeana J.A. & J.H. Schultes” in Soejatmi Dransfield & E. A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia. Bamboos. 7:60-4. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. [Diakses pada 13 Februari 2017].

Sari, Wening, L. Indrawati, dan Oei Gin Djing. 2008. Care Yourself Hepatitis. Jakarta: Penerbit Plus.

Widjaja, E. A. 1987. A revision of Malesian Gigantochloa (Poaceae-Bambusoideae). Reinwardtia. 10(3):323.

Widjaja, E. A. 1995. “Gigantochloa pseudoarundinacea (Steudel)” in Soejatmi Dransfield & E. A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia. Bamboos. 7:116-8. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. [Diakses pada 22 April 2016].

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *