Balitbang LHK Aek Nauli

Asap Cair dan Arang Kompos dari Limbah Pakan Gajah

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Januari 2019)_Sebagai instansi yang tidak hanya dituntut mempunyai output litbang dalam bentuk jurnal ilmiah, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli juga semakin gencar untuk menghasilkan produk-produk hasil litbang unggulan yang tepat guna dan langsung bisa dimanfaatkan masyarakat. Diantara produk yang dihasilkan adalah asap cair dan arang kompos. Dalam beberapa bulan terakhir BP2LHK Aek Nauli sudah menghasilkan asap cair dan arang kompos dari berbagai jenis bahan baku, seperti kayu pinus, bungur, sampinur, agathis, atur mangan, dan tempurung kelapa.

Manfaat asap cair yaitu bisa dijadikan alternatif sebagai bahan pengawet makanan pengganti formalin maupun desinfektan. Selain itu, asap cair ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, menguatkan perakaran, mencegah hama dan penyakit menyuburkan tanaman, meningkatkan kualitas dan memperbanyak buah mengobati penyakit kulit, dll. Sedangkan arang kompos dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme pada tanah. Hal ini dikarenakan arang dapat meningkatkan pH tanah hingga normal (netral) sehingga tanah menjadi subur.

Waktu pembakaran yang digunakan untuk menghasilkan asap cair biasanya adalah 7-8 jam. Untuk mendapatkan produk asap cair dan arang yang baik, pembakaran harus dilakukan dengan memperhatikan, waktu, kadar air, tekanan, suhu, dan jarak atau jumlah lubang didalam alat pembakaran, serta yang terpenting adalah bahan bakunya.

Secara umumnya yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan asap cair dan arang kompos adalah bambu dan kayu, baik kayu yang bergetah ataupun tidak. Hanya saja jenis kayu yang bergetah lebih banyak menghasilkan ter/getah didalam asap cairnya yang dihasilkan. Kadar air bahan juga perlu diperhatikan, karena bahan baku yang memiliki kadar air tinggi akan menghasilkan lebih banyak asap cair dibandingkan arang. Namun sebaliknya, jika kadar air bahan baku rendah, maka akan menghasilkan arang yang lebih banyak.

Jika ingin menghasilkan arang dengan kualitas yang bagus, yang perlu diperhatikan adalah lubang di dalam tungku pembakaran, umumnya diameter lubang adalah 1 cm. Tungku pembakaran yang digunakan BP2LHK Aek Nauli mampu menampung 50 kg bahan baku. Yang umumnya dapat menghasilkan 30% rendemen baik untuk asap cair maupun arang.

Rabu (10/1/2019), Teknisi BP2LHK Aek Nauli, Pidin Mudiayana, A.md dan Marjono yang dibantu Jun Sinaga kembali melakukan pembuatan asap cair dan arang kompos yang kali ini menggunakan bahan baku limbah pelepah sawit sisa pakan gajah di ANECC sebanyak 32 kg, dimana limbah pelepah sawit sisa pakan gajah ini sudah semakin menumpuk dan perlu diolah agar tidak meimbulkan pencemaran dan penyakit.

“Pengitungan berat awal bahan sangat perlu dilakukan untuk mengetahui rendemen yang akan dihasilkan, baik asap cair maupun arang. Untuk jadi arang, pelepah sawit ini mungkin proses pembakarannya agak lebih lama dibanding biasanya, karena kadar air nya yang tinggi” tutur Pidin.

Setelah bahan pelepah sawit siap, proses berikut yang dilakukan adalah penyiapan alat yang berupa adalah tungku pemasakan bahan baku, alat destilator yang didalamnya terdapat pendingin dan pipa, tempat penampungan asap cair tahap 1 dan penampungan asap cair tahap akhir, tong pendingin, serta cerobong asap limbah.

Setelah pelepah tersusun rapi, tungku pembakaran bahan baku ditutup kecuali cerobong asap pembakaran dan kontrol tungku pembakaran. Kemudian dilakukan pembakaran menggunakan kayu bakar. Tahap awal pembakaran adalah menggunakan api yang besar. Kemudian, ketika kayu mulai terbakar dilihat dari asap yang keluar, api mulai dikecilkan secara bertahap. Alat pembakaran BP2LHK Aek Nauli yang digunakan belum menggunakan pengaturan suhu dan tekanan. Sehingga hanya melakukan pengamatan visual saja.

Ketika sudah memakan waktu 10 menit pembakaran, maka cerobong asap dan kontrol tungku harus ditutup rapat. Diusahakan seminimum mungkin asap tidak keluar. Sehingga asap seluruhnya dapat masuk menuju ruang destilasi. Pengambilan asap cair tahap 1 sudah dapat dilakukan sekitar 20-25 menit setelah pembakaran. Dimana asap cair yang dihasilkan umumnya masih tercampur dengan ter yang harus disaring dulu supaya murni. Setelah 8 jam pembakaran, asap cair diambil secara keseluruhan.

“Hasil pembakaran selama 16 jam dan dengan bahan baku pelepah sawit sebanyak 32 kg, asap cair yang dihasilkan adalah 9,4 liter. Warna asap cair pelepah sawit ini kekuningan, jauh beda dengan asap cair dari bahan kayu lain yang coklat kehitaman. Untuk arangnya kita dapatkan hanya sebanyak 0,6 kg dan abu 0,7 kg. Hal tersebut mungkin karena disebabkan struktur penyusun dan kandungan zat dalam kayunya yang berbeda” jelas Pidin.

Produk Asap cair dan arang kompos serta peralatan pembuatannya merupakan hasil litbang unggulan yang dikembangkan pertama kali oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH), Badan Litbang dan Inovasi. Pada tahun 2017 BP2LHK Aek Nauli mengirimkan dua orang Teknisi Litkayasa ke P3HH untuk belajar dan mengadopsi mengenai proses pembuatan asap asap cair dan arang kompos tersebut. Akhir 2018 lalu BP2LHK Aek Nauli sudah punya peralatan dan bisa memproduksi asap cair dan arang kompos sendiri. Harapannya semoga BP2LHK Aek Nauli bisa ikut dan meneruskan peran dari P3HH untuk memberi manfaat kepada masyarakat, khususnya di Sumatera Utara.***DCP/NNN/JL

Bagikan ini di:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *